Minggu, 12 Juni 2011

MORFOLOGI TUMBUHAN

skip to main | skip to sidebar

sains

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Tumbuhan merupakan salah satu penopang hidup manusia yang sangat penting. Di samping itu, tumbuhan juga memiliki peranan yang sangat penting untuk perkembangan mahluk hidup. Untuk itu mahasiswa yang mempelajari ilmu sains diharapkan bisa meneliti morfologi dari pada berbagai jenis tumbuhan..
Dari permasalahan di atas, mahasiswa diharapkan bisa membahas tentang pengamatan di lapangan tentang morfologi daun, batang dan akar.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, kami akan menyampaikan hal-hal yang berhubungan dengan morfologi daun, batang dan akar. Adapun masalah-masalah yang kami sampaikan adalah:
1. Apa saja tanaman-tanaman yang diamati ?
Bagaimana bentuk morfologi dan filotaksis daun, batang dan akar pada tanaman tertentu ?
3. Bagaimana perbedaan morfologi tumbuhan dikotil dan monokotil ?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.1 Mahasiswa bisa mengenal berbagai jenis tumbuhan.
1.2 Mahasiswa dapat mendeskripsikan secara morfologis dan filotaksis, berbagai jenis tumbuhan yang di jumpai.
1.3 Mahasiswa dapat mengklasifikasikan tumbuhan yang diamati sesuai dengan system tata nama (nomenclature) tumbuhan.
1.4 Mahasiswa mampu mengkomunikasikan hasil pengamatan yang dilakukan, baik secara lisan maupun tulisan dengan membuat makalah.
1.5 Mahasiswa mempunyai keterampilan sosial (sosial skills) seperti: ketermpilan bekerja dalam kelompok, keterampilan melakukan observasi, dan ketermpilan berkomunikasi lisan dan tulisan.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang didapat dalam mengadakan observasi di areal kampus adalah:
1.1 Mendapat pengalaman dan ilmu selama melakukan observasi.
1.2 Menemukan dan melihat secara langsung tumbuhan yang ada di areal kampus.
1.3 Mampu mengklasifikasikan morfologi dan filotaksis tumbuhan yang ditemukan.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Morfologi Tanaman Bayam

Nama latin: (Amarantus Spec div)
System pucuk: Terdapat batang dan daun yang deluk pada buku atau internodus. Pada ketiak muncul kuncup aksilar dan pada ujung muncul kuncup internal.
System akar: Tunggang atau dikotil.
Deskripsi tanaman: Tanaman bayam termasuk semak, berbatang tegak, bentuk bulat, warna hijau kekuningan. Daun tunggal, berseling, bentuk bulat telur (ovatus), tepi rata (integer), ujung runcing (acutus), pangkal tumpul, warna hijau muda sampai hijau kekuningan. Perbungaan bentuk malai, melekat di ketiak daun, kelopak berbagi lima, mahkota bunga berwarna hijau keunguan. Buah batu, biji bulat, mengkilat, warna coklat kehitaman
Habitat: Tumbuh liar dan sebagai tanaman budidaya, sebagai sayuran, hidup pada tanah lembab pada dataran rendah hingga 900 M di permukaan laut.


2.2 Morfologi Tanaman Tomat

Nama latin: (Solanum lycopersicum L. )
System pucuk: Terdapat batang atau daun yang melekat pada buku atau internodus, termasuk daun majemuk menyirip gasal, tidak sempurna. Bunga tumbuh di ketiak, kuncup aksiler yang merupakan bunga sempurna karena terdapat putik dan benang sari sehingga dapat langsung terjadi pembuahan. Bisa juga pada ujung batang terdapat kuncup terminal.
System akar: Tunggang atau dikotil.

Deskripsi tanamam : Tanaman tomat berasal dari Amerika tropis, ditanam sebagai tanaman buah di ladang, pekarangan, atau ditemukan liar pada ketinggian 1--1600 m dpl. Tanaman ini tidak tahan hujan, sinar matahari terik, serta menghendaki tanah yang gembur dan subur. Terna setahun ini tumbuh tegak atau bersandar pada tanaman lain, tinggi 0,5--2,5 m, bercabang banyak, berambut, dan berbau kuat. Batang bulat, menebal pada buku-bukunya, berambut kasar warnanya hijau keputihan. Daun majemuk menyirip, letak berseling, bentuknya bulat telur sampai memanjang, ujung runcing (acutus), pangkal membulat, helaian daun yang besar tepinya berlekuk, helaian yang lebih kecil tepinya bergerigi, panjang 10--40 cm, warnanya hijau muda. Bunga majemuk, berkumpul dalam rangkaian berupa tandan, bertangkai, mahkota berbentuk bintang, warnanya kuning. Buahnya buah buni, berdaging, kulitnya tipis licin mengkilap, beragam dalam bentuk maupun ukurannya, warnanya kuning atau merah. Bijinya banyak, pipih, warnanya kuning kecokelatan. Buah tomat bisa dimakan langsung, dibuat jus, saus tomat, dimasak, dibuat sambal goreng, atau dibuat acar tomat. Pucuk atau daun muda bisa disayur. Buah tomat yang umum ada di pasaran bentuknya bulat. Yang berukuran besar, berdaging tebal, berbiji sedikit, dan berwarna merah disebut sebagai tomat buah. Tomat jenis ini biasa disantap segar sebagai buah. Yang berukuran lebih kecil dikenal sebagai tomat sayur karena digunakan di dalam masakan. Yang kecil-kecil sebesar kelereng disebut tomat ceri dan digunakan untuk campuran membuat sambal atau dalam hidangan selada.
Habitat: Sebagai tanaman budidaya, sebagai campuran sambal, hidup pada tanah lembab pada dataran rendah hingga 900 M di permukaan laut.

2.3 Morfologi Tanaman Padi

Nama latin: (Oryza sativa)
System pucuk: Terdapat batang dan daun yang melekat pada buku atau internodus. Pada ujung batang keluar kuncup atau bunga terminal. Bunga ini terdapat putik dan benang sari sehingga dapat terjadi pembuahan, bunga akan menjadi buah.
System akar: berakar serabut atau monokotil.
Deskripsi tanamam : Tanaman padi termasuk dalam suku padi-padian atau Poaceae (sinonim Graminae atau Glumiflorae). Sejumlah ciri suku (familia) ini juga menjadi ciri padi, misalnya
• daun berbentuk lanset (sempit memanjang),
• urat daun sejajar,
• tepi daun rata (integer),
• ujung daun runcing (acutus),
• permukaan daun kasar dan berbulu,
• memiliki pelepah daun,
• bunga tersusun sebagai bunga majemuk dengan satuan bunga berupa floret,
• floret tersusun dalam spikelet, khusus untuk padi satu spikelet hanya memiliki satu floret,
• buah dan biji sulit dibedakan karena merupakan bulir (Ing. grain) atau kariopsis.
Habitat: Sebagai tanaman budidaya, sebagai makanan pokok, hidup pada tanah lembab dan becek pada dataran rendah hingga 100 M di permukaan laut.

2.4 Morfologi Tanaman jagung

Nama latin: (Zea mays L.)
System pucuk: Terdapat batang ,daun yang duduk atau melekat pada internodus. Jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu tanaman (monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas bunga dari suku Poaceae, yang disebut floret. Pada jagung, dua floret dibatasi oleh sepasang glumae (tunggal: gluma). Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol. Tongkol tumbuh dari buku, di antara batang dan pelepah daun.
System akar: berakar serabut atau monokotil.
Deskripsi tanamam : Tanaman jagung adalah tanaman semusim. Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif.
Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung umumnya berketinggian antara 1m sampai 3m, ada varietas yang dapat mencapai tinggi 6m. Tinggi tanaman biasa diukur dari permukaan tanah hingga ruas teratas sebelum bunga jantan. Meskipun beberapa varietas dapat menghasilkan anakan (seperti padi), pada umumnya jagung tidak memiliki kemampuan ini. Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang, merupakan bangun pita (ligulatus), ujung daun runcing (acutus), tepi daun rata (integer), Antara pelepah dan helai daun terdapat ligula. Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut. Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung umumnya berketinggian antara 1m sampai 3m, ada varietas yang dapat mencapai tinggi 6m. Tinggi tanaman biasa diukur dari permukaan tanah hingga ruas teratas sebelum bunga jantan. Meskipun beberapa varietas dapat menghasilkan anakan (seperti padi), pada umumnya jagung tidak memiliki kemampuan ini.
Morfologi pokok jagung :
1. Jagung adalah tanaman semusim yang mengambil masa lebih kurang 3 bulan untuk matang.
2..Akar sokong pada pangkal batang menolong menyokong pokok.
3. Batang runggal, berbentuk silinder, panjang dan ditutupi dengan upih daun dan mempunyai buku yang lebih rapat dekat pada pangkal.
4. Daun tirus dan panjang dengan urat yang selari.
5. Rambut jagung (jambak bunga jantan) yang terdapat di hujung batang pokok menghasilkan biji-biji debunga sebelum bunga betina matang.
6. Tongkol yang terdapat di ketiak daun pokok matang mengandungi biji benih jagung.
7. Jambak bunga betina (stil) yang panjang dan berupa sutera terdapat di tongkol muda dan menerima cepu bunga jantan.
8. Pembuahan adalah dibantu oleh angin.
9. Biji atau kernal mengandungi tiga bahagian yaitu, perikarpa, endosperma dan embrio.

Habitat: Tanaman jagung sebagai tanaman budidaya, sebagai sayuran, hidup pada tanah lembab pada dataran rendah hingga 500 M di permukaan laut.
2.5 Klasifikasi Tanaman Menurut Klasifikasi Tradisional dan Klasifikasi Raunkier
NO Spesies Tumbuhan Bentuk Hidup
Klasifikasi Tradisional Klasifikasi Raunkier Keterangan
1 Adenium Semak Nanofanerofit Tinggi 0,25 - 2 m
2 Kamboja Pohon Kecil Mesofanerofit Tinggi 7,5 - 30 m
3 Melati Air Herba Hidrofit Hidup di air
4 Kembang sepatu Semak Nanofanerofit Tinggi 0,25 - 2 m
5 Mangga Pohon Kecil Mesofanerofit Tinggi 7,5 - 30 m
6 Cokelat Pohon Kecil Mikrofanerofit Tinggi 2 - 7,5 m
7 Kopi Pohon Kecil Nanofanerofit Tinggi 0,25 - 2 m
8 Pisang Terna Terofit Tinggi 2 – 4 m
9 Alpukat Pohon Mesofanerofit Diameter .> 40 cm
10 Jambu Biji Pohon Kecil Mesofanerofit Tinggi 7,5 - 30 m
11 Kelapa Pohon Mesofanerofit Diameter .> 40 cm
12 Nangka Pohon Megafanerofit Diameter .> 40 cm
13 Cempaka Pohon Kecil Mesofanerofit Tinggi 7,5 - 30 m
14 Melinjo Pohon Kecil Mesofanerofit Tinggi 7,5 - 30 m
15 Mengkudu Pohon Kecil Mesofanerofit Tinggi 7,5 - 30 m
16 Durian Pohon Mesofanerofit Diameter .> 40 cm
17 Cabai Semak Nanofanerofit Tinggi 0,25 - 2 m
18 Melon Herba Terofit Tinggi 0,25 - 2 m
19 Tomat Herba Terofit Tinggi 0,25 - 2 m
20 Blimbing Pohon Kecil Mikrofanerofit Tinggi 2 - 7,5 m
2.6 Perbedaan Tumbuhan Dikotil dan Monokotil
(1) Perbedaannya;
NO Bagian Tumbuhan Dikotil Monokotil
1 Bentuk akar Memiliki sistem akar tunggang Memiliki sistem akar serabut
2 Bentuk sumsum atau pola tulang daun Menyirip atau menjari Melengkung atau sejajar
3 Kaliptrogen / tudung akar Tidak terdapat ada tudung akar
Ada tudung akar / kaliptra
4 Jumlah keping biji atau kotiledon Ada dua buah keping biji satu buah keping biji saja
5 Kandungan akar dan batang Ada kambium Tidak terdapat kambium
6 Jumlah kelopak bunga Biasanya kelipatan empat atau lima Umumnya adalah kelipatan tiga
7 Pertumbuhan akar dan batang
Bisa tumbuh berkembang menjadi membesar Tidak bisa tumbuh berkembang menjadi membesar
8 Batang Bercabang, tidak beruas-ruas Tidak bercabang, tetapi berruas-ruas
(2). Manfaat mempelajari bentuk hidup suatu tumbuhan adalah kita dapat mengklasifikasikan dan membandingkan struktur komunitas, misalnya; Struktur dikotil dan monokotil, jenis-jenis tumbuhan, dan manfaat dari pada tumbuhan tersebut bagi kehidupan manusia.
(3). Perbedaan antara Klasifikasi Tradisional dengan Klasifikasi Raunkier:
A. Klasifikasi Tradisional di dasarkan atas macam batangnya.
B. Klasifikasi Raunkier di dasarkan atas jarak antaara permukaan tanah dan posisi tinggi kuncup-kuncup yang membawa tumbuhan pada musim yang tidak menguntungkan.

2.7 Morfologi Daun Jeruk Bali
Klasifikasi :
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Sapindales
Famili : Rutaceae
Genus : Citrus
Spesies : Citrus grandis
Nama dagang/nama umum :Jeruk Bali
Dalam klasifikasi tradisional Jeruk Bali termasuk pohon kecil, dan dalam klasifikasi Raunkier, termasuk Mikrofanerofit (tumbuhan di udara).
Deskripsi tanamam : Tumbuhan jeruk mempunyai bentuk helaian daun bangun ovalis, ujung helaian daun tumpul (serratus), tepi helaian daun beringgit (crenatus), pangkal helaian daun meruncing, tekstur daun tebal, permukaan daun licin (lacvis) dan mengkilap (nitidus), daun tunggal menyirip, termasuk bangun daun tidak lengkap.
Batang ( caulis ) : Tanaman citrus memiliki batang yang tergolong dalam batang berkayu ( lignosus ), yaitu batang yang biasanya keras dan kuat, karena sebagian besar terdiri dari kayu. Batangnya berbentuk bulat ( teres ), berduri ( spinosus ) pendek, kaku dan juga tajam. Selain itu arah tumbuh batangnya mengangguk ( nutans ), dimana batangnya tumbuh tegak lurus ke atas tetapi ujungnya lalu membengkok kembali ke bawah.
System akar: Tunggang atau dikotil.
Bunga jeruk bali majemuk ( inflorescentia ), tersusun dalam malai yang keluar dari ketiak daun, bunga berbentuk bintang, diameter 1.5 - 2.5 cm, berwarna putih, baunya harum.
Jeru Bali mempunyai rumus daun 2/5.


2.8 Morfologi Daun Kamboja (Jepun)
Klasifikasi :

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Apocynales
Famili : Apocyanaceae
Genus : Plumeria
Spesies : Plumeria acuminate Ait.


Nama dagang/nama umum :Kamboja, Kamoja
Dalam klasifikasi tradisional Kamboja termasuk pohon kecil, dan dalam klasifikasi Raunkier, termasuk Mesofanerofit (tumbuhan di udara).
Deskripsi tanamam : Tanaman kamboja mempunyai pohon dengan tinggi batang 1,5 sampai 6 m, bengkok dan mengandung getah. Tumbuhan asal Amerika ini biasanya ditanam sebagai tanaman hias di pekarangan, taman. Tumbuh di daerah dataran rendah 1 sampai 700 m di atas permukaan laut. Rantingnya besar, daun berkelompok rapat pada ujung ranting, bertangkai daun panjang, daun memanjang berbentuk lanset (lanccolatus), panjang daun 20-40 cm, lebar 6-12,5 cm. Ujung daun meruncing (acuminatus), pangkal daun menyempit , tepi daun rata (integer), tulang daun menyiri, permukaan daun kasap (scaber), warna daun hijau muda sampai hijau tua tidak berbulu. Termasuk bangun daun tidak lengkap. Bunga dalam malai rata berkumpul di ujung ranting, kelopak kecil ,sisi dalam tanpa kelenjar, mahkota berbentuk corong, sisi dalam berembut, sisi luar kemerahan atau putih, sisi dalam agak kuning , putih, atau merah, berbau harum. Tangkai putik pendek, tumpul, lebar, bakal buah satu atau dua, saling berjauhan, berbentuk tabung gepeng memanjang, panjang 18-20 cm, lebar 1-2 cm.
Batang ( caulis ) : Batang kamboja berkayu dengan warna putih kekuning-kuningan dibungkus kulit yang tebal.
System akar: Tunggang atau dikotil.
Kamboja mempunyai rumus daun 3/8.


2.9 Morfologi Daun Andong
DAUN ANDONG (Cordyline Frusticosa)
Kasifikasi :
• Divisi: Spermatophyta
• Sub divisi: Angiospermae.
• Kelas: Monocotyledoneae
• Bangsa: Liliales
• Suku: Liliaceae.
• Marga: Cordyline
• Jenis: Cordyline frusticosa (L) A. CheV

Dalam klasifikasi tradisional Andong termasuk perdu, dan dalam klasifikasi Raunkier, termasuk Kamefit (tumbuhan permukaan tanah).

Deskripsi tanamam : . Daun andong termasuk daun tunggal dan, Dengan bentuk daun memanjang (oblongus), daun menempel pada batang, pangkal daun dan ujung daun runcing (acutus), tepi daun rata (integer), permukaan daun licin (lacvis), panjang daun 20-60 cm, lebar daun 10-13 cm, panjang pelepah 5-10 cm, pertulangan daun menyirip, warna daun hijau kemerahan, termasuk daun lengkap. Bunga majemuk, di ketiak daun, tangkai panjang, bulat bercabang dan daun pelindung panjang kurang lebih 1,4 cm.

Batang ( caulis ) : Batang andong bulat, keras, bercabang, putih kotor, bekas dudukan daun nampak jelas.
System akar: berakar serabut atau monokotil.
Andong mempunyai rumus daun 5/13.


1. Fenomena perkembangan daun;

Fenomena adalah, mula-mula meristem afeks daun aktif sehingga daun bertambah tinggi setelah aktivitas meristem afeks mereda, maka meristem inter kalar yang terletak pada bagian pangkal aktif memperpanjang daun, helaian daun yang pipih dan lebar disebabkan oleh aktivitas meristem marginal hanya aktif pada tempat-tempat tertentu disepanjang sumbu daun maka pada bagian yang aktif tersebut akan menghasilkan tonjolan seperti halnya bakal daun dan akan berkembang menjadi anak daun dengan cara yang sama seperti daun tunggal. Maka akan terbentuk daun majemuk. Ibu tulang daun menjadi lebih tebal dari helaian daun karena aktivitas meristem marginal tidak aktif, maka daun akan memipih dalam bidang vertical sehingga terbentuk daun ensiformis (daun seperti pedang). Dalam perkembangan daun kadang-kadang terdapat sel daun yang mati seperti pembentukan lubang daun.

2. Morfologi daun dapat dipengaruhi oleh lingkungan, yaitu; dipengaruhi oleh:

suhu, unsur hara dalam tanah, kelembapan, keadaan tanah. Contohnya:
Ø Daun yang berlubang-lubang atau bolong, disebabkan oleh ulat yang memakan daun tersebut.
Ø Daun yang kecil-kecil dan berkerut, disebabkan oleh struktur tanah yang kering dan kurangnya unsure hara dalam tanah.
Ø Daun yang warnanya kuning, disebabkan oleh suhu yang tinggi atau panas dan tanah yang kering.
Ø Daun yang lebar dan hijau, disebabkan oleh keadaan tanah yang lembab dan tersedianya suplai air yang cukup.
Ø

2. Perbedaan morfologi daun dikotil dan daun monokotil adalah:
NO Bagian Daun Dikotil (Tunggang) Monokotil (Serabut)
1 Tulang Daun Menyirip atau menjari Melengkung atau Sejajar
2 Bentuk Daun Bulat atau Oval Memanjang


4. Cara menentukan daun tunggal dengan daun majemuk adalah jika satu tangkai daun hanya mendukung satu helaian daun itu berarti daun tunggal. Jika satu tangkai bisa mendukung lebih dari satu helaian daun itu berarti daun majemuk.


BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Dari penelitian yang kami lakukan dapat disimpulkan:
1. Bahwa di dalam kita membaca buku juga harus mengerti dan memahami tentang struktur tanaman, yaiyu; mulai dari daun, batang dan juga akar. Kita bisa mengklasifikasikan semua jenis tanaman yang ada di muka bumi ini.

2. Pada dasarnya kita diajarkan untuk bisa mempelajari dan memahami lingkungan yang ada di sekitar kita.



3.2 SARAN-SARAN
3.2.1 Pembaca dapat menggunakan makalah ini untuk menambah pengetahuan tentang Morfologi Tumbuhan..
3.2.2 Sehingga pembaca dapat memperluas pengetahuan mengenai Morfologi Tumbuhan.
3.2.3 Agar kita mampu mengenal cara-cara mengklasifikasikan berbagai macam tumbuhan.



DAFTAR PUSTAKA


Tjitrosoepomo, Gembong, 1985, Morfologi Tumbuhan, 81-82, 126, 236-237, Gajah Mada University Press, Yogyakarta
Putu Budi Adnyana, Ida Bagus Putu Arnyana, 2000, Morfologi Tumbuhan, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Singaraja
Anonim, 2005, Citrus, http://www.biochemj.org


 

DESKRIPSI TANAMAN ALPUKAT DAN AREN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Tumbuhan merupakan salah satu penopang hidup manusia yang sangat penting. Di samping itu, tumbuhan juga memiliki peranan yang sangat penting untuk perkembangan mahluk hidup. Untuk itu mahasiswa yang mempelajari ilmu sains diharapkan bisa mendeskripsikan dari pada berbagai jenis tumbuhan..
Dari permasalahan di atas, mahasiswa diharapkan bisa membahas tentang pengamatan di lapangan tentang deskripsi tentang akar, batang, daun, bunga, buah, biji, serta bisa mengklasifikasikannya.

1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, penulis akan menyampaikan hal-hal yang berhubungan dengan akar, batang, daun, bunga, buah, biji dari tanaman Alpukat dan Aren serta klasifikasinya. Adapun masalah-masalah yang kami sampaikan adalah:
1. Bagaimana bentuk dari tanaman Alpukat dilihat dari akarnya, batangnya, daunnya, bunganya, buahnya, bijinya ?
2. Bagaimana bentuk dari tanaman Aren dilihat dari akarnya, batangnya, daunnya, bunganya, buahnya, bijinya ?
3. Apa saja perbedaan tumbuhan dikotil dan monokotil ?

1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.1 Mahasiswa bisa mengenal berbagai jenis tumbuhan.
1.2 Mahasiswa dapat mendeskripsikan berbagai jenis tumbuhan yang di jumpai.
1.3 Mahasiswa dapat mengklasifikasikan tumbuhan yang diamati sesuai dengan system tata nama (nomenclature) tumbuhan.
1.4 Mahasiswa mampu mengkomunikasikan hasil pengamatan yang dilakukan, baik secara lisan maupun tulisan dengan membuat makalah.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Deskripsi Tanaman Alpukat

Sejarah Singkat

ASAL USUL ALPUKAT
Asal kata alpukat atau avokad berasal dari bahasa Aztek yaitu ahuacatl. Suku Aztek berada di daerah Amerika Tengah, Meksiko dan Guam. Karena itu, buah ini pada awalnya dikenal di daerah tersebut. Kemudian pada saat pasukan Spanyok memasuki wilayah tersebut sekitar awal abad ke-16, buah alpukat bersama buah lainnya dari daerah tersebut diperkenalkan kepada penduduk Eropa. ), alpukat, atau Persea americana ialah tumbuhan penghasil buah. Banyak dibudidayakan di Amerika Selatan dan Amerika Tengah. Orang pertama yang memperkenalkan buah alpukat kepada penduduk Eropa yaitu Martín Fernández de Enciso, salah seorang pemimpin pasukan Spanyol. Dia memperkenalkan buah ini pada tahun 1519 kepada orang-orang Eropa. Pada saat yang sama juga, para pasukan Spanyol yang menjajah Amerika Tengah juga memperkenalkan coklat, jagung dan kentang kepada masyarakat Eropa. Sejak itulah buah alpukat mulai disebar dan dikenal oleh banyak penduduk dunia.
Orang pertama yang memperkenalkan buah alpukat kepada penduduk Eropa yaitu Martín Fernández de Enciso, salah seorang pemimpin pasukan Spanyol. Dia memperkenalkan buah ini pada tahun 1519 kepada orang-orang Eropa. Pada saat yang sama juga, para pasukan Spanyol yang menjajah Amerika Tengah juga memperkenalkan coklat, jagung dan kentang kepada masyarakat Eropa. Sejak itulah buah alpukat mulai disebar dan dikenal oleh banyak penduduk dunia Tanaman alpukat (Persea americana Mill) merupakan tanaman buah berupa pohon dengan nama alpuket Jawa Barat), alpokat (Jawa Timur/Jawa Tengah), boah pokat, jamboo pokat (Batak), advokat, jamboo mentega, jamboo pooan, pookat (Lampung) dan lain-lain. Diperkirakan masuk ke Indonesia pada abad ke-18. Secara resmi antara tahun 1920-1930 Indonesia telah mengintroduksi 20 varietas alpukat dari Amerika Tengah dan Amerika Serikat untuk memperoleh varietas-varietas unggul guna meningkatkan kesehatan dan gizi masyarakat, khususnya di daerah dataran tinggi.
Tanaman alpukat berakar tunggang atau dikotil serta memiliki batang yang berkayu, bulat warnanya coklat kotor banyak bercabang ranting berambut halus.tanaman alpukat ini berbentuk pohon kecil yang tingginya 5-10 m. Daun tunggal simetris, bertangkai yang panjangnya 1-1,5 cm, letaknya berdesakan di ujung ranting, bentuknya jorong sampai bundar telur atau ovalis memanjang, tebal seperti kertas, pangkal daun dan ujung daun meruncing (acuminatus), tepi rata (integer), kadang-kadang agak menggulung ke atas, permukaan daun gundul (glaber), pertulangan menyirip, panjang daun 10-20 cm, lebar 3-10 cm, daun muda warnanya kemerahan, daun tua warnanya hijau.
Dengan rumus daun 2/5, berarti 2 kali spiral genetika dengan melewati 5 daun. Daun No 1 tegak lurus dengan daun No 6 .Sudut divergensi daun adalah 2/5 x 360 derajat, jumlah garis ortostik adalah 5 buah.
Bunganya bunga majemuk berbentuk bintang, berkelamin dua, tersusun dalam malai yang keluar dekat ujung ranting, warnanya kuning kehijauan. Buahnya buah buni, bentuk bola atau bulat telur, panjang 10-20 cm, warnanya hijau atau hijau kekuningan, berbintik-bintik ungu atau ungu sama sekali, berbiji satu, daging buah jika sudah masak lunak, warnanya hijau kekuningan. Berat buahnya antara 0,3-0,4 kg. Kulit buah tebalnya 1 mm berwarna hijau tua saat matang. Daging buah berwarna kuning kehijauan dengan tebal sekitar 1,5 cm. Biji bulat seperti bola, diameter 2,5-5 cm, keping biji putih kemerahan. Setiap pohon dapat menghasilkan rata-rata 22 kg per tahun. Berdasarkan perkembangan dan posisi kotiledon pada saat perkecambahan, maka perkembangan biji alpukat merupakan tipe hipogeal (dalam perkecambahan kotiledon tetap berada di dalam tanah, hipokotilnya aktif bertambah panjang, sedangkan hipokotilnya pendek).
Habitat tanaman alpukat banyak tumbuh di daerah tropis dan subtropis yang banyak curah hujannya. Tanaman alpukat merupakan tanaman buah berupa pohon kecil. Pada umumnya tanaman alpukat dapat tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi, yaitu 5-1500 m dpl. Namun tanaman ini akan tumbuh subur dengan hasil yang memuaskan pada ketinggian 200-1000 m dpl. Alpukat berkembang biak dengan cara generatif (yaitu terjadinya peleburan sel sperma dan sel telur, dari bunga akan menjadi biji dan buah. Di dalam biji terdapat embrio atau calon individu baru yang merupakan hasil peleburan sel sperma dan sel telur. Karena terjadi pristiwa polinasi sehingga terbentuk buah dan biji). Dengan biji alpukat akan memperbanyak generasinya.


2.1.1 Tipe Ras-ras Alpukat

Berdasarkan sifat ekologis, tanaman alpukat terdiri dari 3 tipe keturunan/ras, yaitu:

1. Ras Meksiko

Berasal dari dataran tinggi Meksiko dan Equador beriklim semi tropis dengan ketinggian antara 2.400-2.800 m dpl. Ras ini mempunyai daun dan buahnya yang berbau adas. Masa berbunga sampai buah bisa dipanen lebih kurang 6 bulan. Buah kecil dengan berat 100-225 gram, bentuk jorong (oval), bertangkai pendek,
kulitnya tipis dan licin. Biji besar memenuhi rongga buah. Daging buah mempunyai kandungan minyak/lemak yang paling tinggi. Ras ini tahan terhadap suhu dingin.

2. Ras Guatemala
Berasal dari dataran tinggi Amerika Tengah beriklim sub tropis dengan ketinggian sekitar 800-2.400 m dpl. Ras ini kurang tahan terhadap suhu dingin (toleransi sampai -4,5 derajat C). Daunnya tidak berbau adas. Buah mempunyai ukuran yang cukup besar, berat berkisar antara 200-2.300 gram, kulit buah tebal, keras,
mudah rusak dan kasar (berbintil-bintil). Masak buah antara 9-12 bulan sesudah berbunga. Bijinya relatif berukuran kecil dan menempel erat dalam rongga, dengan kulit biji yang melekat. Daging buah mempunyai kandungan minyak yang sedang.

3. Ras Hindia Barat
Berasal dari dataran rendah Amerika Tengah dan Amerika Selatan yang beriklim tropis, dengan ketinggian di bawah 800 m dpl. Varietas ini sangat peka terhadap suhu rendah, dengan toleransi sampai minus 2 derajat C. Daunnya tidak berbau adas, warna daunnya lebih terang dibandingkan dengan kedua ras yang lain. Buahnya berukuran besar dengan berat antara 400-2.300 gram, tangkai pendek, kulit buah licin agak liat dan tebal. Buah masak 6-9 bulan sesudah berbunga. Biji besar dan sering lepas di dalam rongga, keping biji kasar. Kandungan minyak dari daging buahnya paling rendah.


Ras-ras alpukat yang lain :

ALPUKAT WINSLOWSON
Family Lauraceae

Deskripsi
Alpukat ini bobot buahnya terberat di antara semua jenis alpukat, mencapai 0,50 kg. Panjang buah 12 cm dan diameter buah 12 cm. Bentuk buah bulat tidak simetris. Bentuk ujung buah agak miring dan pangkalnya tidak berleher seperti jenis lainnya. Warna kulit buah bila matang hijau tua. Daging buah tebal, rata-rata 3 cm, dan berwarna kekuningan. Rasanya gurih agak manis. Bentuk biji gepeng dengan panjang 6 cm dan diameter 5 cm. Produksi buah per pohon per tahun mencapai 22,1 kg.

ALPUKAT MERAH BUNDAR
Family lauraceae

Deskripsi
Alpukat ini mudah sekali dibedakan dari jenis lainnya: warna kulit buahnya merah tua saat matang dan bentuknya agak bundar. Ujung buahnya tumpul, sedangkan pangkalnya meruncing. Panjang buah sekitar 11 cm dan lebarnya 8 cm dengan berat 0,29 kg. Jenis ini hanya menghasilkan buah sekitar 12,5 kg per pohon per tahun. Daging buah agak tebal, rata-rata sekitar 2 cm, dengan rasa gurih. Warna daging buah kuning. Bijinya berbentuk lonjong dengan panjang sekitar 5,5 cm dan diameter 4 cm.

ALPUKAT IJO PANJANG
Family Lauraceae

Deskripsi
Alpukat ini berbuah sepanjang tahun tergantung lokasi dan kesuburan tanah. Kerontokan buah sedikit. Berat buah antara 0,3-0,5 kg. Bentuknya seperti buah pear dengan ujung tumpul dan pangkal meruncing. Panjangnya 11,5-18 cm dan diameternya 6,5-10 cm. Tebal, kulit buah 1,5 mm berwarna hijau kemerahan dengan permukaan licin berbintik kuning. Daging buahnya tebal (sekitar 2 cm), bertekstur agak lunak, berwarna kuning, dan rasanya gurih. Bijinya berbentuk jorong dengan rata-rata panjang 5,5 cm dan diameter 4 cm. Produksi buah rata-rata 16,1 kg per pohon per tahun.

ALPUKAT IJO BUNDAR
Family Lauraceae

Deskripsi
Buah alpukat ini berbentuk lonjong dengan ujung bulat dan pangkal tumpul. Berat buahnya antara 0,3-0,4 kg. Panjang buah sekitar 9 cm dengan diameter 7,5 cm. Kulit buah tebalnya 1 mm berwarna hijau tua saat matang. Permukaannya licin berbintik kuning. Daging buah berwarna kuning kehijauan dengan tebal sekitar 1,5 cm. Biji berbentuk jorong dengan panjang 5,5 cm dan diameter 4 cm. Setiap pohon dapat menghasilkan rata-rata 22 kg per tahun. Produksi buah terus menerus sepanjang tahun.

ALPUKAT FUERTE
Family Lauraceae

Deskripsi
Alpukat ini memiliki lapisan daging buah yang tebal, sekitar 2,5 cm. Rasanya gurih seperti jenis alpukat lainnya. Kulit buah yang sudah matang berwarna hijau tua dengan tekstur lunak dan permukaan licin. Bentuknya agak bulat dengan panjang 11 cm dan diameter 7,5 cm. Berat buah sekitar 0,25 kg dengan produksi rata-rata per pohon per tahun sekitar 45,1 kg. Bijinya berbentuk lonjong dengan panjang sekitar 5 cm dan diameter 4 cm. Walaupun sudah tua, buah alpukat jenis ini sulit jatuh dari pohon.

ALPUKAT BUTLER

Deskripsi
Alpukat ini tergolong besar. Bobot setiap buahnya mencapai 0,38 kg. Bentuknya bulat pendek dengan panjang sekitar 10,5 cm dan lebar 7,5 cm. Ujung buah membulat dan pangkalnya tumpul. Ketebalan daging buah sekitar 1,5 cm (untuk bagian yang terkecil) dan 3 cm (untuk bagian yang terbesar). Daging buah berwarna kuning, rasanya tidak begrtu gurih, teksturnya lunak, dan agak berserat. Bila matang, kulit buah berwarna hijau kekuningan. Bijinya rata-rata berukuran panjang 5,5 cm dan diameter 4 cm. Umur mulai berproduksi alpukat butler lebih pendek dibandingkan jenis lainnya. Rata-rata setiap pohonnya dapat bereproduksi sebanyak 14 kg per tahun.


2.1.2 Manfaat Alpukat
Manfaat dari tanaman alpukat, yaitu ;

1. Hampir setiap bagian dari pohon alpukat memiliki manfaat. Kayu pohon alpukat bermanfaat sebagai bahan bakar. Biji dan daunnya dapat digunakan dalam industri pakaian. Kulit pohonnya dapat digunakan untuk pewarna coklat pada produk yang terbuat dari kulit.
2. Dalam bidang kecantikan, buah alpukat juga sering digunakan sebagai masker wajah. Buah ini dianggap mampu membuat kulit lebih kencang. Buah alpukat juga bermanfaat untuk perawatan rambut misalnya sewaktu melakukan creambath.
3. Selain itu, sebagai buah, alpukat juga tentu bisa dinikmati sebagai hidangan yang lezat. Misalnya dipakai jus, Es buah dan berbagai hidangan disajikan dengan menambah alpukat sebagai bagian dari hidangan tersebut.
4. Buah alpukat matang enak dimakan segar, lebih lezat bila ditambah susu dan gula serta es gosok. Daunnya dapat dimanfaatkan untuk obat sakit pinggang. Batangnya baik untuk bahan bangunan. Bila digunakan untuk kayu bakar, energi batang alpukat rendah. Tanaman ini baik untuk konservasi lahan yang miring dan curam.


2.1.3 Klasifikasi Alpukat

Klasifikasi :

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Ranales
Famili : Lauraceae
Genus : Persea
Spesies : Persea americana Mill



2.2 Deskripsi Tanaman Aren

Aren (Arenga pinnata) termasuk suku Arecaceae (pinang-pinangan), merupakan tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae). Tanaman aren bisa dijumpai mulai dari pantai barat India, sampai ke sebelah selatan Cina dan kepulauan Guam. Habitat aren juga banyak terdapat di Filipina, Malaysia, Dataran Assam di India, Laos, Kamboja, Vietnam, Birma (Myanmar), Srilanka, dan Thailand (Lutony, 1993). Di Indonesia, tanaman aren banyak terdapat dan tersebar di seluruh wilayah nusantara, khususnya di daerah-daerah perbukitan yang lembab.
Enau atau aren (Arenga pinnata) adalah palma yang terpenting setelah kelapa (nyiur) karena merupakan tanaman serba guna. Tumbuhan ini dikenal dengan pelbagai nama seperti nau, hanau, peluluk, biluluk, kabung, juk atau ijuk (aneka nama lokal di Sumatra dan Semenanjung Malaya); kawung, taren (Sunda); akol, akel, akere, inru, indu (bahasa-bahasa di Sulawesi); moka, moke, tuwa, tuwak (di Nusa Tenggara), dan lain-lain.
Bangsa Belanda mengenalnya sebagai aren palm atau zuikerpalm dan bangsa Jerman menyebutnya zucker palme. Dalam bahasa Inggris disebut sugar palm atau Gomuti palm.
Tanaman aren merupakan tumbuhan berakar serabut atau monokotil. Palma yang besar dan tinggi ini, dapat mencapai 25 m. Aren merupakan model corner (pohon monokaul dengan pembungaan lateral, karena posisi bunganya lateral, maka meristem apikalnya tumbuh terus dengan batang yang tak bercabang). Berdiameter hingga 65 cm, batang pokoknya kukuh dan pada bagian atas diselimuti oleh serabut berwarna hitam yang dikenal sebagai ijuk, injuk, juk atau duk. Ijuk sebenarnya adalah bagian dari pelepah daun yang menyelubungi batang. Daunnya majemuk menyirip ganjil, seperti daun kelapa, panjang hingga 5 m dengan tangkai daun hingga 1,5 m. Anak daun seperti pita bergelombang, hingga 7 x 145 cm, berwarna hijau gelap di atas dan keputih-putihan oleh karena lapisan lilin di sisi bawahnya.
Daun tanaman aren pada tanaman bibit (sampai umur 3 tahun), bentuk daunnya belum menyirip (berbentuk kipas). Sedangkan daun tanaman aren yang sudah dewasa dan tua bersirip ganjil. Pohon, tegak, hijau kecoklatan. Berupa roset batang, berpelepah, anak daun bentuk lanset, menyirip, pangkal membulat, ujung runcing, tepi rata, tangkai pendek, hijau muda-tua. Berdasarkan urutan perkembangan anak daunnya, daun aren termasuk tipe divergen. Berkelamin tunggal, bentuk tongkol, diketiak daun : bunga jantan dan betina menyatu pada tongkol, daun kelopak tiga, bulat telur, benang sari banyak, kepala sari bentuk jarum, bunga betina bulat, bakal buah tiga, putik tiga, putih, mahkota berbagi tiga, kuning keputih-putihan.
Perbungaan berumah satu, tumbuh di antara ketiak daun, merunduk kadang-kadang lebih dari 2 m panjangnya, bunga betina ada di ujung dan bunga jantan tumbuh di bagian bawah batangnya. ; panjang tongkol hingga 2,5 m. Buahnya merupakan buah buni bentuk bulat peluru, dengan diameter sekitar 4 cm, beruang tiga dan berbiji tiga, tersusun dalam untaian seperti rantai. Setiap tandan mempunyai 10 tangkai atau lebih, dan setiap tangkai memiliki lebih kurang 50 butir buah berwarna hijau sampai coklat kekuningan. Buah ini tidak dapat dimakan langsung karena getahnya sangat gatal. Buah aren (dinamai beluluk, caruluk dan lain-lain) memiliki 2 atau 3 butir inti biji (endosperma) yang berwarna putih tersalut batok tipis yang keras. Buah yang muda intinya masih lunak dan agak bening. Buah muda dibakar atau direbus untuk mengeluarkan intinya, dan kemudian inti-inti biji itu direndam dalam air kapur beberapa hari untuk menghilangkan getahnya yang gatal dan beracun. Inti biji yang telah diolah itu, diperdagangkan di pasar sebagai buah atep (buah atap) atau kolang-kaling. Berdasarkan perkembangan dan posisi kotiledon pada saat perkecambahan, maka perkembangan biji aren merupakan tipe hipogeal (dalam perkecambahan kotiledon tetap berada di dalam tanah, hipokotilnya aktif bertambah panjang, sedangkan hipokotilnya pendek).
Buah aren terbentuk setelah terjadi penyerbukan dengan perantaraan angina atau serangga. Buah aren berbentuk bulat, berdiameter 2-3 cm, di dalamnya berisi biji 3 buah. Bagian dari buah aren terdiri dari :

1. Kulit luar, halus berwarna hijau pada waktu masih muda, dan menjadi kuning setelah tua (masak).
2. Daging buah, berwarna putih kekuning-kuningan.
3. Kulit biji, berwarna kuning dan tipis pada waktu masih muda, dan berwarna hitan yang keras setelah buah masak. Endosperm, berbentuk lonjong agak pipih berwarna putih agak bening dan lunak pada waktu buah masih muda; dan berwarna putih, padat atau agak keras pada waktu buah sudah masak.
4. Daging buah aren yang masih muda mengandung lendir yang sangat gatal jika mengenai kulit, karena lendir ini mengandung asam oksalat (H2C2O4). Tiap untaian buah panjangnya mencapai 1,5-1,8 m, dan tiap tongkol (tandan buah) terdapat 40-50 untaian buah. Tiap tandan terdapat banyak buah, beratnya mencapai 1-2,5 kuintal. Buah yang setengah masak dapat dibuat kolang kaling. Pada satu pohon aren sering didapati 2-5 tandan buah yang tumbuhnya agak serempak.

Tanaman aren sesungguhnya tidak membutuhkan kondisi tanah yang khusus, sehingga dapat tumbuh pada tanah-tanah liat (berlempung), berkapur, berpasir. Tetapi tanaman ini tidak tahan pada tanah yang kadar asamnya terlalu tinggi (pH tanah terlalu asam). Aren berkembang biak dengan cara generatif (yaitu terjadinya peleburan sel sperma dan sel telur, dari bunga akan menjadi biji dan buah. Di dalam biji terdapat embrio atau calon individu baru yang merupakan hasil peleburan sel sperma dan sel telur. Karena terjadi pristiwa polinasi sehingga terbentuk buah dan biji). Aren dapat dikembang biakkan secara generatif yaitu melalui bijinya.


2.2.1 Manfaat Aren
Manfaat tanaman aren, yaitu :

• 1. Buahnya (disebut beluluk atau kolang kaling) dapat dibuat manisan yang lezat atau campuran kolak, air nira (untuk bahan pembuatan gula merah dan cuka), pati atau tepung dalam batang dapat diolah menjadi sagu (untuk bahan pembuatan berbagai macam makanan atau minuman).
• 2. Ijuk di buat sapu, tali untuk mengikat kerbau, keset kaki, atap dan kuas cat, dan dapat digunakan juga sebagai atap rumah.
• 3. Tulang daunnya dibuat sapu lidi dan senik (tempat meletakkan kuali atau periuk)
• 4. Hampir semua bagian fisik pohon ini dapat dimanfaatkan, misalnya : akar (untuk obat tradisional dan peralatan), batang (untuk berbagai macam peralatan dan bangunan), daun muda atau janur (untuk pembungkus atau pengganti kertas rokok yang disebut dengan kawung).



2.2.2 Klasifikasi Aren
Klasifikasi :

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Spadicitlorae
Famili : Palmae
Genus : Arenga
Spesies : Arenga pinnata



2.3 Perbedaan Tumbuhan Dikotil dan Monokotil
(1). Perbedaannya ;

NO Bagian Tumbuhan Dikotil Monokotil
1 Bentuk akar Memiliki sistem akar tunggang Memiliki sistem akar serabut
2 Bentuk sumsum atau pola tulang daun Menyirip atau menjari Melengkung atau sejajar
3 Kaliptrogen / tudung akar Tidak terdapat ada tudung akar
Ada tudung akar / kaliptra
4 Jumlah keping biji atau kotiledon Ada dua buah keping biji satu buah keping biji saja
5 Kandungan akar dan batang Ada kambium Tidak terdapat kambium
6 Jumlah kelopak bunga Biasanya kelipatan empat atau lima Umumnya adalah kelipatan tiga
7 Pertumbuhan akar dan batang
Bisa tumbuh berkembang menjadi membesar Tidak bisa tumbuh berkembang menjadi membesar
8 Batang Bercabang, tidak beruas-ruas Tidak bercabang, tetapi berruas-ruas


(2). Manfaat mempelajari bentuk hidup suatu tumbuhan adalah kita dapat

mengklasifikasikan dan membandingkan struktur komunitas, misalnya; Struktur dikotil dan monokotil, jenis-jenis tumbuhan, dan manfaat dari pada tumbuhan tersebut bagi kehidupan manusia.




BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Dari penelitian yang penulis lakukan dapat disimpulkan:

1. Tanaman alpukat berakar tunggang atau dikotil serta memiliki batang yang berkayu, bulat warnanya coklat kotor banyak bercabang ranting berambut halus.tanaman alpukat ini berbentuk pohon kecil yang tingginya 5-10 m. Daun tunggal, bertangkai yang panjangnya 1-1,5 cm, letaknya berdesakan di ujung ranting, bentuknya jorong sampai bundar telur atau ovalis memanjang, tebal seperti kulit, pangkal daun dan ujung daun meruncing (acuminatus), tepi rata kadang-kadang agak menggulung ke atas, pertulangan menyirip, panjang 10-20 cm, lebar 3-10 cm, daun muda warnanya kemerahan dan berambut rapat, daun tua warnanya hijau dan gundul. Bunganya bunga majemuk berbentuk bintang, berkelamin dua, tersusun dalam malai yang keluar dekat ujung ranting, warnanya kuning kehijauan. Buahnya buah buni, bentuk bola atau bulat telur, panjang 10-20 cm, warnanya hijau atau hijau kekuningan, berbintik-bintik ungu atau ungu sama sekali, berbiji satu, daging buah jika sudah masak lunak, warnanya hijau kekuningan. Berat buahnya antara 0,3-0,4 kg. Kulit buah tebalnya 1 mm berwarna hijau tua saat matang. Daging buah berwarna kuning kehijauan dengan tebal sekitar 1,5 cm. Biji bulat seperti bola, diameter 2,5-5 cm, keping biji putih kemerahan. Setiap pohon dapat menghasilkan rata-rata 22 kg per tahun.

2. Tanaman aren merupakan tumbuhan berakar serabut atau monokotil. Palma yang besar dan tinggi ini, dapat mencapai 25 m. Berdiameter hingga 65 cm, batang pokoknya kukuh dan pada bagian atas diselimuti oleh serabut berwarna hitam yang dikenal sebagai ijuk, injuk, juk atau duk. Daun tanaman aren pada tanaman bibit (sampai umur 3 tahun), bentuk daunnya belum menyirip (berbentuk kipas). Sedangkan daun tanaman aren yang sudah dewasa dan tua bersirip ganjil. Pohon, tegak, hijau kecoklatan. Berupa roset batang, berpelepah, anak daun bentuk lanset, menyirip, pangkal membulat, ujung runcing, tepi rata, tangkai pendek, hijau muda-tua berkelamin tunggal, bentuk tongkol, diketiak daun : bunga jantan dan betina menyatu pada tongkol, bunga kelopak tiga, bulat telur, benang sari banyak, kepala sari bentuk jarum, bunga betina bulat, bakal buah tiga, putik tiga, putih, mahkota berbagi tiga, kuning keputih-putihan. Berumah satu, bunga-bunga jantan terpisah dari bunga-bunga betina dalam tongkol yang berbeda yang muncul di ketiak daun; panjang tongkol hingga 2,5 m. Buahnya merupakan buah buni bentuk bulat peluru, dengan diameter sekitar 4 cm, beruang tiga dan berbiji tiga, tersusun dalam untaian seperti rantai. Setiap tandan mempunyai 10 tangkai atau lebih, dan setiap tangkai memiliki lebih kurang 50 butir buah berwarna hijau sampai coklat kekuningan. Buah ini tidak dapat dimakan langsung karena getahnya sangat gatal. Buah aren (dinamai beluluk, caruluk dan lain-lain) memiliki 2 atau 3 butir inti biji (endosperma) yang berwarna putih tersalut batok tipis yang keras. Biji aren yang sudah tua berwarna hitam.

3. Akar dikotil memiliki sistem akar tunggang dan monokotil memiliki sistem akar serabut. Pola tulang daun dikotil menyirip/menjari dan monokotil melengkung/sejajar. Dikotil memiliki tudung akar sedangkan monokotil tidak memiliki tudung akar. Keping biji dikotil berjumlah dua dan keping biji monokotil hanya satu saja. Dikotil mempunyai kambium sedangkan monokotil tidak memiliki kambium. Pertumbuhan akar dan batang pada dikotil bisa tumbuh membesar dan pada monokotil pertumbuhan akar dan batang tidak bisa tumbuh membesar. Batang pada dikotil bercabang-cabang dan tidak beruas-ruas sedangkan pada monokotil tidak bercabang , tetapi beruas-ruas.

4. Bahwa di dalam kita membaca buku juga harus mengerti dan memahami tentang struktur tanaman, yaitu; mulai dari akar, batang, daun, bunga, buah, biji, serta klasifikasinya. Kita bisa mengklasifikasikan semua jenis tanaman yang ada di muka bumi ini dan manfaatnya bagi kehidupan umat manusia.



3.2 SARAN-SARAN
3.2.1 Pembaca dapat menggunakan makalah ini untuk menambah pengetahuan tentang deskripsi tumbuhan..
3.2.2 Sehingga pembaca dapat memperluas pengetahuan mengenai deskripsi tumbuhan Alpukat dan Aren serta manfaatnya.
3.2.3 Agar kita mampu mengenal cara-cara mengklasifikasikan berbagai macam tumbuhan dan mendeskripsikannya.




DAFTAR PUSTAKA
Tjitrosoepomo, Gembong, 1985, Morfologi Tumbuhan, Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
Putu Budi Adnyana, Ida Bagus Putu Arnyana, 2000, Morfologi Tumbuhan, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Singaraja.
Hodson, R.W. (1950). "The avocado a gift from the middle Americas". Economic Botany, (4) hal. 253 Aviable at : http://toiusd.multiply.com/photos/album/31/persea_americana , accessed Januari 2010.
Indriani, Y. Hetty; Suminarsih, Emi (1997). "Alpukat". Jakarta: Penebar Swadaya. 96 hal. Aviable at : http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://myunusw.files.wordpress.com/2008/04/alpokat. , accessed Januari 2010.
Kalie, Moehd. Baga (1997). "Alpukat: budidaya dan pemanfaatannya". Yogyakarta: Kanisius. 112 hal Aviable at : http://triagrosukses.blogspot.com/ , accessed Januari 2010.
Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia, jil. 1. Yay. Sarana Wana Jaya, Jakarta. Hal. 447-455. Aviable at : http://id.wikipedia.org/wiki/Enau , accessed Januari 2010.
Steenis, CGGJ van. 1981. Flora, untuk sekolah di Indonesia. PT Pradnya Paramita, Jakarta. Hal. 139. Aviable at : http://x-jungle.blogspot.com/2008/05/aren-arenga-pinnata.html , accessed Januari 2010.
Mogea J, Seibert B, Smits W. 1991. Multipurpose palms: the sugar palm (Arenga pinnata (Wurmb) Merr.). Agroforestry Systems. 13:111-129. Aviable at : http://foragri.blogsome.com/lima-produk-andalan-dari-aren , accessed Januari 2010.
Aviable at : http://wapedia.mobi/id/Apokat , accessed Januari 2010

Diposkan oleh Yana P di 07:22
0 komentar

Senin, 25 Januari 2010

PRILAKU HEWAN

BAB I

PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah


Di Indonesia, sebaran populasi monyet ekor panjang [Macaca fascicularis (Raffles, 1821)] cukup luas, mulai dari kawasan bagian barat sampai ke Nusa Tenggara Timur, termasuk di kawasan Hutan Wisata Alam Monky Forest Ubud Bali. Kehidupan monyet ternyata memiliki nilai yang cukup tinggi bagi manusia, seperti antara lain memiliki nilai ekologi, estetika, rekreasi dan komersial. Indonesia termasuk salah satu negara pengeksport monyet terbesar di dunia. Berbagai manfaat sumber daya biologi ini dimanfaatkan, diantaranya yang terbesar untuk penelitian bidang farmasi dan kedokteran (farmacy and biomedical reseach).
Selain itu satwa liar ini juga bisa memberikan manfaat yang tidak kecil dalam kepariwisataan. Beberapa daerah tujuan wisata memiliki daya tarik disebabkan oleh adanya satwa liar monyet ekor panjang ini, seperti diantaranya daerah tujuan wisata Monky Forest di Bali, Nilai sumber daya hayati yang berupa satwa liar termasuk monyet ekor panjang, ternyata memiliki nilai yang tidak kecil, termasuk nilai yang dapat dihitung dan tidak dapat dihitung dengan ukuran nilai uang. Secara alami perilaku monyet ekor panjang dan satwa liar lainnya tidak meresahkan masyarakat, apabila mereka hidup pada habitat aslinya dan relatif tidak berdampingan dengan kehidupan masyarakat. Keadaan perilaku monyet ekor panjang mungkin mengalami perubahan tatkala kehidupan monyet pindah pada kawasan lain, atau berdampingan dengan kehidupan masyarakat, termasuk pada kawasan Hutan Wisata Alam ataupun di pelihara oleh masyarakat secara langsung.
Di samping itu prilaku monyet ekor panjang sangat menarik untuk kita ketahui, mulai dari prilaku makannya, prilaku adaptasinya, maupun prilaku reproduksinya. Karena monyet ekor panjang merupakan hewan mamalia yang mirip dengan manusia, sebab monyet ekor panjang memiliki kecerdasan yang cukup tinggi untuk dilatih sebagai hewan pembantu pekerjaan manusia.




1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, kami akan menyampaikan hal-hal yang berhubungan dengan monyet ekor panjang. Adapun masalah-masalah yang kami sampaikan adalah:
1. Bagaimana ciri-ciri ekor panjang ?
2. Bagaimana prilaku makan monyet ekor panjang ?
3. Bagaimana prilaku reproduksi monyet ekor panjang ?
4. Bagaimana peran ekologi, estetika, dan rekreasi monyet ekor panjang ?

1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui tentang monyet ekor panjang.
2. Untuk membahas mengenai prilaku-prilaku monyet ekor panjang.
3. Untuk melengkapi tugas dalam mata kuliah Ekologi II di IKIP Saraswati Tabanan.






















BAB II

PEMBAHASAN



2.1 CIRI-CIRI MONYET EKOR PANJANG
Monyet ekor panjang biasanya memiliki tubuh yang hampir diseluruh bagian tubuhnya ditutupi oleh rambut yang berwarna abu-abu kecoklatan, dengan bagian ventral berwarna putih. matanya berwarna coklat, ukuran kepalanya lebih kecil dari pada ukuran tubuhnya, jari-jari tangannya berjumlah lima yang hampir sama dengan bentuk jari-jari pada manusia. Memiliki ekor yang panjang sebagai ciri khasnya diantara hewan mamalia yang lain. Monyet ini mempunyai pipi yang khusus seperti kantung, yang memungkinkannya menimbun makanannya. Bahan makanan yang sudah dikumpulkan akan dimakannya belakangan di daerah yang sama. Monyet biasanya hidup berkelompok, dengan kepala kelompoknya adalah monyet jantan yang besar.
Monyet ekor panjang dapat diketahui dari Klasifikasi berikut :
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mamalia
Ordo : Primata
Famili : Cercopithecidae
Genus : Macaca
Spesies : Macaca fascicularis
Macaca. fascicularis termasuk dalam famili Cercopithecidae, berarti termasuk jenis monyet.

2.2 HABITAT MONYET EKOR PANJANG
Monyet ekor panjang merupakah salah satu primata yang mempunyai habitat cukup luas. Mereka dapat ditemukan dari wilayah India sampai daerah Asia Tenggara. Monyet ekor panjang adalah binatang siang (diurnal) yang hidup di pohon-pohon maupun di permukaan tanah. Mereka dengan mudah dapat ditemui dari tepi pantai, pinggiran sungai, hutan pegunungan sampai dengan ketinggian 2500 meter. Satwa ini juga dapat dijumpai di perkebunan dan pemukiman penduduk. Hidup secara berkelompok yang dipimpin oleh monyet jantan dewasa. Mereka hidup dalam kelompok yang berjumlah 20-60ekor.
Monyet ekor panjang yang hidup di tempat yang sangat kering dan terbuka, dapat pula ditemukan di padang rumput, di hutan-hutan dan wilayah pegunungan hingga ketinggian 2.500 meter di atas permukaan laut. Monyet ekor panjang adalah perenang yang baik dan dikabarkan senang berenang. Monyet ini terkenal karena kecenderungannya untuk pindah dari daerah pedesaan ke perkotaan, dan hidup dari pemberian atau makanan-makanan yang dibuang oleh manusia. Ia dijadikan binatang peliharaan di beberapa tempat, dan ada juga yang ditangkarkan.


2.3 PRILAKU MAKAN MONYET EKOR PANJANG
Prilaku makan monyet memang mirip manusia, tidak heran karena binatang mamalia ini merupakan kerabat terdekat manusia. Umumnya monyet ekor panjang adalah omnivora dan memakan daun-daunan, buah-buahan, akar-akaran, kulit kayu, umbi dan serangga. terkadang mereka juga menyerang sarang burung untuk di ambil telurnya dan kadang juga mereka memakan kodok kecil serta katak pohon. Terkadang mereka lebih senang hidup di daerah pantai untuk menghabiskan waktunya sembari mencari kepiting dan invertebrata pantai lainya, dan kadang-kadang serangga atau binatang-binatang kecil, dan monyet juga bisa makan makanan yang biasa dimakan oleh manusia. Biasanya monyet akan mencari makan jika dia merasa kelaparan.
Dengan diiming-imingi sebungkus kacang atau makanan ringan lainnya, kelompok monyet yang biasanya banyak menghabiskan waktu diatas pohon mulai berani turun dan mendekati manusia untuk mendapatkan beberapa cuil makanan. Lambat laun merekapun mulai terbiasa kesana-kemari di daratan sambil menunggu jatah makanan dari pengunjung. Bahkan tidak aneh jika melihat ada orang datang sambil membawa tas atau kantung, gerombolan monyet itu akan segera menyambutnya. Tentu saja hal itu menjadi hiburan tersendiri. Sehingga sebelum masuk, biasanya pelancong sering disarankan untuk membawa sekedar oleh-oleh untuk si ekor panjang.
Sedangkan monyet yang tinggal di pedalaman umumnya lebih pemalu dan banyak menghabiskan waktu diatas pohon. Selain itu warna rambutnyapun terlihat lebih bule.


2.4 ADAPTASI TERHADAP LINGKUNGAN

Monyet memiliki ekor yang panjang yang digunakan sebagai alat untuk bergelantung di atas pohon apabila sedang mengambil makanan yang letaknya jauh dari jangkauan tangannya. Monyet ekor panjang memiliki gigi taring yang tajam, sebagai alat untuk mengupas makanan yang keras, misalnya buah kelapa. Karena monyet ekor panjang di daerah hutan di pedalaman lebih banyak menggunakan waktunya di atas pohon untuk beraktifitas baik itu makan, tidur, maupun aktivitas yang lainnya. Panjang ekor hampir sama dengan panjang tubuh sekitar 40-65 cm.




2.5 PRILAKU MONYET BERTAHAN HIDUP

Prilaku monyet memang mirip manusia, tidak heran karena binatang mamalia ini merupakan kerabat terdekat manusia. Salah satu kemiripannya adalah cara hidupnya yang selalu berkelompok dalam kawasan tertentu. Umumnya monyet masih banyak dijumpai diwilayah hutan maupun pegunungan dengan populasi yang relatif stabil. Monyet pun terkadang menjadi hama bagi petani yang memiliki ladang di wilayah perbatasan habitatnya. Peranjahan tersebut terjadi manakala sumber makanan dihutan mulai berkurang disebabkan antara lain semakin sempitnya wilayah tempat tinggal mereka akibat perambahan hutan. Adapun prilaku monyet ekor panjang untuk mempertahankan hidupnya, sebagai berikut :
§ Monyet akan lari kemudian meloncat naik ke pohon apabila mereka terancam oleh serangan binatang lainnya. Atau monyet akan menerkam binatang yang membahayakan dirinya.
§ Biasanya monyet jantan yang besar sebagai ketua kelompok akan berkelahi antar ketua kelompok monyet yang lain untuk mempertahankan wilayahnya.
§ Monyet akan mendekap dan menggendong anaknya terus naik ke atas pohon, apabila ada bahaya mengancam.






Adapun prilaku monyet yang lainnya, yaitu :
§ Monyet berwatak semau gue dan berlagak pilon. Seekor monyet jika sudah mendapatkan makanan di tangannya, ia tak peduli lagi pada monyet-monyet lain di sekitarnya.
§ Monyet tidak bisa diam. Seekor monyet tangan dan kakinya akan senantiasa bergerak walau sekedar menggaruk-garuk kepala.
§ Monyet pandai berakting. Jika monyet berakting di sirkus semua anak kecil senang, artinya monyet hanya pantas dijadikan penghibur bagi anak-anak kecil.
§ Monyet sangat rakus. Seekor monyet, ketika ada kesempatan mengambil makanan, segera ia penuhi tangan kanan dan kirinya, bahkan kedua kakinya.



2.6 PRILAKU MONYET MEMELIHARA ANAK
Monyet betina yang dewasa dan telah melahirkan anaknya akan selalu menggendong anaknya, walaupun pada saat-saat mereka memperebutkan makanan antar temannya maupun kelompok monyet yang lain. Anak monyet yang masih kecil memiliki rambut yang berwarna agak kehitaman dengan ukuran tubuh yang mungil. Berat bayi monyet kurang dari 1 kg, tetapi selama gendongan induknya, bayi monyet sudah bisa mencengkram induknya dengan kuat. Pada waktu induk monyet tersebut berjalan ataupun memperebutkan makanan dia tidak memegang anaknya, tetapi justru sebaliknya anaknya yang mencengkram induknya dengan sangat kuat sambil menghisap susu induknya.




2.7 PRILAKU REPRODUKSI MONYET
Perkawinan tidak terbatas pada musi-musim tertentu. Kehamilan berlangsung antara 135-194 hari. Monyet betina menjadi dewasa pada usia tiga tahun, sementara monyet jantan pada usia empat tahun. Jangka hidup monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di penangkaran kira-kira 15-20 tahun untuk monyet jantan dan 20-25 tahun untuk monyet betina. Monyet-monyet ini jarang hidup lebih dari 15 tahun di alam bebas.
Seperti semua monyet lainnya, gerombolan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) terdiri atas campuran jantan dan betina. Gerombolan ini dapat terdiri hingga 180 ekor monyet, tetapi rata-rata jumlahnya 20 ekor. Monyet betina dapat lebih banyak jumlahnya dibandingkan monyet jantan dengan rasio 4:1. Hierarki sosialnya juga bersifat matriarkal, peringkatnya tergantung pada jantan yang memimpin. Pemeliharaan atas monyet-monyet muda dan tugas-tugas pengawasan wilayah dibagi di antara rombongan. Sementara monyet-monyet betina biasanya hidup damai, yang jantan biasanya sering ribut di antara mereka sendiri. Adapun prilaku reproduksi monyet antara lain :
n Monyet bereproduksi dengan cara kawin. Monyet jantan akan merayu monyet betina, setelah ada kecocokan, maka monyet jantan akan menjilati vagina monyet betina dan setelah itu baru terjadi perkawinan.
n Monyet akan melahirkan anak karena monyet merupakan hewan mamalia.


2.8 PERAN EKOLOGIS, ESTETIKA, DAN REKREASI MONYET EKOR PANJANG

(1). Peran ekologis monyet ekor panjang, yaitu :
• Secara ekologis, monyet ini merupakan pemencar biji tanaman buah yang dikonsumsinya. Hal ini sangat penting bagi konservasi jenis tumbuhan di habitatnya. Selain itu, monyet ini juga sebagai pemakan serangga yang sekaligus sebagai pengendali populasi serangga tersebut.

(2). Peran estetika monyet ekor panjang, yaitu:
Beberapa monyet ekor panjang ditangkap dari daerah hutan untuk dilatih sebagai topengn monyet. Hal ini dilakukan untuk menghibur umat manusia yang ada di muka bumi ini. Prilaku permainan dalam topeng monyet merupakan prilaku terajar, sebab perilaku tersebut sengaja diajarkan kepada monyet untuk bisa bermain guna menghibur orang-orang. Misalnya prilaku untuk menaiki sepeda, mengenakan helm, memikul keranjang dan sebagainya.




(3). Peran rekreasi monyet ekor panjang, yaitu :
Monyet ekor panjang yang dipindahkan dari hutan untuk ditangkarkan di daerah perkotaan yang dipakai sebagai objek wisata yang sering kita kenal sebagai objek wisata alam. Bebrapa gerombolan monyet yang ada di suatu tenpat yang dekat dengan pemukiman penduduk dilestarikan habitatnya untuk objek wisata.
Bisnis monyet orang Bali dapat ditemukan di Monkey Forest di Ubud, Di tempat-tempat suci monyet ini, Bali bekerja bergandengan tangan dengan monyet-monyet untuk melestarikan hutan di sekitarnya, mempertahankan kuil hutan, memberikan pendapatan bagi desa, pekerjaan bagi penduduk desa dan perlindungan terhadap monyet.












BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Dari permasalahan yang penulis angkat dapat disimpulkan:
1. Bahwa di dalam kita membaca buku juga harus mengerti dan memahami tentang ciri-ciri monyet, habitatnya, prilaku makan, prilaku bertahan hidupnya, prilaku perkembangbiakannya, dan peran monyet dalam kehidupan di alam, baik peran ekologinya, estetika, rekreasi dan komersial monyet ekor panjang.

2. Pada dasarnya kita di ajak untuk peduli dengan lingkungan, dengan tetap menjaga kelestarian alam, dengan menjaga dan memelihara hewan yang sangat bermanfaat bagi kehidupan umat manusia di muka bumi ini.

3.2 SARAN-SARAN

3.2.1 Pembaca dapat menggunakan makalah ini untuk menambah pengetahuan tentang monyet ekor panjang.
3.2.2 Sehingga pembaca dapat memperluas pengetahuannya mengenai prilaku-prilaku monyet ekor panjang..
3.2.3 Agar kita mampu melestarikan hewan yang sangat berperan dalam menjaga kelestarian alam ini agar jangan sampai punah.










DAFTAR PUSTAKA

Aviable at : http://www.unsjournals.com/D/D0904/D090413DjuwanMacacxxxa.pdf. accessed Oktober 2009.

Aviable at : http://www.kompas.com/read/xml/2008/06/03/02021412/monyet.ekor.panjang. accessed Oktober 2009.

Aviable at : http://nothe84.blogspot.com/2009/04/monyet-ekor-panjang-macaca-fascicuralis.html . accessed Oktober 2009.

Diposkan oleh Yana P di 02:08
0 komentar

PENGGANTI MAKANAN POKOK

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
Setiap makhluk hidup membutuhkan makanan. Tanpa makanan, makhluk hidup akan sulit dalam mengerjakan aktivitas sehari-harinya. Makanan dapat membantu kita dalam mendapatkan energi, membantu pertumbuhan badan dan otak. Memakan makanan yang bergizi akan membantu pertumbuhan kita, baik otak maupun badan. Setiap makanan mempunyai kandungan gizi yang berbeda. Protein, karbohidrat, lemak, dan lain-lain adalah salah satu contoh gizi yang akan kita dapatkan dari makanan.
Setiap jenis gizi yang kita dapatkan mempunyai fungsi yang berbeda. Karbohidrat merupakan sumber tenaga yang kita dapatkan sehari-hari. Salah satu contoh makanan yang mengandung karbohidrat adalah nasi. Protein digunakan oleh tubuh untuk membantu pertumbuhan kita, baik otak maupun tubuh kita. Lemak digunakan oleh tubuh kita sebagai cadangan makanan dan sebagai cadangan energi. Lemak akan digunakan saat tubuh kekurangan karbohidrat, dan lemak akan memecah menjadi glukosa yang sangat berguna bagi tubuh kita saat kita membutuhkan energi.
Akhir-akhir ini banyak muncul di berbagai mass media bahwa harga beras mengalami kenaikan cukup tinggi sehingga untuk masyarakat yang berpenghasilan rendah tidak mampu untuk membeli beras sebagai bahan pangan pokok tersebut. Kenaikan harga beras tersebut antara lain disebabkan kurangnya pasokan akibat mundurnya musim tanam dan pertumbuhan penduduk tidak seimbang dengan pertumbuhan produksi padi. Kebutuhan beras sebagai bahan pangan pokok terus mengalami peningkatan sejalan dengan pertambahan penduduk, disamping disamping ada masyarakat yang semula makanan pokoknya non beras beralih ke beras. Di lain pihak, lahan sawah terus mengalami penurunan sejalan terjadinya alih fungsi lahan ke non pertanian seperti untuk perumahan dan industri.
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras sebagai sumber karbohidrat perlu dicari bahan pangan lain sebagai sumber karbohidrat alternatif.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun masalah yang dapat penulis rumuskan dari latar belakang diatas yaitu:
1. Apa saja yang termasuk makanan pokok orang Indonesia ?
2. Apakah Beras merupakan sumber protein ?
3. Apa saja sumber makanan pengganti beras ?
4. Bagaimanakah ketersediaan beras di Indonesia ?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini yaitu:
1.3.1 Tujuan Umum
1. Untuk mengetahui macam-macam makanan pokok.
2. Untuk mengetahui tentang sumber pengganti beras.
3. Untuk mengetahui tentang ketersediaan beras di Indonesia.
1.3.2 Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penulisan makalah ini tidak lain adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah kuliah Dasar-dasar & Proses Pembelajaran Biologi II, selain itu guna menambah pengetahuan mengenai makanan pokok orang Indonesia dan sumber-sumber pengganti makanan pokok yang tersedia di kepulauan Indonesia..





BAB II
PEMBAHASAN

2.1 MACAM - MACAM MAKANAN POKOK
Makanan pokok adalah makanan yang menjadi gizi dasar. Makanan pokok biasanya tidak menyediakan keseluruhan nutrisi yang dibutuhkan tubuh, oleh karenanya biasanya makanan pokok dilengkapi dengan lauk pauk untuk mencukupkan kebutuhan nutrisi seseorang dan mencegah kekurangan gizi. Makanan pokok berbeda-beda sesuai dengan keadaan tempat dan budaya, tetapi biasanya berasal dari tanaman, baik dari serealia seperti beras, gandum, jagung, maupun umbi-umbian seperti kentang, ubi jalar, talas dan singkong. Roti, mi (atau pasta), nasi, bubur, dan sagu dibuat dari sumber-sumber tersebut.
Kami pemakan nasi bukan pemakan gandum dan produk olahannya, atau yang lainnya. Itu karena saya lahir dan dibesarkan di Pulau Dewi Sri di Indonesia. Jadi, makanan pokok kebanyakan orang di lingkungan kami adalah nasi dari beras yang diolah dari gabah yang dipanen dari tanaman padi. Di tempat berbeda bisa jadi makanan pokoknya berbeda pula. Di beberapa daerah kering di Jawa dan Nusa Tenggara, ada yang menjadikan jagung sebagai makanan pokok. Ada pula yang menjadikan olahan singkong sebagai makanan pokok. Di Indonesia Timur lainnya, ada pula yang makanan pokoknya papeda -semacam bubur- yang merupakan olahan tepung sagu. Ada pula yang makan ubi sebagai makanan pokoknya.
Di belahan dunia yang lain, banyak yang menggunakan olahan gandum misalnya roti atau mie sebagai makanan pokok. Di beberapa wilayah di Afrika, makanan pokoknya adalah fufu dan akpu, yang merupakan olahan dari singkong. Ada pula yang memakan semovita dari tepung beras.
Untuk lebih mengetahui tentang hasil petanian tanaman pangan yang merupakan makanan pokok orang Indonesia, kita akan membahasnya satu persatu, yaitu;
2.1.1 BERAS
Padi (Oryza sativa sp.), adalah tanaman yang berasal dari Bangladesh. Dari tanaman padi dihasilkan beras, yang merupakan bahan makanan pokok sebagian besar rakyat Indonesia. Padi dapat tumbuh dengan baik di daerah panas dengan curah hujan yang tinggi dengan pengairan yang cukup. Daerah utama penghasil padi di Indonesia adalah Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara.

2.1.2 JAGUNG
Jagung (Zea mays), adalah jenis tanaman padi-padian yang berasal dari Amerika. Tanaman jagung sampai ke Indonesia dibawa oleh orang-orang Spanyol. Jagung dapat tumbuh di daerah tropis maupun daerah sub tropis. Jagung ditanam di ladang, tegalan dan sawah pada musim kemarau. Kadang-kadang jagung juga ditanam sebagai tanaman sela/tumpangsari di lahan perkebunan. Jagung tumbuh sangat baik di daerah berketinggian 0-1500 meter di atas permukaan air laut.
Jagung merupakan bahan makanan pokok bagi sebahagian penduduk Nusa Tenggara Timur, Madura, dan Minahasa. Biji jagung yang sudah masak berwarna kuning atau ungu. Butir jagung dapat dibuat tepung atau pati jagung, yang disebut Maizena. Tongkolnya yang sangat muda dapat dimakan sebagai lalap, sayur, atau acar.
Tanaman jagung yang masih muda juga sangat baik untuk makanan ternak. Daun pelindung tongkol yang sudah kering (kelobot) dapat digunakan untuk penggulung rokok atau pembungkus dodol.
2.1.3 KETELA POHON
Ketela pohon (Manihot asculenta atau Manihot utilissima), disebut juga ubi kayu atau singkong. Tanaman ini berasal dari Amerika Selatan. Ketela pohon banyak ditanam di lahan kering dengan jenis tanah yang gembur. Tanaman ini dapat hidup di daerah-daerah dengan musim kering yang lunak hingga sangat kering. Pada dataran rendah, ketela pohon banyak ditanam pada ketinggian 0-4500 meter di atas permukaan laut. Ketela pohon dimanfaatkan sebagai makanan pokok pengganti beras atau jagung, khususnya bagi penduduk di Kabupaten Gunung Kidul (Daerah Istimewa Yogyakarta).
Umbinya dapat dibuat tepung tapioka atau gaplek yang sebagian besar di ekspor ke Jepang. Selain itu umbinya dapat dibuat tape melalui proses peragian, tape di Jawa Barat dikenal dengan nama peuyeum. Daunnya yang masih muda dapat dimakan sebagai lalap dengan direbus terlebih dahulu, atau dijadikan sayur. Daerah penghasil ketela pohon di Indonesia adalah Jawa Timur, Lampung, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Utara.

2.1.4 UBI JALAR
Ubi jalar (Ipomoea batatas L.), adalah jenis tanaman semak yang berasal dari Hindia Barat. Tanaman ini sampai ke Indonesia dibawa oleh orang-orang Spanyol. Ubi jalar cocok ditanam di daerah ketinggian 0-2000 meter di atas permukaan air laut. Ubi jalar disebut juga ketela rambat. Umbinya dapat dimakan dan merupakan makanan pokok penduduk Papua Bagian Tengah. Bagi penduduk daerah lain di Indonesia, ubi jalar merupakan tambahan. Daunnya juga dapat dimakan sebagai sayuran.
Daerah utama penghasil ubi jalar di Indonesia adalah Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan.
Ubi jalar merupakan komoditas penting di Papua karena merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk di pedalaman, terutama di daerah pegunungan, selain sebagai makanan babi. Di beberapa lokasi, peran ubi jalar sangat strategis, baik dari aspek ekologi maupun sosial ekonomi. Hal ini karena peluang untuk mendapatkan komoditas substitusi ubi jalar sebagai bahan pangan relatif kecil. Selain ubi jalar, secara ekologis sangat sedikit tanaman pangan yang mampu beradaptasi dan berproduksi dengan baik dengan teknologi sederhana pada ketinggian 1.650−2.700 m dpl., seperti di kawasan lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya. Ubi jalar dapat tumbuh pada dataran rendah maupun dataran tinggi. Namun, hasil ubi jalar di dataran rendah (< 500 m dpl.) lebih tinggi daripada di dataran tinggi (> 900 m dpl.). Suhu udara yang dingin di dataran tinggi menyebabkan pertumbuhan tanaman ubi jalar kurang optimal.
Produksi ubi jalar di Papua dari tahun ke tahun cenderung menurun. Penurunan tersebut antara lain disebabkan makin berkurangnya luas panen. Namun, produksi tersebut masih jauh di atas tingkat konsumsi. Pada tahun 2007, produksi ubi jalar di Papua mencapai 101.710 ton, sementara konsumsi total hanya 31.125 ton dan konsumsi per kapita 38,36 g/hari. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan ubi jalar masyarakat Papua tercukupi oleh produksi lokal, dan bahkan lebih. Kelebihan produksi tersebut menjadi suatu tantangan untuk memanfaatkan ubi jalar menjadi aneka produk olahan yang memiliki daya saing tinggi. Pengembangan ubi jalar khususnya di Kabupaten Jayawijaya dibedakan antara untuk bahan pangan manusia dan pakan babi. Varietas ubi jalar untuk bahan pangan dibudidayakan dengan cara khusus, serta memiliki kadar pati tinggi dan rasa manis. Varietas dengan rasa umbi kurang enak dan kandungan seratnya tinggi, serta umbi yang kecil atau rusak digunakan untuk pakan babi. Terdapat puluhan bahkan ratusan jenis ubi jalar yang sesuai untuk konsumsi manusia dan dibudidayakan berdasarkan kondisi agroekosistem setempat.
2.1.5 TALAS
Talas (Colocasia esculenta), Talas merupakan makanan pokok penting di daerah Ayamaru dan Biak Barat. Rochani (1996) melaporkan, 64% masyarakat Ayamaru mengonsumsi talas sebagai makanan pokok. Meskipun masyarakat di daerah lain di Papua juga mengonsumsi talas, sifatnya hanya sebagai pangan alternatif. Beberapa puluh tahun yang lalu tanaman ini dominan di daerah perbatasan Indonesia-Papua Nugini, namun kini kedudukan talas mulai tergeser oleh ubi jalar. Produksi talas di Papua menurun drastis dari 3.739 ton pada tahun 2003 menjadi 689 ton pada tahun 2005. Namun, data Badan Bimas dan Ketahanan Pangan Provinsi Papua menunjukkan, pada tahun 2007 produksi talas Provinsi Papua mancapai 7.014 ton dengan total konsumsi 5.022 ton.
Hal ini menunjukkan bahwa produksi talas mencukupi kebutuhan untuk konsumsi masyarakat. Tanaman talas tersebar pada berbagai agroekosistem, mulai dari dataran rendah sampai tinggi dan dari lahan basah sampai lahan kering. Berdasarkan kesesuaian agroekosistem, dijumpai beragam kultivar talas. Genotipe talas di Papua sangat beragam dalam sifat morfologi, umur, dan potensi hasil. Pada umumnya sifat-sifat liar talas masih jelas terlihat bila dibandingkan dengan jenis talas yang diusahakan di Jawa. Beberapa kultivar berdaya hasil tinggi tersebut merupakan suatu potensi untuk mendapatkan verietas yang berdaya hasil tinggi dan memenuhi preferensi konsumen. Pada setiap agroekosistem di Papua ditemukan beberapa jenis talas dengan Bentuk daun Segitiga. Posisi daun Tegak, ujung Tegak, ujung menghadap ke bawah, warna helai daun Hijau kekuningan. Hijau Warna persimpangan petiol hijau ungu kuning warna utama tulang daun hijau kuning putih, pola tulang daun bentuk Y. Lapisan lilin daun tinggi, warna pelepah daun ungu kuning kehijauan.
2.1.6 SAGU
Sagu (Metroxylon sp.), merupakan bahan pangan utama bagi masyarakat Papua yang tinggal di daerah pesisir. Daerah pesisir yang berair atau rawa merupakan tempat tumbuh berbagai jenis sagu. Pohon sagu di Papua tumbuh secara alami tanpa tindakan budi daya dari penduduk setempat. Di Papua ditemukan 20 jenis sagu dan dapat dibagi ke dalam empat kelompok genetik. Terlepas dari perbedaan jumlah aksesi sagu yang dilaporkan, di Papua ditemukan berbagai jenis sagu dengan potensi hasil yang berbeda-beda. Penyebaran pohon sagu terbesar di Papua, baik jenis maupun luasannya, terdapat di Sentani, Kabupaten Jayapura. Hutan sagu umumnya tumbuh secara alami. Namun sebagian petani mulai menyadari pentingnya pelestarian hutan sagu sehingga mereka mulai melakukan kegiatan budi daya. Areal sagu di Provinsi Papua termasuk Papua Barat yang telah dimanfaatkan baru sekitar 14.000 ha, atau 0,34% dari potensi yang ada.
Dengan demikian, pemanfaatan sagu sebagai sumber pangan alternatif bagi penduduk maupun untuk kebutuhan industri sangat menjanjikan. Produksi sagu di Papua jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kebutuhan untuk konsumsi. Salah satu wilayah pusat pertumbuhan sagu alam di Papua terdapat di sekitar Danau Sentani Kabupaten Jayapura, dengan luas 4.000−5.000 ha. Pada wilayah ini ditemukan beberapa aksesi sagu yang memiliki produktivitas tinggi. Miyazaki (2004) melaporkan, beberapa aksesi sagu di Sentani menghasilkan pati cukup tinggi.
Sagu dikonsumsi sebagai menu sehari-hari dalam bentuk papeda basah maupun papeda kering/bungkus. Papeda basah adalah gelatin sagu dan dikonsumsi dengan dicampur kuah ikan dan sayuran. Papeda kering/bungkus adalah gelatin sagu yang dibungkus dengan daun fotofe (nama lokal), yaitu sejenis pisang-pisangan. Pembuatan papeda kering/bungkus biasanya dilakukan apabila penduduk hendak bepergian seperti berburu, karena lebih tahan disimpan dibandingkan dengan papeda basah. Pemanfaatan pangan lokal Papua sebagai sumber pangan alternatif disajikan pada. Pembuatan gelatin sagu dilakukan dengan mencampur tepung sagu dengan air mendidih sambil diaduk. Perbandingan antara tepung sagu dan air mendidih adalah 1 : 2, yaitu 1 kg pati sagu ditambahkan dengan air mendidih 2 liter. Dalam skala industri rumah tangga, terutama di perkotaan, sagu diolah menjadi aneka kue kering.

2.1.7 GEMBILI
Gembili (Dioscorea sp.), berbagai jenis gembili ditemukan di kebun petani di Papua. Spesies yang paling banyak adalah D. alata dan D. esculenta. Gembili biasanya ditanam dalam jumlah terbatas, meskipun penduduk sangat menyukainya. Hal ini disebabkan ketersediaan bibit terbatas dan umur panennya agak lama, yaitu 7−9 bulan. Gembili dikonsumsi dalam bentuk gembili rebus atau bakar, meskipun dapat pula diolah menjadi berbagai kue atau kolak gembili.
(Gambar . Pertumbuhan gembili di Merauke, Papua.)

Gembili belum dikembangkan sebagai industri rumah tangga, karena selain produksinya terbatas, pengetahuan petani dalam penganekaragaman produk gembili masih rendah.
Tanaman gembili tersebar di beberapa wilayah Papua, terutama di Merauke. Suku Kanum di Merauke sebagai salah satu sub suku Marind yang mendiami Taman Nasional Wasur mengonsumsi gembili secara turun-temurun sebagai makanan pokok. Namun saat musim paceklik atau belum memasuki masa panen gembili, penduduk melakukan kegiatan berburu dan sebagai pangan alternatifnya adalah sagu dan pisang. Sistem budi daya gembili sudah menyatu dengan kehidupan masyarakat suku Kanum karena mempunyai nilai budaya yang tinggi, yaitu sebagai mas kawin serta pelengkap pada upacara adat. Tanpa gembili, suku Kanum tidak dapat melaksanakan pernikahan.
Dengan demikian, budi daya gembili bagi suku Kanum merupakan suatu keharusan. Tingginya perhatian masyarakat suku Kanum terhadap gembili merupakan peluang sekaligus tantangan untuk mengembangkan gembili di masa mendatang. Masyarakat suku Kanum membudidayakan berbagai kultivar gembili, menamakan kultivar gembili berdasarkan karakter morfologi umbi. Sistem budi daya bergantung pada jenis gembili yang ditanam. Umumnya gembili dibudidayakan dengan menggunakan tajar dari bambu dengan tinggi 2,50−4 m. Untuk menjamin keberlanjutan konsumsi, gembili yang dipanen disimpan di suatu tempat dalam rumah kecil yang diberi nama keter meng. Rumah kecil tersebut terbuat dari bambu dan beratapkan kulit kayu bus (Melaleuca sp.) agar gembili terhindar dari sinar matahari langsung.

2.1.8 JAWAWUT
Jawawut (Setaria italica sp.) Jawawut merupakan sejenis tanaman serealia yang banyak dijumpai di Biak Numfor, dengan nama lokal pokem atau gandum Papua. Tanaman ini meliputi lima genera, yaitu Panicum, Setaria, Echinochloa, Pennisetum, dan Paspalum, semuanya termasuk dalam famili Paniceae. Jenis jawawut yang ditemukan di Papua termasuk spesies Setaria italica (pokem ekor macan) dan Pennicetum glaucum (pokem ekor kucing).
(Gambar. Pertumbuhan jawawut pada lahan kering di Biak Numfor, Papua.)

Dari spesies tersebut ditemukan berbagai warna. Menurut masyarakat Biak Numfor dalam Rumbrawer (2003), ada lima jenis jawawut yang dijumpai di Biak Numfor, yaitu pokem vesyek (jawawut cokelat), pokem verik (jawawut merah), pokem vepyoper (jawawut putih), pokem vepaisem (jawawut hitam), dan pokem venanyar (jawawut kuning).
Bagi penduduk Biak Numfor, jawawut telah lama dimanfaatkan sebagai bahan makanan pokok dan komoditas adat. Rumbrawer (2003) menyatakan bahwa orang Numfor telah berabad-abad menggantungkan hidupnya pada budi daya jawawut sebagai pangan pokok selain umbi-umbian dan kacang hijau. Selanjutnya dinyatakan bahwa orang Numfor adalah penanam, penghasil, distributor, dan konsumen jawawut maupun kacang hijau sejak dahulu kala. Jawawut atau gandum Papua memiliki keunggulan dibandingkan dengan jenis gandum lainnya. Jawawut mengandung karbohidrat lebih tinggi, yakni 74,16% dibanding gandum (Triticum sp.) yaitu 69%). Ini menunjukkan bahwa jawawut berpotensi sebagai sumber pangan fungsional, terutama sebagai sumber energi.
Jawawut berpotensi untuk dikembangkan dalam rangka memperkuat ketahanan pangan sebagai sumber karbohidrat pengganti beras. Jawawut memiliki keunggulan dibandingkan dengan tanaman sumber karbohidrat lain, seperti dapat tumbuh pada hampir semua jenis tanah termasuk tanah kurang subur, tahan kekeringan, mudah dibudidayakan, umur panen pendek, dan kegunaannya beragam. Petani umumnya menanam jawawut dengan sistem tambur benih secara langsung setelah lahan dibakar. Simanjuntak dan Ondikleuw (2004) melaporkan, hasil jawawut dengan cara tanam tambur benih secara langsung tanpa pemupukan lebih rendah dibandingkan dengan cara tanam pindah atau tambur benih secara larikan.


2.2 BERAS MERUPAKAN SUMBER PROTEIN

Sebagai bahan pangan pokok bagi sekitar 90 persen penduduk Indonesia, beras menyumbang antara 40-80 persen protein. Bagaimana dengan zat gizi lain?
Gabah tersusun dari 15-30 persen kulit luar (sekam), 4-5 persen kulit ari, 12-14 persen katul, 65-67 persen endosperm dan 2-3 persen lembaga. Lapisan katul paling banyak mengandung vitamin B1. Selain itu, katul juga mengandung protein, lemak, vitamin B2 dan niasin. Endosperm merupakan bagian utama butir beras. Komposisi utamanya adalah pati. Selain itu endosperm mengandung protein cukup banyak, serta selulosa, mineral dan vitamin dalam jumlah kecil.
Dalam pengertian sehari-hari yang dimaksud beras adalah gabah yang bagian kulitnya sudah dibuang dengan cara digiling dan disosoh menggunakan alat pengupas dan penggiling (huller) serta penyosoh (polisher). Gabah yang hanya terkupas bagian kulit luarnya (sekam), disebut beras pecah kulit (brown rice). Sedangkan beras pecah kulit yang seluruh atau sebagian dari kulit arinya telah dipisahkan dalam proses penyosohan, disebut beras giling (milled rice). Beras yang biasa dikonsumsi atau dijual di pasar adalah dalam bentuk beras giling.
Tujuan penggilingan dan penyosohan beras adalah untuk: (1). memisahkan sekam, kulit ari, katul dan lembaga dari endosperm beras, (2). meningkatkan derajat putih dan kilap beras, (3). menghilangkan kotoran dan benda asing, serta (4). sedapat mungkin meminimalisir terjadinya beras patah pada produk akhir. Tinggi-rendahnya tingkat penyosohan menentukan tingkat kehilangan zat-zat gizi. Proses penggilingan dan penyosohan yang baik akan menghasilkan butiran beras utuh (beras kepala) yang maksimal dan beras patah yang minimal. Proses penyosohan beras pecah kulit menghasilkan beras giling, dedak dan bekatul. Sebagian protein, lemak, vitamin dan mineral akan terbawa dalam dedak, sehingga kadar komponen-komponen tersebut dalam beras giling menurun.
Beras giling yang diperoleh berwarna putih karena telah terbebas dari bagian dedaknya yang berwarna coklat. Bagian dedak padi sekitar 5-7 persen dari berat beras pecah kulit. Makin tinggi derajat penyosohan dilakukan makin putih warna beras giling yang dihasilkan, namun makin miskin zat-zat gizi.

Komposisi Gizi :
Komposisi kimia beras berbeda-beda tergantung pada varietas dan cara pengolahannya. Selain sebagai sumber energi dan protein, beras juga mengandung berbagai unsur mineral dan vitamin. Sebagian besar karbohidrat beras adalah pati (85-90 persen), sebagian kecil pentosan, selulosa, hemiselulosa dan gula. Dengan demikian sifat fisikokimia beras terutama ditentukan oleh sifat fisikokimia patinya. Protein adalah komponen kedua terbesar beras setelah pati. Sebagian besar (80 persen) protein beras merupakan fraksi tidak larut dalam air, yang disebut protein glutelin. Sebagai bahan makanan pokok di Indonesia, beras dalam menu makanan masyarakat menyumbang sedikitnya 45 perse protein.
Beras pecah kulit rata-rata mengandung 8 persen protein, sedangkan beras giling mengandung 7 persen. Dibanding biji-bijian lainnya, kualitas protein beras lebih baik karena kandungan lisinnya lebih tinggi. Walaupun demikian lisin tetap merupakan asam amino pembatas yang utama (terkecil jumlahnya) dalam beras. Kandungan lemak beras pecah kulit adalah 1,9 persen, sedangkan pada beras giling hanya 0,7 persen. Itu berarti sekitar 80 persen lemak terdapat dalam dedak dan bekatul, yang terpisah dari beras giling saat penyosohan. Ditinjau dari segi keawetan beras, hal ini menguntungkan karena lemak mudah teroksidasi dan mengakibatkan bau tengik. Proses penyosohan juga mengurangi kadar mineral pada beras giling. Sebagian besar mineral terdapat pada bagian dedak dan hanya sekitar 28 persen yang tertinggal pada beras giling. Komposisi mineral bervariasi tergantung dari kondisi tanah dimana padi ditanam. Unsur mineral utama adalah fosfor, kalsium, magnesium dan besi.
Beras pecah kulit mengandung vitamin lebih besar daripada beras giling. Vitamin terkonsentrasi pada lapisan bekatul dan lembaga. Penyosohan menurunkan dengan drastis kadar vitamin B komplek sampai 50 persen atau lebih. Beras mengandung vitamin C dan D dalam jumlah yang sangat kecil ayau tidak sama sekali. Pulen da Pera sebagian besar butir beras terdiri dari karbohidrat jenis pati. Hampir 90 persen berat kering beras adalah pati yang terdapat dalam bentuk granula. Pati beras terbentuk oleh dua jenis molekul polisakarida, yang masing-masing merupakan polimer dari glukosa. Kedua molekul pembentuk pati tersebut adalah amilosa dan amilopektin. Citarasa dan mutu masak beras terutama ditentukan oleh kadar amilosa dan amilopektinnya. Berdasarkan kandungan amilosanya, beras dibagi menjadi empat golongan, yaitu ketan (2-9 persen), beras beramilosa rendah (9-20 persen), beras beramilosa sedang (20-25 persen) dan beras beramilosa tinggi (25-33 persen).


2.3 SUMBER MAKANAN PENGGANTI BERAS
Kebutuhan beras sebagai bahan pangan pokok terus mengalami peningkatan sejalan dengan pertambahan penduduk, disamping disamping ada masyarakat yang semula makanan pokoknya non beras beralih ke beras. Di lain pihak, lahan sawah terus mengalami penurunan sejalan terjadinya alih fungsi lahan ke non pertanian seperti untuk perumahan dan industri.
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras sebagai sumber karbohidrat perlu dicari bahan pangan lain sebagai sumber karbohidrat alternatif. Pisang sebagai salah satu komoditas yang dapat digunakan sebagai sumber karbohidrat alternatif karena memiliki kandungan karbohidrat dan kalori yang cukup tinggi.
2.3.1. PISANG
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras sebagai sumber karbohidrat perlu dicari bahan pangan lain sebagai sumber karbohidrat alternatif. Pisang sebagai salah satu komoditas yang dapat digunakan sebagai sumber karbohidrat alternatif karena memiliki kandungan karbohidrat dan kalori yang cukup tinggi. Kandungan gizi yang terdapat dalam setiap 100 gr buah pisang terdiri dari kalori 115 kalori, protein 1,2 gr, lemak 0,4 gr, karbohidrat 26,8 gr, serat 0,4 gr, kalsium 11 mg, posfor 43 mg, besi 1,2 mg, vitamin B 0,1 mg, vitamin C 2 mg, dan air 70,7 gr. Dengan komposisi tersebut, pisang dapat digunakan sebagai bahan pangan alternatif pengganti beras khususnya di daerah-daerah yang sering mengalami rawan pangan. Di beberapa daerah masyarakat mengkonsumsi pisang sebagai pengganti makanan pokok seperti di Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku.
Disamping itu pisang memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan komoditas lain yaitu :
1. Pisang dapat diusahakan pada berbagai type agroekosistem yang tersebar di seluruh nusantara.
2. Permintaan pasar cukup besar dan produksinya tersedia merata sepanjang tahun.
3. Memiliki bermacam varietas dengan berbagai kecocokan penggunaan.
4. Usahatani pisang mampu memberikan hasil waktu yang relatif singkat (1 – 2 tahun).
Disamping itu juga dapat dimanfaatkan sebagai tanaman penghijauan dan konservasi lahan karena tanaman pisang sangat baik dalam menahan air. Pisang sebagai salah satu komoditas unggulan saat ini masih tetap merupakan kontributor utama (34,5%) terhadap produksi buah nasional. Sejak tahun 2002 – 2006 produksi pisang cenderung mengalami peningkatan dengan rata-rata 4,3% pertahun. Produksi pisang pada tahun 2002 sebesar 4.384.384 ton naik menjadi 5.321.538 ton pada tahun 2006 (angka prognosa) dengan produktivitas dari 58,65 ton/ha menjadi 49,45 ton/ha.
Dengan cakupan sebaran sentar produksi yang sangat luas, maka lahan yang belum dimanfaatkan dan dapat digunakan sebagai areal penumbuhan sentra produksi pisang masih tersedia sangat luas. Tujuannya, yaitu; mengembangkan pisang sebagai sumber karbohidrat alternatif bagi keluarga dalam rangka diversifikasi pangan disamping sebagai sumber vitamin, terutama vitamin A dan C, mineral, kalsium dan zat mikro lainnya yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia.
2.3.2. SUKUN
Sukun (Artocarpus altilis), ditengah kelangkaan pangan dewasa ini, maka buah sukun dapat merupakan alternatif sumber karbohidrat, disamping itu salah satu komoditas buah yang mempunyai nilai ekonomis cukup tinggi karena dapat dijual dalam bentuk segar maupun olahan sebagai alternatif pangan pengganti beras. Pada daerah tertentu umumnya tanaman sukun ditanam pada lahan-lahan pekarangan rumah dengan pemilikan pohon antara 1-5 pohon per keluarga.
Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk Indonesia, maka permintaan terhadap pangan terutama beras, terus meningkat. Padahal sebagaimana dimaklumi upaya peningkatan produksi beras di tanah air tidak mudah untuk dilakukan karena sudah mengalami kejenuhan. Oleh karena itu, perlu adanya terobosan mencari bahan pangan alternatif pengganti beras. Salah satu bahan pangan yang direkomendasikan sebagai subsitusi beras adalah buah sukun karena mempunyai kandungan karbohidrat yang cukup tinggi.
Berdasarkan penelitian diketahui bahwa dari setiap 100 gram buah sukun segar mengandung 27,12 gram karbohidrat, 108 kalori, 17 mg kalsium, 29 mg vitamin-C, dan 490 mg kalium. Sedangkan dari setiap 100 gram sukun tua yang diolah menjadi tepung bisa menghasilkan energi sebanyak 302 kalori dan karbohidrat 78,9 gram. Dari kandungan kalori dan karbohidrat yang dihasilkan mendekati kandungan yang dimiliki beras yaitu 360 kalori dengan karbohidrat 78,9 gram.
. Sentra produksi sukun terbesar adalah Propinsi Jawa Barat sebesar 14.252 ton, Jawa Tengah sebanyak 13.063 ton, , Jawa Timur sebesar 6.400 ton, D.I Yogyakarta sebesar 6.577 ton, Kalimantan Timur sebesar 5.744 ton, Sumatera Selatan 4.321 ton, Lampung sebesar 3.458 ton, Sulawesi Selatan 3.266 ton, Nusa Tenggara Timur sebesar 1.156 ton, dan Jambi sebesar 1.921 ton.
Prospek agribisnis sukun masa mendatang sangat menjanjikan karena tanaman sukun tidak memerlukan pemeliharaan secara khusus dan dapat tumbuh subur pada kondisi ekologi yang beragam. Tanaman sukun dapat tumbuh pada pada dataran rendah sampai ketinggian 600 m dpl, tumbuh baik pada tanah liat berpasir. Tanaman sukun berproduksi setelah berumur 3–5 tahun setelah ditanam, dan dapat dipanen dua kali setahun. Panen pertama disebut dengan panen raya terjadi pada musim hujan yang jatuh pada bulan Januari-Februari, sedangkan panen kedua atau panen susulan pada musim kemarau jatuh pada bulan Juni-Juli.
Sejauh ini sukun lebih banyak dikonsumsi dalam bentuk pangan goreng-gorengan (keripik) namun, melihat potensi dan peluang pengembangan sukun yang demikian besar serta banyaknya manfaat yang dapat diperoleh dari tanaman dan buah sukun, maka sudah saatnya dicanangkan gerakan pemanfaatan buah sukun sebagai pengganti beras. Salah satu upaya yang dapat kita lakukan adalah dengan mengembangkan teknologi pengolahan pangan dari sukun, sehingga dapat menyajikan buah sukun dan hasil olahannya dalam menu makanan sehari – hari.



2.3.3 UBI ALABIO
Ubi Alabio merupakan sumber karbohidrat potensial yang dapat dijadikan bahan pangan alternatif untuk mengurangi konsumsi beras terus meningkat. Di samping sebagai bahan pokok, Ubi Alabio juga berpotensi dijadikan sebagai bahan industri rumah tangga (industri kecil) hingga industri besar. Alabio mungkin lebih dikenal sebagai nama ternak itik. Namun di Kalimantan Selatan, Alabio merupakan nama sejenis ubi lahan rawa. Masyarakat awam mengenalnya dengan sebutan ubi kelapa (Dioscorea alata L). Ubi Alabio, tanaman perdu merambat hingga mencapai 3-10 m, memiliki bentuk bulat dan bercabang, serta berwarna merah, ungu atau putih.
Biasanya masyarakat mengkonsumsi Ubi Alabio dengan cara dikukus atau direbus, dan digoreng. Ada pula yng mengolahnya menjadi sejenis makanan ala pizza, yang disebut "lempeng". Umbi yang berbentuk bulat dan bercabang ini memiliki warna merah, ungu atau putih. Sebagai bahan pangan, ubi alabio komposisinya cukup memadai. Selain sebagai sumber karbohidrat, juga mengandung Pati, protein, serat, bahkan gula.
Disamping dapat dikonsumsi melalui cara direbus dan digoreng, Ubi Alabio dapat diolah menjadi kripik. Tidak jauh berbeda seperti pembuatan kripik lainnya. Pembuatan kripik ini dapat dilakukan dengan sederhana, yaitu dikupas, diiris dan digoreng. Dapat juga setelah diiris dikukus lima menit, kemudian dijemur lalu dikeringanginkan agar tahan disimpan, baru kemudian digoreng. Untuk produk setengah jadi, Ubi Alabio dapat diolah menjadi sawut, berbentuk serpihan kering dengan kadar air sekitar 10%, sehingga tahan disimpan. Penggunaannya mudah. Cukup disiram dengan air panas, diaduk, kemudian dikukus sekitar 15 menit sampai lunak. Sawut dapat dikonsumsi pula dengan sayur dan lauk, atau dicampur dengan larutan gula merah. Sedangkan untuk pembuatan tepung adalah dengan cara menggiling sawut ubi yang berbentuk serpihan kering. Ubi ini juga berpotensi sebagai bahan baku industri seperti pati, roti, dan alkohol. Bahkan ubi alabio merah dapat dibuat sebagai bahan baku es krim.
Ubi Alabio dibudidayakan di lahan lebak dengan pola monokultur atau dapat ditumpangsarikan dengan tanaman jagung, cabe dan terong. Jenis ubi ini menuntut lahan yang gembur dan tidak terendam dengan air. Sehingga sebaiknya penanamannya dilakukan pada guludan atau surjan dan disaat air surut di musim kemarau. Bibit ubi berasal dari ubi yang dipotong-potong dari semua bagian yaitu pangkal, tengah dan ujung. Makin besar potongan, maka makin besar pula hasil ubi. Bibit disemai pada persemaian dan jika telah muncul tunas, baru ditanam di lahan. Umur panen sejak usia tanam adalah 5 bulan, ketika daun dan batang sudah mengering. Biasanya musim tanam antara bulan Mei-Juli dan panen pada bulan Oktober-Desember. Ubi Alabio sampai saat ini masih dibudidayakan secara tradisional sehingga hasilnya masih tergolong rendah yaitu berkisar 12-28 ton/ha. Padahal bila dibudidayakan dengan menerapkan teknologi usahatani, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit yang tepat, potensi hasil dapat mencapai 40-50 ton/ha.
2.3.4 UBI JALAR
Makanan pokok untuk masyarakat idealnya bersumber dari bahan baku lokal, agar biaya transportasinya dapat ditekan. Saat ini, masyarakat Indonesia yang hidup di daerah tropis dimana gandum sulit bisa tumbuh, menjadi pemakan mie dari gandum terbesar setelah RRC. Sebenarnya begitu banyak jenis umbi-umbian lainnya selain gandum yang bisa tumbuh dengan baik di Indonesia. Ubijalar merupakan salah satu dari 20 jenis pangan yang berfungsi sebagai sumber karbohidrat. Ubi jalar bisa menjadi salah satu alternatif untuk pengganti beras sebagai sumber karbohidrat.
Pilihan untuk mensosialisasikan ubi jalar, bukan pilihan tanpa alasan. (1) mempunyai produktivitas yang tinggi, sehingga menguntungkan untuk diusahakan. (2) mengandung zat gizi yang berpengaruh positif pada kesehatan (prebiotik, serat makanan dan antioksidan), serta (3) potensi penggunaannya cukup luas dan cocok untuk sumber alternatif pengganti beras. Produktivitas ubi jalar cukup tinggi dibandingkan dengan beras maupun ubi kayu. Ubi jalar dengan masa panen 4 bulan dapat berproduksi lebih dari 30 ton/ha, tergantung dari bibit, sifat tanah dan pemeliharaannya. Walaupun saat ini rata-rata produktivitas ubi jalar nasional baru mencapai 12 ton/ ha. Tetapi masih lebih besar, jika kita bandingkan dengan produktivitas gabah (+/-4.5 ton/ha) atau ubi kayu (+/-8 ton/ha), padahal masa panen lebih lama dari masa panen ubi jalar.
Penelitian mengenai ubi jalar pun kini semakin banyak dan berkembang, karena mempunyai kandungan gizi yang bermanfaat bagi kesehatan. Karbohidrat yang dikandung ubi jalar masuk dalam klasifikasi Low Glycemix Index (LGI, 54), artinya komoditi ini sangat cocok.
2.3.5 JAGUNG
Jagung (Zea mays) merupakan salah satu serealia yang strategis dan bernilai ekonomis serta mempunyai peluang untuk dikembangkan karena kedudukannya sebagai sumber utama karbohidrat dan protein setelah beras (Purwanto,2006). Senada dengan hal tersebut Zubachtirodin et al (2006) juga menambahkan dalam perekonomian nasional, jagung penyumbang terbesar kedua setelah padi dalam subsektor tanaman pangan. Jagung juga merupakan tanaman yang relatif lebih tahan terhadap kekurangan air daripada padi sehingga penanamannya dapat dilakukan setelah penanaman padi, yaitu pada musim kemarau.
Makanan pokok alternantif warga Madura, Nusa Tenggara bahkan juga warga Amerika Serikat ini juga kaya akan gizi. Tak heran bonggol berambut merah ini juga diminati anak-anak. Kandungan gizi dalam tiap biji jagung adalah: energi 150 kal, protein 1,6 g, lemak 0,6 g, kalsium 11 mg, dan karbohidrat 11,40 g.
Jagung memiliki potensi besar sebagai alternatif makanan pokok selain beras. Hal tersebut dikarenakan keterbatasan sumberdaya terutama lahan irigasi yang menjadi permasalahan pada produksi beras, relatif tidak terjadi pada jagung. Jagung dapat ditanam setelah masa penanaman padi yaitu pada musim kemarau sehingga produksi makanan pokok tetap berlangsung. Selain itu bila dilihat dari kandungan nutrisinya, jagung juga merupakan sumber karbohidrat yang baik.
Diversifikasi makanan pokok dengan jagung sebagai alternatif selain beras, harus diikuti dengan perancangan olahan jagung untuk meningkatkan penerimaan konsumen. Produk olahan yang sekiranya dapat mencakup beberapa aspek diatas adalah beras jagung.
Nasi jagung telah lama dikenal oleh masyarakat namun karena proses preparasi dari bentuk jagung pipil hingga nasi yang lama, meliputi proses penumbukan berulang serta penjemuran, maka penerimaannya sebagai bahan pangan pokok lebih rendah daripada nasi biasa. Rasa nasi jagung, serperti halnya nasi dari beras, dipengaruhi oleh kandungan amilosa. Makin rendah kandungan amilosa, rasa nasi jagung menjadi semakin pulen. Pati jagung normal mengandung 74-76% amilopektin dan 24-26% amilosa. Dengan kadar amilosa tersebut diharapkan nasi yang terbentuk dari beras jagung masih bersifat pulen dan tidak keras saat dingin karena kadar amilosa yang tidak terlalu tinggi.
Pengolahan jagung menjadi beras jagung menciptakan alternatif makanan pokok selain beras dengan sifat organoleptis yang hampir sama, rasa yang netral, dan waktu preparasi yang sama dengan nasi dari beras. Didukung dengan keunggulan kandungan nutrisi serta keinginan masyarakat untuk mencoba mengkonsumsi makanan yang baru, beras jagung memiliki potensi yang baik sebagai alternatif makanan pokok selain beras. Dengan demikian diharapkan beras jagung dapat mensukseskan program diversifikasi pangan pemerintah dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap beras sehingga menciptakan swasembada pangan dan ketahanan pangan dapat terwujud.
2.3.6 KETELA POHON
Nasi Uleng sebagai Makanan Pokok; Gaplek: Pilihan Pengganti Beras yang EkonomisNasi uleng merupakan salah satu bentuk olahan tiwul dan biasa dikonsumsi di Wonogiri. Bahan dasar tiwul adalah gaplek atau ketela pohon yang dikeringkan setelah kulitnya dihilangkan. Nasi uleng harganya relatif murah sehingga membiasakan mengkonsumsi nasi uleng berarti penghematan.
Gaplek adalah makanan pokok pengganti nasi (terutama di daerah Banjarnegara-Jawa Tengah), terbuat dari ketela pohon yang diolah secara tradisional sampai terbentuk butiran-butiran kecil seperti beras, dan disimpan sebagai cadangan paceklik.
2.4 KETERSEDIAAN BERAS DI INDONESIA
Pemerintah berdalih hampir seluruh rakyat Indonesia makanan pokoknya adalah beras, maka dianggap perlu untuk melakukan campur tangan terhadap harga beras dengan menetapkan harga minimum dan sekaligus menentukan patokan harga tertinggi. Adapun tujuan dari intervensi pemerintah tersebut adalah untuk menciptakan stabilitas politik sekaligus juga stabilitas harga beras dengan dalih demi kepentingan rakyat. Tetapi sebenarnya hanya kepentingan sisi kepentingan politik.
Penolakan keras terhadap impor beras yang disampaikan oleh beberapa kalangan, termasuk : petani padi, Gubernur, DPR, HKTI dan pengamat perberasan sejak penghujung tahun 2005 lalu menunjukkan adanya empati kepada petani dan merupakan hal yang amat positif dalam upaya melindungi kekuatan nilai tukar ekonomi petani. Dari segi kualitas, dibandingkan dengan total konsumsi beras yang mencapai hampir 31 juta ton per tahun, impor 110.000 ton sebenarnya merupakan jumlah yang relatif kecil, hanya 0,36% dari total kebutuhan beras nasional. Berkaitan dengan isu impor beras ini, banyak kalangan mempertanyakan tentang program perberasan nasional. Masih perlukah Indonesia mengimpor beras, mengapa tidak memprogramkan untuk mengekspor beras ?. Bukankah padi merupakan tanaman asli wilayah tropis yang dapat diproduksi sepanjang tahun di Indonesia ? Menapa negaranegara tetangga seperti Thailand, Vietnam dan Myanmar mampu mengkespor beras sedangkan Indonesia belum.
Sementara kelemahan pertanian di Indonesia pada umumnya masih terletak pada kelemahan penanganan pascapanen. Misalnya belum adanya teknologi yang merakyat untuk melakukan penyimpanan bahan pangan. Masih langkanya industri pengolahan sehingga beras yang saat ini dapat disimpan secara tradisional dalam jangka waktu yang lama masih dianggap sebagai produk unggulan.
Semakin merosotnya lahan-lahan produktif untuk pertanian padi memang juga menjadi dilema yang serius, sementara rakyat Indonesia yang sudah telanjur enak makan beras semakin bertambah. Kurangnya perhatian pemerintah pusat dan daerah terhadap petani juga turut menjadi pemicu akan alih fungsi lahan pertanian dan pindahnya tenaga kerja ke sektor lain yang dianggap dapat menjanjikan pendapatan yang lebih besar.
Dilema bagi petani, komponen-komponen produksi beras seperti pupuk, obat-obatan, bahan bakar atau suku cadang traktor, kenaikan upah pekerja, juga menjadi rintangan besar untuk meningkatkan kesejahteraannya, ditambah lagi kurangnya subsidi terhadap petani bahkan saat ini hampir tidak ada. Sehingga, kalaupun ada petani ingin melakukan diversifikasi terhadap lahannya terbentur keterbatasan modal, apalagi bunga bank juga tinggi.
Sebenarnya ada sumber daya lain yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan kalau sebagai negara kepulauan, kita punya daerah misalnya untuk menghasilkan jagung, kita punya daerah untuk menghasilkan ubi, komoditi perkebunan dan lain sebagainya, yang semuanya sangat lemah pada penanganan pascapanen dan teknologi pendukungnya.
Data luas lahan potensial untuk pertanian sawah menurut Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat) tersedia 10 juta ha. Potensi lahan tersebut harus dimanfaatkan agar rakyat Indonesia tidak lagi menderita busung lapar dan negara harus disibukkan urusan impor beras, padahal kalau mau sebenarnya Indonesia dapat mengekspor beras. Memproduksi beras bagi kebutuhan pangan untuk 223 juta orang memang tidak cukup hanya dengan perdebatan, tetapi perlu tindakan nyata, termasuk terutama gerakan mencetak sawah baru guna memberikan kesempatan kepada petani padi Indonesia untuk dapat swasembada beras secara berkelanjutan dan untuk mengekspor beras.
Janji-janji seorang politikus yang sekarang sedang berkuasa, yang dulunya semasa kampanye akan melakukan revitalisasi sektor pertanian hanyalah mimpi belaka dan akhirnya rakyat yang sudah telanjur terpesona hanya bisa gigit jari.


BAB III
PENUTUP
3.1 SIMPULAN
1. Dari permasalahan yang penulis angkat dapat disimpulkan:
1. Bahwa di dalam kita membaca buku juga harus mengerti dan memahami tentang sumber-sumber makanan pokok yang ada di alam atau khususnya yang ada di sekitar kita. Macam-macam makanan pokok yang ada di Indonesia, yaitu; Beras, Jagung, Ketela pohon, Ubi jalar, Talas, Sagu, Gembili, Jawawut, dan lain-lain.
2. Beras merupakan sumber protein, karena di dalam beras terkandung berbagai zat yang bisa menghasilkan energi bagi tubuh manusia untuk beraktivitas.
3. Adapun sumber-sumber pengganti beras, yaitu; Pisang, Sukun, Ubi Alabio, Ubi Jalar, Jagung, Ketela Pohon, dan lain-lain. Untuk saat ini ketersediaan beras di Indonesia hampir mencukupi, walaupun Indonesia masih mengimport beras dari luar.
4. Rakyat Indonesia sebagian besar makanan pokoknya beras, yaitu hampir 90%. Semakin merosotnya lahan-lahan produktif untuk pertanian, karena kurangnya perhatian pemerintah terhadap petani, komponen-komponen produksi beras harganya terus naik, kurangnya subsidi pemerintah terhadap petani, ini menjadi pemicu alih fungsi lahan pertanian. Sedangkan kebutuhan beras setiap tahun terus meningkat sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk, maka munculah keinginan untuk mencari sumber-sumber pangan pengganti beras yang harganya lebih terjangkau dari pada harga beras yang terus meroket. Kurangnya teknologi dalam bidang pertanian yang menyebabkan produksi beras merosot, yang mengakibatkan negara Indonesia harus mengimport beras meskipun hanya 0,36% dari total kebutuhan beras nasional.
3.2 SARAN-SARAN

3.2.1 Pembaca dapat menggunakan makalah ini untuk menambah pengetahuan tentang Makanan Pokok..
3.2.2 Sehingga pembaca dapat memperluas pengetahuannya mengenai macam-macam makanan pokok, sumber makanan pokok, pengganti makanan pokak dan ketersediaan makanan pokok di negara Indonesia.














DAFTAR PUSTAKA
Budi, I.M. 2003. Pemanfaatan gandum Papua (pokem) sebagai sumber pangan alternative untuk menunjang ketahanan pangan masyarakat Papua. Aviable at : http://andy.web.id/makanan-pokok.php. accessed Oktober 2009.

Rumawas, F. 2004. Ubi-ubian sebagai salah satu pangan spesifik lokal dan strategi pengembangannya di Provinsi Papua. . Aviable at : http://www.e-dukasi.net/mapok/mp_full.php?id=382&fname=materi03.html accessed Oktober 2009.

Limbongan, J., A. Hanafiah, dan M. Nggobe. 2005. Pengembangan Sagu Papua. Aviable at : http://www.pustaka-deptan.go.id/inovasi/kl08081.pdf. accessed Oktober 2009.

Ondikleuw, M., M.S. Lestari, Sudarsono, dan A.W. Rauf. 2008. Karakterisasi, Identifikasi, dan konservasi gembili di Papua.
Aviable at : http://hersynanda.blog.uns.ac.id/2009/04/19/diversifikasi-makanan-pokok-beras-jagung

. accessed Oktober 2009.

0 Comments:

Post a Comment



Minggu, 12 Juni 2011

MORFOLOGI TUMBUHAN

Diposkan oleh aryenii prasetyo di 02.22

skip to main | skip to sidebar

sains

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Tumbuhan merupakan salah satu penopang hidup manusia yang sangat penting. Di samping itu, tumbuhan juga memiliki peranan yang sangat penting untuk perkembangan mahluk hidup. Untuk itu mahasiswa yang mempelajari ilmu sains diharapkan bisa meneliti morfologi dari pada berbagai jenis tumbuhan..
Dari permasalahan di atas, mahasiswa diharapkan bisa membahas tentang pengamatan di lapangan tentang morfologi daun, batang dan akar.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, kami akan menyampaikan hal-hal yang berhubungan dengan morfologi daun, batang dan akar. Adapun masalah-masalah yang kami sampaikan adalah:
1. Apa saja tanaman-tanaman yang diamati ?
Bagaimana bentuk morfologi dan filotaksis daun, batang dan akar pada tanaman tertentu ?
3. Bagaimana perbedaan morfologi tumbuhan dikotil dan monokotil ?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.1 Mahasiswa bisa mengenal berbagai jenis tumbuhan.
1.2 Mahasiswa dapat mendeskripsikan secara morfologis dan filotaksis, berbagai jenis tumbuhan yang di jumpai.
1.3 Mahasiswa dapat mengklasifikasikan tumbuhan yang diamati sesuai dengan system tata nama (nomenclature) tumbuhan.
1.4 Mahasiswa mampu mengkomunikasikan hasil pengamatan yang dilakukan, baik secara lisan maupun tulisan dengan membuat makalah.
1.5 Mahasiswa mempunyai keterampilan sosial (sosial skills) seperti: ketermpilan bekerja dalam kelompok, keterampilan melakukan observasi, dan ketermpilan berkomunikasi lisan dan tulisan.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang didapat dalam mengadakan observasi di areal kampus adalah:
1.1 Mendapat pengalaman dan ilmu selama melakukan observasi.
1.2 Menemukan dan melihat secara langsung tumbuhan yang ada di areal kampus.
1.3 Mampu mengklasifikasikan morfologi dan filotaksis tumbuhan yang ditemukan.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Morfologi Tanaman Bayam

Nama latin: (Amarantus Spec div)
System pucuk: Terdapat batang dan daun yang deluk pada buku atau internodus. Pada ketiak muncul kuncup aksilar dan pada ujung muncul kuncup internal.
System akar: Tunggang atau dikotil.
Deskripsi tanaman: Tanaman bayam termasuk semak, berbatang tegak, bentuk bulat, warna hijau kekuningan. Daun tunggal, berseling, bentuk bulat telur (ovatus), tepi rata (integer), ujung runcing (acutus), pangkal tumpul, warna hijau muda sampai hijau kekuningan. Perbungaan bentuk malai, melekat di ketiak daun, kelopak berbagi lima, mahkota bunga berwarna hijau keunguan. Buah batu, biji bulat, mengkilat, warna coklat kehitaman
Habitat: Tumbuh liar dan sebagai tanaman budidaya, sebagai sayuran, hidup pada tanah lembab pada dataran rendah hingga 900 M di permukaan laut.


2.2 Morfologi Tanaman Tomat

Nama latin: (Solanum lycopersicum L. )
System pucuk: Terdapat batang atau daun yang melekat pada buku atau internodus, termasuk daun majemuk menyirip gasal, tidak sempurna. Bunga tumbuh di ketiak, kuncup aksiler yang merupakan bunga sempurna karena terdapat putik dan benang sari sehingga dapat langsung terjadi pembuahan. Bisa juga pada ujung batang terdapat kuncup terminal.
System akar: Tunggang atau dikotil.

Deskripsi tanamam : Tanaman tomat berasal dari Amerika tropis, ditanam sebagai tanaman buah di ladang, pekarangan, atau ditemukan liar pada ketinggian 1--1600 m dpl. Tanaman ini tidak tahan hujan, sinar matahari terik, serta menghendaki tanah yang gembur dan subur. Terna setahun ini tumbuh tegak atau bersandar pada tanaman lain, tinggi 0,5--2,5 m, bercabang banyak, berambut, dan berbau kuat. Batang bulat, menebal pada buku-bukunya, berambut kasar warnanya hijau keputihan. Daun majemuk menyirip, letak berseling, bentuknya bulat telur sampai memanjang, ujung runcing (acutus), pangkal membulat, helaian daun yang besar tepinya berlekuk, helaian yang lebih kecil tepinya bergerigi, panjang 10--40 cm, warnanya hijau muda. Bunga majemuk, berkumpul dalam rangkaian berupa tandan, bertangkai, mahkota berbentuk bintang, warnanya kuning. Buahnya buah buni, berdaging, kulitnya tipis licin mengkilap, beragam dalam bentuk maupun ukurannya, warnanya kuning atau merah. Bijinya banyak, pipih, warnanya kuning kecokelatan. Buah tomat bisa dimakan langsung, dibuat jus, saus tomat, dimasak, dibuat sambal goreng, atau dibuat acar tomat. Pucuk atau daun muda bisa disayur. Buah tomat yang umum ada di pasaran bentuknya bulat. Yang berukuran besar, berdaging tebal, berbiji sedikit, dan berwarna merah disebut sebagai tomat buah. Tomat jenis ini biasa disantap segar sebagai buah. Yang berukuran lebih kecil dikenal sebagai tomat sayur karena digunakan di dalam masakan. Yang kecil-kecil sebesar kelereng disebut tomat ceri dan digunakan untuk campuran membuat sambal atau dalam hidangan selada.
Habitat: Sebagai tanaman budidaya, sebagai campuran sambal, hidup pada tanah lembab pada dataran rendah hingga 900 M di permukaan laut.

2.3 Morfologi Tanaman Padi

Nama latin: (Oryza sativa)
System pucuk: Terdapat batang dan daun yang melekat pada buku atau internodus. Pada ujung batang keluar kuncup atau bunga terminal. Bunga ini terdapat putik dan benang sari sehingga dapat terjadi pembuahan, bunga akan menjadi buah.
System akar: berakar serabut atau monokotil.
Deskripsi tanamam : Tanaman padi termasuk dalam suku padi-padian atau Poaceae (sinonim Graminae atau Glumiflorae). Sejumlah ciri suku (familia) ini juga menjadi ciri padi, misalnya
• daun berbentuk lanset (sempit memanjang),
• urat daun sejajar,
• tepi daun rata (integer),
• ujung daun runcing (acutus),
• permukaan daun kasar dan berbulu,
• memiliki pelepah daun,
• bunga tersusun sebagai bunga majemuk dengan satuan bunga berupa floret,
• floret tersusun dalam spikelet, khusus untuk padi satu spikelet hanya memiliki satu floret,
• buah dan biji sulit dibedakan karena merupakan bulir (Ing. grain) atau kariopsis.
Habitat: Sebagai tanaman budidaya, sebagai makanan pokok, hidup pada tanah lembab dan becek pada dataran rendah hingga 100 M di permukaan laut.

2.4 Morfologi Tanaman jagung

Nama latin: (Zea mays L.)
System pucuk: Terdapat batang ,daun yang duduk atau melekat pada internodus. Jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu tanaman (monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas bunga dari suku Poaceae, yang disebut floret. Pada jagung, dua floret dibatasi oleh sepasang glumae (tunggal: gluma). Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol. Tongkol tumbuh dari buku, di antara batang dan pelepah daun.
System akar: berakar serabut atau monokotil.
Deskripsi tanamam : Tanaman jagung adalah tanaman semusim. Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif.
Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung umumnya berketinggian antara 1m sampai 3m, ada varietas yang dapat mencapai tinggi 6m. Tinggi tanaman biasa diukur dari permukaan tanah hingga ruas teratas sebelum bunga jantan. Meskipun beberapa varietas dapat menghasilkan anakan (seperti padi), pada umumnya jagung tidak memiliki kemampuan ini. Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang, merupakan bangun pita (ligulatus), ujung daun runcing (acutus), tepi daun rata (integer), Antara pelepah dan helai daun terdapat ligula. Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut. Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung umumnya berketinggian antara 1m sampai 3m, ada varietas yang dapat mencapai tinggi 6m. Tinggi tanaman biasa diukur dari permukaan tanah hingga ruas teratas sebelum bunga jantan. Meskipun beberapa varietas dapat menghasilkan anakan (seperti padi), pada umumnya jagung tidak memiliki kemampuan ini.
Morfologi pokok jagung :
1. Jagung adalah tanaman semusim yang mengambil masa lebih kurang 3 bulan untuk matang.
2..Akar sokong pada pangkal batang menolong menyokong pokok.
3. Batang runggal, berbentuk silinder, panjang dan ditutupi dengan upih daun dan mempunyai buku yang lebih rapat dekat pada pangkal.
4. Daun tirus dan panjang dengan urat yang selari.
5. Rambut jagung (jambak bunga jantan) yang terdapat di hujung batang pokok menghasilkan biji-biji debunga sebelum bunga betina matang.
6. Tongkol yang terdapat di ketiak daun pokok matang mengandungi biji benih jagung.
7. Jambak bunga betina (stil) yang panjang dan berupa sutera terdapat di tongkol muda dan menerima cepu bunga jantan.
8. Pembuahan adalah dibantu oleh angin.
9. Biji atau kernal mengandungi tiga bahagian yaitu, perikarpa, endosperma dan embrio.

Habitat: Tanaman jagung sebagai tanaman budidaya, sebagai sayuran, hidup pada tanah lembab pada dataran rendah hingga 500 M di permukaan laut.
2.5 Klasifikasi Tanaman Menurut Klasifikasi Tradisional dan Klasifikasi Raunkier
NO Spesies Tumbuhan Bentuk Hidup
Klasifikasi Tradisional Klasifikasi Raunkier Keterangan
1 Adenium Semak Nanofanerofit Tinggi 0,25 - 2 m
2 Kamboja Pohon Kecil Mesofanerofit Tinggi 7,5 - 30 m
3 Melati Air Herba Hidrofit Hidup di air
4 Kembang sepatu Semak Nanofanerofit Tinggi 0,25 - 2 m
5 Mangga Pohon Kecil Mesofanerofit Tinggi 7,5 - 30 m
6 Cokelat Pohon Kecil Mikrofanerofit Tinggi 2 - 7,5 m
7 Kopi Pohon Kecil Nanofanerofit Tinggi 0,25 - 2 m
8 Pisang Terna Terofit Tinggi 2 – 4 m
9 Alpukat Pohon Mesofanerofit Diameter .> 40 cm
10 Jambu Biji Pohon Kecil Mesofanerofit Tinggi 7,5 - 30 m
11 Kelapa Pohon Mesofanerofit Diameter .> 40 cm
12 Nangka Pohon Megafanerofit Diameter .> 40 cm
13 Cempaka Pohon Kecil Mesofanerofit Tinggi 7,5 - 30 m
14 Melinjo Pohon Kecil Mesofanerofit Tinggi 7,5 - 30 m
15 Mengkudu Pohon Kecil Mesofanerofit Tinggi 7,5 - 30 m
16 Durian Pohon Mesofanerofit Diameter .> 40 cm
17 Cabai Semak Nanofanerofit Tinggi 0,25 - 2 m
18 Melon Herba Terofit Tinggi 0,25 - 2 m
19 Tomat Herba Terofit Tinggi 0,25 - 2 m
20 Blimbing Pohon Kecil Mikrofanerofit Tinggi 2 - 7,5 m
2.6 Perbedaan Tumbuhan Dikotil dan Monokotil
(1) Perbedaannya;
NO Bagian Tumbuhan Dikotil Monokotil
1 Bentuk akar Memiliki sistem akar tunggang Memiliki sistem akar serabut
2 Bentuk sumsum atau pola tulang daun Menyirip atau menjari Melengkung atau sejajar
3 Kaliptrogen / tudung akar Tidak terdapat ada tudung akar
Ada tudung akar / kaliptra
4 Jumlah keping biji atau kotiledon Ada dua buah keping biji satu buah keping biji saja
5 Kandungan akar dan batang Ada kambium Tidak terdapat kambium
6 Jumlah kelopak bunga Biasanya kelipatan empat atau lima Umumnya adalah kelipatan tiga
7 Pertumbuhan akar dan batang
Bisa tumbuh berkembang menjadi membesar Tidak bisa tumbuh berkembang menjadi membesar
8 Batang Bercabang, tidak beruas-ruas Tidak bercabang, tetapi berruas-ruas
(2). Manfaat mempelajari bentuk hidup suatu tumbuhan adalah kita dapat mengklasifikasikan dan membandingkan struktur komunitas, misalnya; Struktur dikotil dan monokotil, jenis-jenis tumbuhan, dan manfaat dari pada tumbuhan tersebut bagi kehidupan manusia.
(3). Perbedaan antara Klasifikasi Tradisional dengan Klasifikasi Raunkier:
A. Klasifikasi Tradisional di dasarkan atas macam batangnya.
B. Klasifikasi Raunkier di dasarkan atas jarak antaara permukaan tanah dan posisi tinggi kuncup-kuncup yang membawa tumbuhan pada musim yang tidak menguntungkan.

2.7 Morfologi Daun Jeruk Bali
Klasifikasi :
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Sapindales
Famili : Rutaceae
Genus : Citrus
Spesies : Citrus grandis
Nama dagang/nama umum :Jeruk Bali
Dalam klasifikasi tradisional Jeruk Bali termasuk pohon kecil, dan dalam klasifikasi Raunkier, termasuk Mikrofanerofit (tumbuhan di udara).
Deskripsi tanamam : Tumbuhan jeruk mempunyai bentuk helaian daun bangun ovalis, ujung helaian daun tumpul (serratus), tepi helaian daun beringgit (crenatus), pangkal helaian daun meruncing, tekstur daun tebal, permukaan daun licin (lacvis) dan mengkilap (nitidus), daun tunggal menyirip, termasuk bangun daun tidak lengkap.
Batang ( caulis ) : Tanaman citrus memiliki batang yang tergolong dalam batang berkayu ( lignosus ), yaitu batang yang biasanya keras dan kuat, karena sebagian besar terdiri dari kayu. Batangnya berbentuk bulat ( teres ), berduri ( spinosus ) pendek, kaku dan juga tajam. Selain itu arah tumbuh batangnya mengangguk ( nutans ), dimana batangnya tumbuh tegak lurus ke atas tetapi ujungnya lalu membengkok kembali ke bawah.
System akar: Tunggang atau dikotil.
Bunga jeruk bali majemuk ( inflorescentia ), tersusun dalam malai yang keluar dari ketiak daun, bunga berbentuk bintang, diameter 1.5 - 2.5 cm, berwarna putih, baunya harum.
Jeru Bali mempunyai rumus daun 2/5.


2.8 Morfologi Daun Kamboja (Jepun)
Klasifikasi :

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Apocynales
Famili : Apocyanaceae
Genus : Plumeria
Spesies : Plumeria acuminate Ait.


Nama dagang/nama umum :Kamboja, Kamoja
Dalam klasifikasi tradisional Kamboja termasuk pohon kecil, dan dalam klasifikasi Raunkier, termasuk Mesofanerofit (tumbuhan di udara).
Deskripsi tanamam : Tanaman kamboja mempunyai pohon dengan tinggi batang 1,5 sampai 6 m, bengkok dan mengandung getah. Tumbuhan asal Amerika ini biasanya ditanam sebagai tanaman hias di pekarangan, taman. Tumbuh di daerah dataran rendah 1 sampai 700 m di atas permukaan laut. Rantingnya besar, daun berkelompok rapat pada ujung ranting, bertangkai daun panjang, daun memanjang berbentuk lanset (lanccolatus), panjang daun 20-40 cm, lebar 6-12,5 cm. Ujung daun meruncing (acuminatus), pangkal daun menyempit , tepi daun rata (integer), tulang daun menyiri, permukaan daun kasap (scaber), warna daun hijau muda sampai hijau tua tidak berbulu. Termasuk bangun daun tidak lengkap. Bunga dalam malai rata berkumpul di ujung ranting, kelopak kecil ,sisi dalam tanpa kelenjar, mahkota berbentuk corong, sisi dalam berembut, sisi luar kemerahan atau putih, sisi dalam agak kuning , putih, atau merah, berbau harum. Tangkai putik pendek, tumpul, lebar, bakal buah satu atau dua, saling berjauhan, berbentuk tabung gepeng memanjang, panjang 18-20 cm, lebar 1-2 cm.
Batang ( caulis ) : Batang kamboja berkayu dengan warna putih kekuning-kuningan dibungkus kulit yang tebal.
System akar: Tunggang atau dikotil.
Kamboja mempunyai rumus daun 3/8.


2.9 Morfologi Daun Andong
DAUN ANDONG (Cordyline Frusticosa)
Kasifikasi :
• Divisi: Spermatophyta
• Sub divisi: Angiospermae.
• Kelas: Monocotyledoneae
• Bangsa: Liliales
• Suku: Liliaceae.
• Marga: Cordyline
• Jenis: Cordyline frusticosa (L) A. CheV

Dalam klasifikasi tradisional Andong termasuk perdu, dan dalam klasifikasi Raunkier, termasuk Kamefit (tumbuhan permukaan tanah).

Deskripsi tanamam : . Daun andong termasuk daun tunggal dan, Dengan bentuk daun memanjang (oblongus), daun menempel pada batang, pangkal daun dan ujung daun runcing (acutus), tepi daun rata (integer), permukaan daun licin (lacvis), panjang daun 20-60 cm, lebar daun 10-13 cm, panjang pelepah 5-10 cm, pertulangan daun menyirip, warna daun hijau kemerahan, termasuk daun lengkap. Bunga majemuk, di ketiak daun, tangkai panjang, bulat bercabang dan daun pelindung panjang kurang lebih 1,4 cm.

Batang ( caulis ) : Batang andong bulat, keras, bercabang, putih kotor, bekas dudukan daun nampak jelas.
System akar: berakar serabut atau monokotil.
Andong mempunyai rumus daun 5/13.


1. Fenomena perkembangan daun;

Fenomena adalah, mula-mula meristem afeks daun aktif sehingga daun bertambah tinggi setelah aktivitas meristem afeks mereda, maka meristem inter kalar yang terletak pada bagian pangkal aktif memperpanjang daun, helaian daun yang pipih dan lebar disebabkan oleh aktivitas meristem marginal hanya aktif pada tempat-tempat tertentu disepanjang sumbu daun maka pada bagian yang aktif tersebut akan menghasilkan tonjolan seperti halnya bakal daun dan akan berkembang menjadi anak daun dengan cara yang sama seperti daun tunggal. Maka akan terbentuk daun majemuk. Ibu tulang daun menjadi lebih tebal dari helaian daun karena aktivitas meristem marginal tidak aktif, maka daun akan memipih dalam bidang vertical sehingga terbentuk daun ensiformis (daun seperti pedang). Dalam perkembangan daun kadang-kadang terdapat sel daun yang mati seperti pembentukan lubang daun.

2. Morfologi daun dapat dipengaruhi oleh lingkungan, yaitu; dipengaruhi oleh:

suhu, unsur hara dalam tanah, kelembapan, keadaan tanah. Contohnya:
Ø Daun yang berlubang-lubang atau bolong, disebabkan oleh ulat yang memakan daun tersebut.
Ø Daun yang kecil-kecil dan berkerut, disebabkan oleh struktur tanah yang kering dan kurangnya unsure hara dalam tanah.
Ø Daun yang warnanya kuning, disebabkan oleh suhu yang tinggi atau panas dan tanah yang kering.
Ø Daun yang lebar dan hijau, disebabkan oleh keadaan tanah yang lembab dan tersedianya suplai air yang cukup.
Ø

2. Perbedaan morfologi daun dikotil dan daun monokotil adalah:
NO Bagian Daun Dikotil (Tunggang) Monokotil (Serabut)
1 Tulang Daun Menyirip atau menjari Melengkung atau Sejajar
2 Bentuk Daun Bulat atau Oval Memanjang


4. Cara menentukan daun tunggal dengan daun majemuk adalah jika satu tangkai daun hanya mendukung satu helaian daun itu berarti daun tunggal. Jika satu tangkai bisa mendukung lebih dari satu helaian daun itu berarti daun majemuk.


BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Dari penelitian yang kami lakukan dapat disimpulkan:
1. Bahwa di dalam kita membaca buku juga harus mengerti dan memahami tentang struktur tanaman, yaiyu; mulai dari daun, batang dan juga akar. Kita bisa mengklasifikasikan semua jenis tanaman yang ada di muka bumi ini.

2. Pada dasarnya kita diajarkan untuk bisa mempelajari dan memahami lingkungan yang ada di sekitar kita.



3.2 SARAN-SARAN
3.2.1 Pembaca dapat menggunakan makalah ini untuk menambah pengetahuan tentang Morfologi Tumbuhan..
3.2.2 Sehingga pembaca dapat memperluas pengetahuan mengenai Morfologi Tumbuhan.
3.2.3 Agar kita mampu mengenal cara-cara mengklasifikasikan berbagai macam tumbuhan.



DAFTAR PUSTAKA


Tjitrosoepomo, Gembong, 1985, Morfologi Tumbuhan, 81-82, 126, 236-237, Gajah Mada University Press, Yogyakarta
Putu Budi Adnyana, Ida Bagus Putu Arnyana, 2000, Morfologi Tumbuhan, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Singaraja
Anonim, 2005, Citrus, http://www.biochemj.org


 

DESKRIPSI TANAMAN ALPUKAT DAN AREN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Tumbuhan merupakan salah satu penopang hidup manusia yang sangat penting. Di samping itu, tumbuhan juga memiliki peranan yang sangat penting untuk perkembangan mahluk hidup. Untuk itu mahasiswa yang mempelajari ilmu sains diharapkan bisa mendeskripsikan dari pada berbagai jenis tumbuhan..
Dari permasalahan di atas, mahasiswa diharapkan bisa membahas tentang pengamatan di lapangan tentang deskripsi tentang akar, batang, daun, bunga, buah, biji, serta bisa mengklasifikasikannya.

1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, penulis akan menyampaikan hal-hal yang berhubungan dengan akar, batang, daun, bunga, buah, biji dari tanaman Alpukat dan Aren serta klasifikasinya. Adapun masalah-masalah yang kami sampaikan adalah:
1. Bagaimana bentuk dari tanaman Alpukat dilihat dari akarnya, batangnya, daunnya, bunganya, buahnya, bijinya ?
2. Bagaimana bentuk dari tanaman Aren dilihat dari akarnya, batangnya, daunnya, bunganya, buahnya, bijinya ?
3. Apa saja perbedaan tumbuhan dikotil dan monokotil ?

1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.1 Mahasiswa bisa mengenal berbagai jenis tumbuhan.
1.2 Mahasiswa dapat mendeskripsikan berbagai jenis tumbuhan yang di jumpai.
1.3 Mahasiswa dapat mengklasifikasikan tumbuhan yang diamati sesuai dengan system tata nama (nomenclature) tumbuhan.
1.4 Mahasiswa mampu mengkomunikasikan hasil pengamatan yang dilakukan, baik secara lisan maupun tulisan dengan membuat makalah.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Deskripsi Tanaman Alpukat

Sejarah Singkat

ASAL USUL ALPUKAT
Asal kata alpukat atau avokad berasal dari bahasa Aztek yaitu ahuacatl. Suku Aztek berada di daerah Amerika Tengah, Meksiko dan Guam. Karena itu, buah ini pada awalnya dikenal di daerah tersebut. Kemudian pada saat pasukan Spanyok memasuki wilayah tersebut sekitar awal abad ke-16, buah alpukat bersama buah lainnya dari daerah tersebut diperkenalkan kepada penduduk Eropa. ), alpukat, atau Persea americana ialah tumbuhan penghasil buah. Banyak dibudidayakan di Amerika Selatan dan Amerika Tengah. Orang pertama yang memperkenalkan buah alpukat kepada penduduk Eropa yaitu Martín Fernández de Enciso, salah seorang pemimpin pasukan Spanyol. Dia memperkenalkan buah ini pada tahun 1519 kepada orang-orang Eropa. Pada saat yang sama juga, para pasukan Spanyol yang menjajah Amerika Tengah juga memperkenalkan coklat, jagung dan kentang kepada masyarakat Eropa. Sejak itulah buah alpukat mulai disebar dan dikenal oleh banyak penduduk dunia.
Orang pertama yang memperkenalkan buah alpukat kepada penduduk Eropa yaitu Martín Fernández de Enciso, salah seorang pemimpin pasukan Spanyol. Dia memperkenalkan buah ini pada tahun 1519 kepada orang-orang Eropa. Pada saat yang sama juga, para pasukan Spanyol yang menjajah Amerika Tengah juga memperkenalkan coklat, jagung dan kentang kepada masyarakat Eropa. Sejak itulah buah alpukat mulai disebar dan dikenal oleh banyak penduduk dunia Tanaman alpukat (Persea americana Mill) merupakan tanaman buah berupa pohon dengan nama alpuket Jawa Barat), alpokat (Jawa Timur/Jawa Tengah), boah pokat, jamboo pokat (Batak), advokat, jamboo mentega, jamboo pooan, pookat (Lampung) dan lain-lain. Diperkirakan masuk ke Indonesia pada abad ke-18. Secara resmi antara tahun 1920-1930 Indonesia telah mengintroduksi 20 varietas alpukat dari Amerika Tengah dan Amerika Serikat untuk memperoleh varietas-varietas unggul guna meningkatkan kesehatan dan gizi masyarakat, khususnya di daerah dataran tinggi.
Tanaman alpukat berakar tunggang atau dikotil serta memiliki batang yang berkayu, bulat warnanya coklat kotor banyak bercabang ranting berambut halus.tanaman alpukat ini berbentuk pohon kecil yang tingginya 5-10 m. Daun tunggal simetris, bertangkai yang panjangnya 1-1,5 cm, letaknya berdesakan di ujung ranting, bentuknya jorong sampai bundar telur atau ovalis memanjang, tebal seperti kertas, pangkal daun dan ujung daun meruncing (acuminatus), tepi rata (integer), kadang-kadang agak menggulung ke atas, permukaan daun gundul (glaber), pertulangan menyirip, panjang daun 10-20 cm, lebar 3-10 cm, daun muda warnanya kemerahan, daun tua warnanya hijau.
Dengan rumus daun 2/5, berarti 2 kali spiral genetika dengan melewati 5 daun. Daun No 1 tegak lurus dengan daun No 6 .Sudut divergensi daun adalah 2/5 x 360 derajat, jumlah garis ortostik adalah 5 buah.
Bunganya bunga majemuk berbentuk bintang, berkelamin dua, tersusun dalam malai yang keluar dekat ujung ranting, warnanya kuning kehijauan. Buahnya buah buni, bentuk bola atau bulat telur, panjang 10-20 cm, warnanya hijau atau hijau kekuningan, berbintik-bintik ungu atau ungu sama sekali, berbiji satu, daging buah jika sudah masak lunak, warnanya hijau kekuningan. Berat buahnya antara 0,3-0,4 kg. Kulit buah tebalnya 1 mm berwarna hijau tua saat matang. Daging buah berwarna kuning kehijauan dengan tebal sekitar 1,5 cm. Biji bulat seperti bola, diameter 2,5-5 cm, keping biji putih kemerahan. Setiap pohon dapat menghasilkan rata-rata 22 kg per tahun. Berdasarkan perkembangan dan posisi kotiledon pada saat perkecambahan, maka perkembangan biji alpukat merupakan tipe hipogeal (dalam perkecambahan kotiledon tetap berada di dalam tanah, hipokotilnya aktif bertambah panjang, sedangkan hipokotilnya pendek).
Habitat tanaman alpukat banyak tumbuh di daerah tropis dan subtropis yang banyak curah hujannya. Tanaman alpukat merupakan tanaman buah berupa pohon kecil. Pada umumnya tanaman alpukat dapat tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi, yaitu 5-1500 m dpl. Namun tanaman ini akan tumbuh subur dengan hasil yang memuaskan pada ketinggian 200-1000 m dpl. Alpukat berkembang biak dengan cara generatif (yaitu terjadinya peleburan sel sperma dan sel telur, dari bunga akan menjadi biji dan buah. Di dalam biji terdapat embrio atau calon individu baru yang merupakan hasil peleburan sel sperma dan sel telur. Karena terjadi pristiwa polinasi sehingga terbentuk buah dan biji). Dengan biji alpukat akan memperbanyak generasinya.


2.1.1 Tipe Ras-ras Alpukat

Berdasarkan sifat ekologis, tanaman alpukat terdiri dari 3 tipe keturunan/ras, yaitu:

1. Ras Meksiko

Berasal dari dataran tinggi Meksiko dan Equador beriklim semi tropis dengan ketinggian antara 2.400-2.800 m dpl. Ras ini mempunyai daun dan buahnya yang berbau adas. Masa berbunga sampai buah bisa dipanen lebih kurang 6 bulan. Buah kecil dengan berat 100-225 gram, bentuk jorong (oval), bertangkai pendek,
kulitnya tipis dan licin. Biji besar memenuhi rongga buah. Daging buah mempunyai kandungan minyak/lemak yang paling tinggi. Ras ini tahan terhadap suhu dingin.

2. Ras Guatemala
Berasal dari dataran tinggi Amerika Tengah beriklim sub tropis dengan ketinggian sekitar 800-2.400 m dpl. Ras ini kurang tahan terhadap suhu dingin (toleransi sampai -4,5 derajat C). Daunnya tidak berbau adas. Buah mempunyai ukuran yang cukup besar, berat berkisar antara 200-2.300 gram, kulit buah tebal, keras,
mudah rusak dan kasar (berbintil-bintil). Masak buah antara 9-12 bulan sesudah berbunga. Bijinya relatif berukuran kecil dan menempel erat dalam rongga, dengan kulit biji yang melekat. Daging buah mempunyai kandungan minyak yang sedang.

3. Ras Hindia Barat
Berasal dari dataran rendah Amerika Tengah dan Amerika Selatan yang beriklim tropis, dengan ketinggian di bawah 800 m dpl. Varietas ini sangat peka terhadap suhu rendah, dengan toleransi sampai minus 2 derajat C. Daunnya tidak berbau adas, warna daunnya lebih terang dibandingkan dengan kedua ras yang lain. Buahnya berukuran besar dengan berat antara 400-2.300 gram, tangkai pendek, kulit buah licin agak liat dan tebal. Buah masak 6-9 bulan sesudah berbunga. Biji besar dan sering lepas di dalam rongga, keping biji kasar. Kandungan minyak dari daging buahnya paling rendah.


Ras-ras alpukat yang lain :

ALPUKAT WINSLOWSON
Family Lauraceae

Deskripsi
Alpukat ini bobot buahnya terberat di antara semua jenis alpukat, mencapai 0,50 kg. Panjang buah 12 cm dan diameter buah 12 cm. Bentuk buah bulat tidak simetris. Bentuk ujung buah agak miring dan pangkalnya tidak berleher seperti jenis lainnya. Warna kulit buah bila matang hijau tua. Daging buah tebal, rata-rata 3 cm, dan berwarna kekuningan. Rasanya gurih agak manis. Bentuk biji gepeng dengan panjang 6 cm dan diameter 5 cm. Produksi buah per pohon per tahun mencapai 22,1 kg.

ALPUKAT MERAH BUNDAR
Family lauraceae

Deskripsi
Alpukat ini mudah sekali dibedakan dari jenis lainnya: warna kulit buahnya merah tua saat matang dan bentuknya agak bundar. Ujung buahnya tumpul, sedangkan pangkalnya meruncing. Panjang buah sekitar 11 cm dan lebarnya 8 cm dengan berat 0,29 kg. Jenis ini hanya menghasilkan buah sekitar 12,5 kg per pohon per tahun. Daging buah agak tebal, rata-rata sekitar 2 cm, dengan rasa gurih. Warna daging buah kuning. Bijinya berbentuk lonjong dengan panjang sekitar 5,5 cm dan diameter 4 cm.

ALPUKAT IJO PANJANG
Family Lauraceae

Deskripsi
Alpukat ini berbuah sepanjang tahun tergantung lokasi dan kesuburan tanah. Kerontokan buah sedikit. Berat buah antara 0,3-0,5 kg. Bentuknya seperti buah pear dengan ujung tumpul dan pangkal meruncing. Panjangnya 11,5-18 cm dan diameternya 6,5-10 cm. Tebal, kulit buah 1,5 mm berwarna hijau kemerahan dengan permukaan licin berbintik kuning. Daging buahnya tebal (sekitar 2 cm), bertekstur agak lunak, berwarna kuning, dan rasanya gurih. Bijinya berbentuk jorong dengan rata-rata panjang 5,5 cm dan diameter 4 cm. Produksi buah rata-rata 16,1 kg per pohon per tahun.

ALPUKAT IJO BUNDAR
Family Lauraceae

Deskripsi
Buah alpukat ini berbentuk lonjong dengan ujung bulat dan pangkal tumpul. Berat buahnya antara 0,3-0,4 kg. Panjang buah sekitar 9 cm dengan diameter 7,5 cm. Kulit buah tebalnya 1 mm berwarna hijau tua saat matang. Permukaannya licin berbintik kuning. Daging buah berwarna kuning kehijauan dengan tebal sekitar 1,5 cm. Biji berbentuk jorong dengan panjang 5,5 cm dan diameter 4 cm. Setiap pohon dapat menghasilkan rata-rata 22 kg per tahun. Produksi buah terus menerus sepanjang tahun.

ALPUKAT FUERTE
Family Lauraceae

Deskripsi
Alpukat ini memiliki lapisan daging buah yang tebal, sekitar 2,5 cm. Rasanya gurih seperti jenis alpukat lainnya. Kulit buah yang sudah matang berwarna hijau tua dengan tekstur lunak dan permukaan licin. Bentuknya agak bulat dengan panjang 11 cm dan diameter 7,5 cm. Berat buah sekitar 0,25 kg dengan produksi rata-rata per pohon per tahun sekitar 45,1 kg. Bijinya berbentuk lonjong dengan panjang sekitar 5 cm dan diameter 4 cm. Walaupun sudah tua, buah alpukat jenis ini sulit jatuh dari pohon.

ALPUKAT BUTLER

Deskripsi
Alpukat ini tergolong besar. Bobot setiap buahnya mencapai 0,38 kg. Bentuknya bulat pendek dengan panjang sekitar 10,5 cm dan lebar 7,5 cm. Ujung buah membulat dan pangkalnya tumpul. Ketebalan daging buah sekitar 1,5 cm (untuk bagian yang terkecil) dan 3 cm (untuk bagian yang terbesar). Daging buah berwarna kuning, rasanya tidak begrtu gurih, teksturnya lunak, dan agak berserat. Bila matang, kulit buah berwarna hijau kekuningan. Bijinya rata-rata berukuran panjang 5,5 cm dan diameter 4 cm. Umur mulai berproduksi alpukat butler lebih pendek dibandingkan jenis lainnya. Rata-rata setiap pohonnya dapat bereproduksi sebanyak 14 kg per tahun.


2.1.2 Manfaat Alpukat
Manfaat dari tanaman alpukat, yaitu ;

1. Hampir setiap bagian dari pohon alpukat memiliki manfaat. Kayu pohon alpukat bermanfaat sebagai bahan bakar. Biji dan daunnya dapat digunakan dalam industri pakaian. Kulit pohonnya dapat digunakan untuk pewarna coklat pada produk yang terbuat dari kulit.
2. Dalam bidang kecantikan, buah alpukat juga sering digunakan sebagai masker wajah. Buah ini dianggap mampu membuat kulit lebih kencang. Buah alpukat juga bermanfaat untuk perawatan rambut misalnya sewaktu melakukan creambath.
3. Selain itu, sebagai buah, alpukat juga tentu bisa dinikmati sebagai hidangan yang lezat. Misalnya dipakai jus, Es buah dan berbagai hidangan disajikan dengan menambah alpukat sebagai bagian dari hidangan tersebut.
4. Buah alpukat matang enak dimakan segar, lebih lezat bila ditambah susu dan gula serta es gosok. Daunnya dapat dimanfaatkan untuk obat sakit pinggang. Batangnya baik untuk bahan bangunan. Bila digunakan untuk kayu bakar, energi batang alpukat rendah. Tanaman ini baik untuk konservasi lahan yang miring dan curam.


2.1.3 Klasifikasi Alpukat

Klasifikasi :

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Ranales
Famili : Lauraceae
Genus : Persea
Spesies : Persea americana Mill



2.2 Deskripsi Tanaman Aren

Aren (Arenga pinnata) termasuk suku Arecaceae (pinang-pinangan), merupakan tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae). Tanaman aren bisa dijumpai mulai dari pantai barat India, sampai ke sebelah selatan Cina dan kepulauan Guam. Habitat aren juga banyak terdapat di Filipina, Malaysia, Dataran Assam di India, Laos, Kamboja, Vietnam, Birma (Myanmar), Srilanka, dan Thailand (Lutony, 1993). Di Indonesia, tanaman aren banyak terdapat dan tersebar di seluruh wilayah nusantara, khususnya di daerah-daerah perbukitan yang lembab.
Enau atau aren (Arenga pinnata) adalah palma yang terpenting setelah kelapa (nyiur) karena merupakan tanaman serba guna. Tumbuhan ini dikenal dengan pelbagai nama seperti nau, hanau, peluluk, biluluk, kabung, juk atau ijuk (aneka nama lokal di Sumatra dan Semenanjung Malaya); kawung, taren (Sunda); akol, akel, akere, inru, indu (bahasa-bahasa di Sulawesi); moka, moke, tuwa, tuwak (di Nusa Tenggara), dan lain-lain.
Bangsa Belanda mengenalnya sebagai aren palm atau zuikerpalm dan bangsa Jerman menyebutnya zucker palme. Dalam bahasa Inggris disebut sugar palm atau Gomuti palm.
Tanaman aren merupakan tumbuhan berakar serabut atau monokotil. Palma yang besar dan tinggi ini, dapat mencapai 25 m. Aren merupakan model corner (pohon monokaul dengan pembungaan lateral, karena posisi bunganya lateral, maka meristem apikalnya tumbuh terus dengan batang yang tak bercabang). Berdiameter hingga 65 cm, batang pokoknya kukuh dan pada bagian atas diselimuti oleh serabut berwarna hitam yang dikenal sebagai ijuk, injuk, juk atau duk. Ijuk sebenarnya adalah bagian dari pelepah daun yang menyelubungi batang. Daunnya majemuk menyirip ganjil, seperti daun kelapa, panjang hingga 5 m dengan tangkai daun hingga 1,5 m. Anak daun seperti pita bergelombang, hingga 7 x 145 cm, berwarna hijau gelap di atas dan keputih-putihan oleh karena lapisan lilin di sisi bawahnya.
Daun tanaman aren pada tanaman bibit (sampai umur 3 tahun), bentuk daunnya belum menyirip (berbentuk kipas). Sedangkan daun tanaman aren yang sudah dewasa dan tua bersirip ganjil. Pohon, tegak, hijau kecoklatan. Berupa roset batang, berpelepah, anak daun bentuk lanset, menyirip, pangkal membulat, ujung runcing, tepi rata, tangkai pendek, hijau muda-tua. Berdasarkan urutan perkembangan anak daunnya, daun aren termasuk tipe divergen. Berkelamin tunggal, bentuk tongkol, diketiak daun : bunga jantan dan betina menyatu pada tongkol, daun kelopak tiga, bulat telur, benang sari banyak, kepala sari bentuk jarum, bunga betina bulat, bakal buah tiga, putik tiga, putih, mahkota berbagi tiga, kuning keputih-putihan.
Perbungaan berumah satu, tumbuh di antara ketiak daun, merunduk kadang-kadang lebih dari 2 m panjangnya, bunga betina ada di ujung dan bunga jantan tumbuh di bagian bawah batangnya. ; panjang tongkol hingga 2,5 m. Buahnya merupakan buah buni bentuk bulat peluru, dengan diameter sekitar 4 cm, beruang tiga dan berbiji tiga, tersusun dalam untaian seperti rantai. Setiap tandan mempunyai 10 tangkai atau lebih, dan setiap tangkai memiliki lebih kurang 50 butir buah berwarna hijau sampai coklat kekuningan. Buah ini tidak dapat dimakan langsung karena getahnya sangat gatal. Buah aren (dinamai beluluk, caruluk dan lain-lain) memiliki 2 atau 3 butir inti biji (endosperma) yang berwarna putih tersalut batok tipis yang keras. Buah yang muda intinya masih lunak dan agak bening. Buah muda dibakar atau direbus untuk mengeluarkan intinya, dan kemudian inti-inti biji itu direndam dalam air kapur beberapa hari untuk menghilangkan getahnya yang gatal dan beracun. Inti biji yang telah diolah itu, diperdagangkan di pasar sebagai buah atep (buah atap) atau kolang-kaling. Berdasarkan perkembangan dan posisi kotiledon pada saat perkecambahan, maka perkembangan biji aren merupakan tipe hipogeal (dalam perkecambahan kotiledon tetap berada di dalam tanah, hipokotilnya aktif bertambah panjang, sedangkan hipokotilnya pendek).
Buah aren terbentuk setelah terjadi penyerbukan dengan perantaraan angina atau serangga. Buah aren berbentuk bulat, berdiameter 2-3 cm, di dalamnya berisi biji 3 buah. Bagian dari buah aren terdiri dari :

1. Kulit luar, halus berwarna hijau pada waktu masih muda, dan menjadi kuning setelah tua (masak).
2. Daging buah, berwarna putih kekuning-kuningan.
3. Kulit biji, berwarna kuning dan tipis pada waktu masih muda, dan berwarna hitan yang keras setelah buah masak. Endosperm, berbentuk lonjong agak pipih berwarna putih agak bening dan lunak pada waktu buah masih muda; dan berwarna putih, padat atau agak keras pada waktu buah sudah masak.
4. Daging buah aren yang masih muda mengandung lendir yang sangat gatal jika mengenai kulit, karena lendir ini mengandung asam oksalat (H2C2O4). Tiap untaian buah panjangnya mencapai 1,5-1,8 m, dan tiap tongkol (tandan buah) terdapat 40-50 untaian buah. Tiap tandan terdapat banyak buah, beratnya mencapai 1-2,5 kuintal. Buah yang setengah masak dapat dibuat kolang kaling. Pada satu pohon aren sering didapati 2-5 tandan buah yang tumbuhnya agak serempak.

Tanaman aren sesungguhnya tidak membutuhkan kondisi tanah yang khusus, sehingga dapat tumbuh pada tanah-tanah liat (berlempung), berkapur, berpasir. Tetapi tanaman ini tidak tahan pada tanah yang kadar asamnya terlalu tinggi (pH tanah terlalu asam). Aren berkembang biak dengan cara generatif (yaitu terjadinya peleburan sel sperma dan sel telur, dari bunga akan menjadi biji dan buah. Di dalam biji terdapat embrio atau calon individu baru yang merupakan hasil peleburan sel sperma dan sel telur. Karena terjadi pristiwa polinasi sehingga terbentuk buah dan biji). Aren dapat dikembang biakkan secara generatif yaitu melalui bijinya.


2.2.1 Manfaat Aren
Manfaat tanaman aren, yaitu :

• 1. Buahnya (disebut beluluk atau kolang kaling) dapat dibuat manisan yang lezat atau campuran kolak, air nira (untuk bahan pembuatan gula merah dan cuka), pati atau tepung dalam batang dapat diolah menjadi sagu (untuk bahan pembuatan berbagai macam makanan atau minuman).
• 2. Ijuk di buat sapu, tali untuk mengikat kerbau, keset kaki, atap dan kuas cat, dan dapat digunakan juga sebagai atap rumah.
• 3. Tulang daunnya dibuat sapu lidi dan senik (tempat meletakkan kuali atau periuk)
• 4. Hampir semua bagian fisik pohon ini dapat dimanfaatkan, misalnya : akar (untuk obat tradisional dan peralatan), batang (untuk berbagai macam peralatan dan bangunan), daun muda atau janur (untuk pembungkus atau pengganti kertas rokok yang disebut dengan kawung).



2.2.2 Klasifikasi Aren
Klasifikasi :

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Spadicitlorae
Famili : Palmae
Genus : Arenga
Spesies : Arenga pinnata



2.3 Perbedaan Tumbuhan Dikotil dan Monokotil
(1). Perbedaannya ;

NO Bagian Tumbuhan Dikotil Monokotil
1 Bentuk akar Memiliki sistem akar tunggang Memiliki sistem akar serabut
2 Bentuk sumsum atau pola tulang daun Menyirip atau menjari Melengkung atau sejajar
3 Kaliptrogen / tudung akar Tidak terdapat ada tudung akar
Ada tudung akar / kaliptra
4 Jumlah keping biji atau kotiledon Ada dua buah keping biji satu buah keping biji saja
5 Kandungan akar dan batang Ada kambium Tidak terdapat kambium
6 Jumlah kelopak bunga Biasanya kelipatan empat atau lima Umumnya adalah kelipatan tiga
7 Pertumbuhan akar dan batang
Bisa tumbuh berkembang menjadi membesar Tidak bisa tumbuh berkembang menjadi membesar
8 Batang Bercabang, tidak beruas-ruas Tidak bercabang, tetapi berruas-ruas


(2). Manfaat mempelajari bentuk hidup suatu tumbuhan adalah kita dapat

mengklasifikasikan dan membandingkan struktur komunitas, misalnya; Struktur dikotil dan monokotil, jenis-jenis tumbuhan, dan manfaat dari pada tumbuhan tersebut bagi kehidupan manusia.




BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Dari penelitian yang penulis lakukan dapat disimpulkan:

1. Tanaman alpukat berakar tunggang atau dikotil serta memiliki batang yang berkayu, bulat warnanya coklat kotor banyak bercabang ranting berambut halus.tanaman alpukat ini berbentuk pohon kecil yang tingginya 5-10 m. Daun tunggal, bertangkai yang panjangnya 1-1,5 cm, letaknya berdesakan di ujung ranting, bentuknya jorong sampai bundar telur atau ovalis memanjang, tebal seperti kulit, pangkal daun dan ujung daun meruncing (acuminatus), tepi rata kadang-kadang agak menggulung ke atas, pertulangan menyirip, panjang 10-20 cm, lebar 3-10 cm, daun muda warnanya kemerahan dan berambut rapat, daun tua warnanya hijau dan gundul. Bunganya bunga majemuk berbentuk bintang, berkelamin dua, tersusun dalam malai yang keluar dekat ujung ranting, warnanya kuning kehijauan. Buahnya buah buni, bentuk bola atau bulat telur, panjang 10-20 cm, warnanya hijau atau hijau kekuningan, berbintik-bintik ungu atau ungu sama sekali, berbiji satu, daging buah jika sudah masak lunak, warnanya hijau kekuningan. Berat buahnya antara 0,3-0,4 kg. Kulit buah tebalnya 1 mm berwarna hijau tua saat matang. Daging buah berwarna kuning kehijauan dengan tebal sekitar 1,5 cm. Biji bulat seperti bola, diameter 2,5-5 cm, keping biji putih kemerahan. Setiap pohon dapat menghasilkan rata-rata 22 kg per tahun.

2. Tanaman aren merupakan tumbuhan berakar serabut atau monokotil. Palma yang besar dan tinggi ini, dapat mencapai 25 m. Berdiameter hingga 65 cm, batang pokoknya kukuh dan pada bagian atas diselimuti oleh serabut berwarna hitam yang dikenal sebagai ijuk, injuk, juk atau duk. Daun tanaman aren pada tanaman bibit (sampai umur 3 tahun), bentuk daunnya belum menyirip (berbentuk kipas). Sedangkan daun tanaman aren yang sudah dewasa dan tua bersirip ganjil. Pohon, tegak, hijau kecoklatan. Berupa roset batang, berpelepah, anak daun bentuk lanset, menyirip, pangkal membulat, ujung runcing, tepi rata, tangkai pendek, hijau muda-tua berkelamin tunggal, bentuk tongkol, diketiak daun : bunga jantan dan betina menyatu pada tongkol, bunga kelopak tiga, bulat telur, benang sari banyak, kepala sari bentuk jarum, bunga betina bulat, bakal buah tiga, putik tiga, putih, mahkota berbagi tiga, kuning keputih-putihan. Berumah satu, bunga-bunga jantan terpisah dari bunga-bunga betina dalam tongkol yang berbeda yang muncul di ketiak daun; panjang tongkol hingga 2,5 m. Buahnya merupakan buah buni bentuk bulat peluru, dengan diameter sekitar 4 cm, beruang tiga dan berbiji tiga, tersusun dalam untaian seperti rantai. Setiap tandan mempunyai 10 tangkai atau lebih, dan setiap tangkai memiliki lebih kurang 50 butir buah berwarna hijau sampai coklat kekuningan. Buah ini tidak dapat dimakan langsung karena getahnya sangat gatal. Buah aren (dinamai beluluk, caruluk dan lain-lain) memiliki 2 atau 3 butir inti biji (endosperma) yang berwarna putih tersalut batok tipis yang keras. Biji aren yang sudah tua berwarna hitam.

3. Akar dikotil memiliki sistem akar tunggang dan monokotil memiliki sistem akar serabut. Pola tulang daun dikotil menyirip/menjari dan monokotil melengkung/sejajar. Dikotil memiliki tudung akar sedangkan monokotil tidak memiliki tudung akar. Keping biji dikotil berjumlah dua dan keping biji monokotil hanya satu saja. Dikotil mempunyai kambium sedangkan monokotil tidak memiliki kambium. Pertumbuhan akar dan batang pada dikotil bisa tumbuh membesar dan pada monokotil pertumbuhan akar dan batang tidak bisa tumbuh membesar. Batang pada dikotil bercabang-cabang dan tidak beruas-ruas sedangkan pada monokotil tidak bercabang , tetapi beruas-ruas.

4. Bahwa di dalam kita membaca buku juga harus mengerti dan memahami tentang struktur tanaman, yaitu; mulai dari akar, batang, daun, bunga, buah, biji, serta klasifikasinya. Kita bisa mengklasifikasikan semua jenis tanaman yang ada di muka bumi ini dan manfaatnya bagi kehidupan umat manusia.



3.2 SARAN-SARAN
3.2.1 Pembaca dapat menggunakan makalah ini untuk menambah pengetahuan tentang deskripsi tumbuhan..
3.2.2 Sehingga pembaca dapat memperluas pengetahuan mengenai deskripsi tumbuhan Alpukat dan Aren serta manfaatnya.
3.2.3 Agar kita mampu mengenal cara-cara mengklasifikasikan berbagai macam tumbuhan dan mendeskripsikannya.




DAFTAR PUSTAKA
Tjitrosoepomo, Gembong, 1985, Morfologi Tumbuhan, Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
Putu Budi Adnyana, Ida Bagus Putu Arnyana, 2000, Morfologi Tumbuhan, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Singaraja.
Hodson, R.W. (1950). "The avocado a gift from the middle Americas". Economic Botany, (4) hal. 253 Aviable at : http://toiusd.multiply.com/photos/album/31/persea_americana , accessed Januari 2010.
Indriani, Y. Hetty; Suminarsih, Emi (1997). "Alpukat". Jakarta: Penebar Swadaya. 96 hal. Aviable at : http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://myunusw.files.wordpress.com/2008/04/alpokat. , accessed Januari 2010.
Kalie, Moehd. Baga (1997). "Alpukat: budidaya dan pemanfaatannya". Yogyakarta: Kanisius. 112 hal Aviable at : http://triagrosukses.blogspot.com/ , accessed Januari 2010.
Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia, jil. 1. Yay. Sarana Wana Jaya, Jakarta. Hal. 447-455. Aviable at : http://id.wikipedia.org/wiki/Enau , accessed Januari 2010.
Steenis, CGGJ van. 1981. Flora, untuk sekolah di Indonesia. PT Pradnya Paramita, Jakarta. Hal. 139. Aviable at : http://x-jungle.blogspot.com/2008/05/aren-arenga-pinnata.html , accessed Januari 2010.
Mogea J, Seibert B, Smits W. 1991. Multipurpose palms: the sugar palm (Arenga pinnata (Wurmb) Merr.). Agroforestry Systems. 13:111-129. Aviable at : http://foragri.blogsome.com/lima-produk-andalan-dari-aren , accessed Januari 2010.
Aviable at : http://wapedia.mobi/id/Apokat , accessed Januari 2010

Diposkan oleh Yana P di 07:22
0 komentar

Senin, 25 Januari 2010

PRILAKU HEWAN

BAB I

PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah


Di Indonesia, sebaran populasi monyet ekor panjang [Macaca fascicularis (Raffles, 1821)] cukup luas, mulai dari kawasan bagian barat sampai ke Nusa Tenggara Timur, termasuk di kawasan Hutan Wisata Alam Monky Forest Ubud Bali. Kehidupan monyet ternyata memiliki nilai yang cukup tinggi bagi manusia, seperti antara lain memiliki nilai ekologi, estetika, rekreasi dan komersial. Indonesia termasuk salah satu negara pengeksport monyet terbesar di dunia. Berbagai manfaat sumber daya biologi ini dimanfaatkan, diantaranya yang terbesar untuk penelitian bidang farmasi dan kedokteran (farmacy and biomedical reseach).
Selain itu satwa liar ini juga bisa memberikan manfaat yang tidak kecil dalam kepariwisataan. Beberapa daerah tujuan wisata memiliki daya tarik disebabkan oleh adanya satwa liar monyet ekor panjang ini, seperti diantaranya daerah tujuan wisata Monky Forest di Bali, Nilai sumber daya hayati yang berupa satwa liar termasuk monyet ekor panjang, ternyata memiliki nilai yang tidak kecil, termasuk nilai yang dapat dihitung dan tidak dapat dihitung dengan ukuran nilai uang. Secara alami perilaku monyet ekor panjang dan satwa liar lainnya tidak meresahkan masyarakat, apabila mereka hidup pada habitat aslinya dan relatif tidak berdampingan dengan kehidupan masyarakat. Keadaan perilaku monyet ekor panjang mungkin mengalami perubahan tatkala kehidupan monyet pindah pada kawasan lain, atau berdampingan dengan kehidupan masyarakat, termasuk pada kawasan Hutan Wisata Alam ataupun di pelihara oleh masyarakat secara langsung.
Di samping itu prilaku monyet ekor panjang sangat menarik untuk kita ketahui, mulai dari prilaku makannya, prilaku adaptasinya, maupun prilaku reproduksinya. Karena monyet ekor panjang merupakan hewan mamalia yang mirip dengan manusia, sebab monyet ekor panjang memiliki kecerdasan yang cukup tinggi untuk dilatih sebagai hewan pembantu pekerjaan manusia.




1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, kami akan menyampaikan hal-hal yang berhubungan dengan monyet ekor panjang. Adapun masalah-masalah yang kami sampaikan adalah:
1. Bagaimana ciri-ciri ekor panjang ?
2. Bagaimana prilaku makan monyet ekor panjang ?
3. Bagaimana prilaku reproduksi monyet ekor panjang ?
4. Bagaimana peran ekologi, estetika, dan rekreasi monyet ekor panjang ?

1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui tentang monyet ekor panjang.
2. Untuk membahas mengenai prilaku-prilaku monyet ekor panjang.
3. Untuk melengkapi tugas dalam mata kuliah Ekologi II di IKIP Saraswati Tabanan.






















BAB II

PEMBAHASAN



2.1 CIRI-CIRI MONYET EKOR PANJANG
Monyet ekor panjang biasanya memiliki tubuh yang hampir diseluruh bagian tubuhnya ditutupi oleh rambut yang berwarna abu-abu kecoklatan, dengan bagian ventral berwarna putih. matanya berwarna coklat, ukuran kepalanya lebih kecil dari pada ukuran tubuhnya, jari-jari tangannya berjumlah lima yang hampir sama dengan bentuk jari-jari pada manusia. Memiliki ekor yang panjang sebagai ciri khasnya diantara hewan mamalia yang lain. Monyet ini mempunyai pipi yang khusus seperti kantung, yang memungkinkannya menimbun makanannya. Bahan makanan yang sudah dikumpulkan akan dimakannya belakangan di daerah yang sama. Monyet biasanya hidup berkelompok, dengan kepala kelompoknya adalah monyet jantan yang besar.
Monyet ekor panjang dapat diketahui dari Klasifikasi berikut :
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mamalia
Ordo : Primata
Famili : Cercopithecidae
Genus : Macaca
Spesies : Macaca fascicularis
Macaca. fascicularis termasuk dalam famili Cercopithecidae, berarti termasuk jenis monyet.

2.2 HABITAT MONYET EKOR PANJANG
Monyet ekor panjang merupakah salah satu primata yang mempunyai habitat cukup luas. Mereka dapat ditemukan dari wilayah India sampai daerah Asia Tenggara. Monyet ekor panjang adalah binatang siang (diurnal) yang hidup di pohon-pohon maupun di permukaan tanah. Mereka dengan mudah dapat ditemui dari tepi pantai, pinggiran sungai, hutan pegunungan sampai dengan ketinggian 2500 meter. Satwa ini juga dapat dijumpai di perkebunan dan pemukiman penduduk. Hidup secara berkelompok yang dipimpin oleh monyet jantan dewasa. Mereka hidup dalam kelompok yang berjumlah 20-60ekor.
Monyet ekor panjang yang hidup di tempat yang sangat kering dan terbuka, dapat pula ditemukan di padang rumput, di hutan-hutan dan wilayah pegunungan hingga ketinggian 2.500 meter di atas permukaan laut. Monyet ekor panjang adalah perenang yang baik dan dikabarkan senang berenang. Monyet ini terkenal karena kecenderungannya untuk pindah dari daerah pedesaan ke perkotaan, dan hidup dari pemberian atau makanan-makanan yang dibuang oleh manusia. Ia dijadikan binatang peliharaan di beberapa tempat, dan ada juga yang ditangkarkan.


2.3 PRILAKU MAKAN MONYET EKOR PANJANG
Prilaku makan monyet memang mirip manusia, tidak heran karena binatang mamalia ini merupakan kerabat terdekat manusia. Umumnya monyet ekor panjang adalah omnivora dan memakan daun-daunan, buah-buahan, akar-akaran, kulit kayu, umbi dan serangga. terkadang mereka juga menyerang sarang burung untuk di ambil telurnya dan kadang juga mereka memakan kodok kecil serta katak pohon. Terkadang mereka lebih senang hidup di daerah pantai untuk menghabiskan waktunya sembari mencari kepiting dan invertebrata pantai lainya, dan kadang-kadang serangga atau binatang-binatang kecil, dan monyet juga bisa makan makanan yang biasa dimakan oleh manusia. Biasanya monyet akan mencari makan jika dia merasa kelaparan.
Dengan diiming-imingi sebungkus kacang atau makanan ringan lainnya, kelompok monyet yang biasanya banyak menghabiskan waktu diatas pohon mulai berani turun dan mendekati manusia untuk mendapatkan beberapa cuil makanan. Lambat laun merekapun mulai terbiasa kesana-kemari di daratan sambil menunggu jatah makanan dari pengunjung. Bahkan tidak aneh jika melihat ada orang datang sambil membawa tas atau kantung, gerombolan monyet itu akan segera menyambutnya. Tentu saja hal itu menjadi hiburan tersendiri. Sehingga sebelum masuk, biasanya pelancong sering disarankan untuk membawa sekedar oleh-oleh untuk si ekor panjang.
Sedangkan monyet yang tinggal di pedalaman umumnya lebih pemalu dan banyak menghabiskan waktu diatas pohon. Selain itu warna rambutnyapun terlihat lebih bule.


2.4 ADAPTASI TERHADAP LINGKUNGAN

Monyet memiliki ekor yang panjang yang digunakan sebagai alat untuk bergelantung di atas pohon apabila sedang mengambil makanan yang letaknya jauh dari jangkauan tangannya. Monyet ekor panjang memiliki gigi taring yang tajam, sebagai alat untuk mengupas makanan yang keras, misalnya buah kelapa. Karena monyet ekor panjang di daerah hutan di pedalaman lebih banyak menggunakan waktunya di atas pohon untuk beraktifitas baik itu makan, tidur, maupun aktivitas yang lainnya. Panjang ekor hampir sama dengan panjang tubuh sekitar 40-65 cm.




2.5 PRILAKU MONYET BERTAHAN HIDUP

Prilaku monyet memang mirip manusia, tidak heran karena binatang mamalia ini merupakan kerabat terdekat manusia. Salah satu kemiripannya adalah cara hidupnya yang selalu berkelompok dalam kawasan tertentu. Umumnya monyet masih banyak dijumpai diwilayah hutan maupun pegunungan dengan populasi yang relatif stabil. Monyet pun terkadang menjadi hama bagi petani yang memiliki ladang di wilayah perbatasan habitatnya. Peranjahan tersebut terjadi manakala sumber makanan dihutan mulai berkurang disebabkan antara lain semakin sempitnya wilayah tempat tinggal mereka akibat perambahan hutan. Adapun prilaku monyet ekor panjang untuk mempertahankan hidupnya, sebagai berikut :
§ Monyet akan lari kemudian meloncat naik ke pohon apabila mereka terancam oleh serangan binatang lainnya. Atau monyet akan menerkam binatang yang membahayakan dirinya.
§ Biasanya monyet jantan yang besar sebagai ketua kelompok akan berkelahi antar ketua kelompok monyet yang lain untuk mempertahankan wilayahnya.
§ Monyet akan mendekap dan menggendong anaknya terus naik ke atas pohon, apabila ada bahaya mengancam.






Adapun prilaku monyet yang lainnya, yaitu :
§ Monyet berwatak semau gue dan berlagak pilon. Seekor monyet jika sudah mendapatkan makanan di tangannya, ia tak peduli lagi pada monyet-monyet lain di sekitarnya.
§ Monyet tidak bisa diam. Seekor monyet tangan dan kakinya akan senantiasa bergerak walau sekedar menggaruk-garuk kepala.
§ Monyet pandai berakting. Jika monyet berakting di sirkus semua anak kecil senang, artinya monyet hanya pantas dijadikan penghibur bagi anak-anak kecil.
§ Monyet sangat rakus. Seekor monyet, ketika ada kesempatan mengambil makanan, segera ia penuhi tangan kanan dan kirinya, bahkan kedua kakinya.



2.6 PRILAKU MONYET MEMELIHARA ANAK
Monyet betina yang dewasa dan telah melahirkan anaknya akan selalu menggendong anaknya, walaupun pada saat-saat mereka memperebutkan makanan antar temannya maupun kelompok monyet yang lain. Anak monyet yang masih kecil memiliki rambut yang berwarna agak kehitaman dengan ukuran tubuh yang mungil. Berat bayi monyet kurang dari 1 kg, tetapi selama gendongan induknya, bayi monyet sudah bisa mencengkram induknya dengan kuat. Pada waktu induk monyet tersebut berjalan ataupun memperebutkan makanan dia tidak memegang anaknya, tetapi justru sebaliknya anaknya yang mencengkram induknya dengan sangat kuat sambil menghisap susu induknya.




2.7 PRILAKU REPRODUKSI MONYET
Perkawinan tidak terbatas pada musi-musim tertentu. Kehamilan berlangsung antara 135-194 hari. Monyet betina menjadi dewasa pada usia tiga tahun, sementara monyet jantan pada usia empat tahun. Jangka hidup monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di penangkaran kira-kira 15-20 tahun untuk monyet jantan dan 20-25 tahun untuk monyet betina. Monyet-monyet ini jarang hidup lebih dari 15 tahun di alam bebas.
Seperti semua monyet lainnya, gerombolan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) terdiri atas campuran jantan dan betina. Gerombolan ini dapat terdiri hingga 180 ekor monyet, tetapi rata-rata jumlahnya 20 ekor. Monyet betina dapat lebih banyak jumlahnya dibandingkan monyet jantan dengan rasio 4:1. Hierarki sosialnya juga bersifat matriarkal, peringkatnya tergantung pada jantan yang memimpin. Pemeliharaan atas monyet-monyet muda dan tugas-tugas pengawasan wilayah dibagi di antara rombongan. Sementara monyet-monyet betina biasanya hidup damai, yang jantan biasanya sering ribut di antara mereka sendiri. Adapun prilaku reproduksi monyet antara lain :
n Monyet bereproduksi dengan cara kawin. Monyet jantan akan merayu monyet betina, setelah ada kecocokan, maka monyet jantan akan menjilati vagina monyet betina dan setelah itu baru terjadi perkawinan.
n Monyet akan melahirkan anak karena monyet merupakan hewan mamalia.


2.8 PERAN EKOLOGIS, ESTETIKA, DAN REKREASI MONYET EKOR PANJANG

(1). Peran ekologis monyet ekor panjang, yaitu :
• Secara ekologis, monyet ini merupakan pemencar biji tanaman buah yang dikonsumsinya. Hal ini sangat penting bagi konservasi jenis tumbuhan di habitatnya. Selain itu, monyet ini juga sebagai pemakan serangga yang sekaligus sebagai pengendali populasi serangga tersebut.

(2). Peran estetika monyet ekor panjang, yaitu:
Beberapa monyet ekor panjang ditangkap dari daerah hutan untuk dilatih sebagai topengn monyet. Hal ini dilakukan untuk menghibur umat manusia yang ada di muka bumi ini. Prilaku permainan dalam topeng monyet merupakan prilaku terajar, sebab perilaku tersebut sengaja diajarkan kepada monyet untuk bisa bermain guna menghibur orang-orang. Misalnya prilaku untuk menaiki sepeda, mengenakan helm, memikul keranjang dan sebagainya.




(3). Peran rekreasi monyet ekor panjang, yaitu :
Monyet ekor panjang yang dipindahkan dari hutan untuk ditangkarkan di daerah perkotaan yang dipakai sebagai objek wisata yang sering kita kenal sebagai objek wisata alam. Bebrapa gerombolan monyet yang ada di suatu tenpat yang dekat dengan pemukiman penduduk dilestarikan habitatnya untuk objek wisata.
Bisnis monyet orang Bali dapat ditemukan di Monkey Forest di Ubud, Di tempat-tempat suci monyet ini, Bali bekerja bergandengan tangan dengan monyet-monyet untuk melestarikan hutan di sekitarnya, mempertahankan kuil hutan, memberikan pendapatan bagi desa, pekerjaan bagi penduduk desa dan perlindungan terhadap monyet.












BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Dari permasalahan yang penulis angkat dapat disimpulkan:
1. Bahwa di dalam kita membaca buku juga harus mengerti dan memahami tentang ciri-ciri monyet, habitatnya, prilaku makan, prilaku bertahan hidupnya, prilaku perkembangbiakannya, dan peran monyet dalam kehidupan di alam, baik peran ekologinya, estetika, rekreasi dan komersial monyet ekor panjang.

2. Pada dasarnya kita di ajak untuk peduli dengan lingkungan, dengan tetap menjaga kelestarian alam, dengan menjaga dan memelihara hewan yang sangat bermanfaat bagi kehidupan umat manusia di muka bumi ini.

3.2 SARAN-SARAN

3.2.1 Pembaca dapat menggunakan makalah ini untuk menambah pengetahuan tentang monyet ekor panjang.
3.2.2 Sehingga pembaca dapat memperluas pengetahuannya mengenai prilaku-prilaku monyet ekor panjang..
3.2.3 Agar kita mampu melestarikan hewan yang sangat berperan dalam menjaga kelestarian alam ini agar jangan sampai punah.










DAFTAR PUSTAKA

Aviable at : http://www.unsjournals.com/D/D0904/D090413DjuwanMacacxxxa.pdf. accessed Oktober 2009.

Aviable at : http://www.kompas.com/read/xml/2008/06/03/02021412/monyet.ekor.panjang. accessed Oktober 2009.

Aviable at : http://nothe84.blogspot.com/2009/04/monyet-ekor-panjang-macaca-fascicuralis.html . accessed Oktober 2009.

Diposkan oleh Yana P di 02:08
0 komentar

PENGGANTI MAKANAN POKOK

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
Setiap makhluk hidup membutuhkan makanan. Tanpa makanan, makhluk hidup akan sulit dalam mengerjakan aktivitas sehari-harinya. Makanan dapat membantu kita dalam mendapatkan energi, membantu pertumbuhan badan dan otak. Memakan makanan yang bergizi akan membantu pertumbuhan kita, baik otak maupun badan. Setiap makanan mempunyai kandungan gizi yang berbeda. Protein, karbohidrat, lemak, dan lain-lain adalah salah satu contoh gizi yang akan kita dapatkan dari makanan.
Setiap jenis gizi yang kita dapatkan mempunyai fungsi yang berbeda. Karbohidrat merupakan sumber tenaga yang kita dapatkan sehari-hari. Salah satu contoh makanan yang mengandung karbohidrat adalah nasi. Protein digunakan oleh tubuh untuk membantu pertumbuhan kita, baik otak maupun tubuh kita. Lemak digunakan oleh tubuh kita sebagai cadangan makanan dan sebagai cadangan energi. Lemak akan digunakan saat tubuh kekurangan karbohidrat, dan lemak akan memecah menjadi glukosa yang sangat berguna bagi tubuh kita saat kita membutuhkan energi.
Akhir-akhir ini banyak muncul di berbagai mass media bahwa harga beras mengalami kenaikan cukup tinggi sehingga untuk masyarakat yang berpenghasilan rendah tidak mampu untuk membeli beras sebagai bahan pangan pokok tersebut. Kenaikan harga beras tersebut antara lain disebabkan kurangnya pasokan akibat mundurnya musim tanam dan pertumbuhan penduduk tidak seimbang dengan pertumbuhan produksi padi. Kebutuhan beras sebagai bahan pangan pokok terus mengalami peningkatan sejalan dengan pertambahan penduduk, disamping disamping ada masyarakat yang semula makanan pokoknya non beras beralih ke beras. Di lain pihak, lahan sawah terus mengalami penurunan sejalan terjadinya alih fungsi lahan ke non pertanian seperti untuk perumahan dan industri.
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras sebagai sumber karbohidrat perlu dicari bahan pangan lain sebagai sumber karbohidrat alternatif.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun masalah yang dapat penulis rumuskan dari latar belakang diatas yaitu:
1. Apa saja yang termasuk makanan pokok orang Indonesia ?
2. Apakah Beras merupakan sumber protein ?
3. Apa saja sumber makanan pengganti beras ?
4. Bagaimanakah ketersediaan beras di Indonesia ?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini yaitu:
1.3.1 Tujuan Umum
1. Untuk mengetahui macam-macam makanan pokok.
2. Untuk mengetahui tentang sumber pengganti beras.
3. Untuk mengetahui tentang ketersediaan beras di Indonesia.
1.3.2 Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penulisan makalah ini tidak lain adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah kuliah Dasar-dasar & Proses Pembelajaran Biologi II, selain itu guna menambah pengetahuan mengenai makanan pokok orang Indonesia dan sumber-sumber pengganti makanan pokok yang tersedia di kepulauan Indonesia..





BAB II
PEMBAHASAN

2.1 MACAM - MACAM MAKANAN POKOK
Makanan pokok adalah makanan yang menjadi gizi dasar. Makanan pokok biasanya tidak menyediakan keseluruhan nutrisi yang dibutuhkan tubuh, oleh karenanya biasanya makanan pokok dilengkapi dengan lauk pauk untuk mencukupkan kebutuhan nutrisi seseorang dan mencegah kekurangan gizi. Makanan pokok berbeda-beda sesuai dengan keadaan tempat dan budaya, tetapi biasanya berasal dari tanaman, baik dari serealia seperti beras, gandum, jagung, maupun umbi-umbian seperti kentang, ubi jalar, talas dan singkong. Roti, mi (atau pasta), nasi, bubur, dan sagu dibuat dari sumber-sumber tersebut.
Kami pemakan nasi bukan pemakan gandum dan produk olahannya, atau yang lainnya. Itu karena saya lahir dan dibesarkan di Pulau Dewi Sri di Indonesia. Jadi, makanan pokok kebanyakan orang di lingkungan kami adalah nasi dari beras yang diolah dari gabah yang dipanen dari tanaman padi. Di tempat berbeda bisa jadi makanan pokoknya berbeda pula. Di beberapa daerah kering di Jawa dan Nusa Tenggara, ada yang menjadikan jagung sebagai makanan pokok. Ada pula yang menjadikan olahan singkong sebagai makanan pokok. Di Indonesia Timur lainnya, ada pula yang makanan pokoknya papeda -semacam bubur- yang merupakan olahan tepung sagu. Ada pula yang makan ubi sebagai makanan pokoknya.
Di belahan dunia yang lain, banyak yang menggunakan olahan gandum misalnya roti atau mie sebagai makanan pokok. Di beberapa wilayah di Afrika, makanan pokoknya adalah fufu dan akpu, yang merupakan olahan dari singkong. Ada pula yang memakan semovita dari tepung beras.
Untuk lebih mengetahui tentang hasil petanian tanaman pangan yang merupakan makanan pokok orang Indonesia, kita akan membahasnya satu persatu, yaitu;
2.1.1 BERAS
Padi (Oryza sativa sp.), adalah tanaman yang berasal dari Bangladesh. Dari tanaman padi dihasilkan beras, yang merupakan bahan makanan pokok sebagian besar rakyat Indonesia. Padi dapat tumbuh dengan baik di daerah panas dengan curah hujan yang tinggi dengan pengairan yang cukup. Daerah utama penghasil padi di Indonesia adalah Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara.

2.1.2 JAGUNG
Jagung (Zea mays), adalah jenis tanaman padi-padian yang berasal dari Amerika. Tanaman jagung sampai ke Indonesia dibawa oleh orang-orang Spanyol. Jagung dapat tumbuh di daerah tropis maupun daerah sub tropis. Jagung ditanam di ladang, tegalan dan sawah pada musim kemarau. Kadang-kadang jagung juga ditanam sebagai tanaman sela/tumpangsari di lahan perkebunan. Jagung tumbuh sangat baik di daerah berketinggian 0-1500 meter di atas permukaan air laut.
Jagung merupakan bahan makanan pokok bagi sebahagian penduduk Nusa Tenggara Timur, Madura, dan Minahasa. Biji jagung yang sudah masak berwarna kuning atau ungu. Butir jagung dapat dibuat tepung atau pati jagung, yang disebut Maizena. Tongkolnya yang sangat muda dapat dimakan sebagai lalap, sayur, atau acar.
Tanaman jagung yang masih muda juga sangat baik untuk makanan ternak. Daun pelindung tongkol yang sudah kering (kelobot) dapat digunakan untuk penggulung rokok atau pembungkus dodol.
2.1.3 KETELA POHON
Ketela pohon (Manihot asculenta atau Manihot utilissima), disebut juga ubi kayu atau singkong. Tanaman ini berasal dari Amerika Selatan. Ketela pohon banyak ditanam di lahan kering dengan jenis tanah yang gembur. Tanaman ini dapat hidup di daerah-daerah dengan musim kering yang lunak hingga sangat kering. Pada dataran rendah, ketela pohon banyak ditanam pada ketinggian 0-4500 meter di atas permukaan laut. Ketela pohon dimanfaatkan sebagai makanan pokok pengganti beras atau jagung, khususnya bagi penduduk di Kabupaten Gunung Kidul (Daerah Istimewa Yogyakarta).
Umbinya dapat dibuat tepung tapioka atau gaplek yang sebagian besar di ekspor ke Jepang. Selain itu umbinya dapat dibuat tape melalui proses peragian, tape di Jawa Barat dikenal dengan nama peuyeum. Daunnya yang masih muda dapat dimakan sebagai lalap dengan direbus terlebih dahulu, atau dijadikan sayur. Daerah penghasil ketela pohon di Indonesia adalah Jawa Timur, Lampung, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Utara.

2.1.4 UBI JALAR
Ubi jalar (Ipomoea batatas L.), adalah jenis tanaman semak yang berasal dari Hindia Barat. Tanaman ini sampai ke Indonesia dibawa oleh orang-orang Spanyol. Ubi jalar cocok ditanam di daerah ketinggian 0-2000 meter di atas permukaan air laut. Ubi jalar disebut juga ketela rambat. Umbinya dapat dimakan dan merupakan makanan pokok penduduk Papua Bagian Tengah. Bagi penduduk daerah lain di Indonesia, ubi jalar merupakan tambahan. Daunnya juga dapat dimakan sebagai sayuran.
Daerah utama penghasil ubi jalar di Indonesia adalah Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan.
Ubi jalar merupakan komoditas penting di Papua karena merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk di pedalaman, terutama di daerah pegunungan, selain sebagai makanan babi. Di beberapa lokasi, peran ubi jalar sangat strategis, baik dari aspek ekologi maupun sosial ekonomi. Hal ini karena peluang untuk mendapatkan komoditas substitusi ubi jalar sebagai bahan pangan relatif kecil. Selain ubi jalar, secara ekologis sangat sedikit tanaman pangan yang mampu beradaptasi dan berproduksi dengan baik dengan teknologi sederhana pada ketinggian 1.650−2.700 m dpl., seperti di kawasan lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya. Ubi jalar dapat tumbuh pada dataran rendah maupun dataran tinggi. Namun, hasil ubi jalar di dataran rendah (< 500 m dpl.) lebih tinggi daripada di dataran tinggi (> 900 m dpl.). Suhu udara yang dingin di dataran tinggi menyebabkan pertumbuhan tanaman ubi jalar kurang optimal.
Produksi ubi jalar di Papua dari tahun ke tahun cenderung menurun. Penurunan tersebut antara lain disebabkan makin berkurangnya luas panen. Namun, produksi tersebut masih jauh di atas tingkat konsumsi. Pada tahun 2007, produksi ubi jalar di Papua mencapai 101.710 ton, sementara konsumsi total hanya 31.125 ton dan konsumsi per kapita 38,36 g/hari. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan ubi jalar masyarakat Papua tercukupi oleh produksi lokal, dan bahkan lebih. Kelebihan produksi tersebut menjadi suatu tantangan untuk memanfaatkan ubi jalar menjadi aneka produk olahan yang memiliki daya saing tinggi. Pengembangan ubi jalar khususnya di Kabupaten Jayawijaya dibedakan antara untuk bahan pangan manusia dan pakan babi. Varietas ubi jalar untuk bahan pangan dibudidayakan dengan cara khusus, serta memiliki kadar pati tinggi dan rasa manis. Varietas dengan rasa umbi kurang enak dan kandungan seratnya tinggi, serta umbi yang kecil atau rusak digunakan untuk pakan babi. Terdapat puluhan bahkan ratusan jenis ubi jalar yang sesuai untuk konsumsi manusia dan dibudidayakan berdasarkan kondisi agroekosistem setempat.
2.1.5 TALAS
Talas (Colocasia esculenta), Talas merupakan makanan pokok penting di daerah Ayamaru dan Biak Barat. Rochani (1996) melaporkan, 64% masyarakat Ayamaru mengonsumsi talas sebagai makanan pokok. Meskipun masyarakat di daerah lain di Papua juga mengonsumsi talas, sifatnya hanya sebagai pangan alternatif. Beberapa puluh tahun yang lalu tanaman ini dominan di daerah perbatasan Indonesia-Papua Nugini, namun kini kedudukan talas mulai tergeser oleh ubi jalar. Produksi talas di Papua menurun drastis dari 3.739 ton pada tahun 2003 menjadi 689 ton pada tahun 2005. Namun, data Badan Bimas dan Ketahanan Pangan Provinsi Papua menunjukkan, pada tahun 2007 produksi talas Provinsi Papua mancapai 7.014 ton dengan total konsumsi 5.022 ton.
Hal ini menunjukkan bahwa produksi talas mencukupi kebutuhan untuk konsumsi masyarakat. Tanaman talas tersebar pada berbagai agroekosistem, mulai dari dataran rendah sampai tinggi dan dari lahan basah sampai lahan kering. Berdasarkan kesesuaian agroekosistem, dijumpai beragam kultivar talas. Genotipe talas di Papua sangat beragam dalam sifat morfologi, umur, dan potensi hasil. Pada umumnya sifat-sifat liar talas masih jelas terlihat bila dibandingkan dengan jenis talas yang diusahakan di Jawa. Beberapa kultivar berdaya hasil tinggi tersebut merupakan suatu potensi untuk mendapatkan verietas yang berdaya hasil tinggi dan memenuhi preferensi konsumen. Pada setiap agroekosistem di Papua ditemukan beberapa jenis talas dengan Bentuk daun Segitiga. Posisi daun Tegak, ujung Tegak, ujung menghadap ke bawah, warna helai daun Hijau kekuningan. Hijau Warna persimpangan petiol hijau ungu kuning warna utama tulang daun hijau kuning putih, pola tulang daun bentuk Y. Lapisan lilin daun tinggi, warna pelepah daun ungu kuning kehijauan.
2.1.6 SAGU
Sagu (Metroxylon sp.), merupakan bahan pangan utama bagi masyarakat Papua yang tinggal di daerah pesisir. Daerah pesisir yang berair atau rawa merupakan tempat tumbuh berbagai jenis sagu. Pohon sagu di Papua tumbuh secara alami tanpa tindakan budi daya dari penduduk setempat. Di Papua ditemukan 20 jenis sagu dan dapat dibagi ke dalam empat kelompok genetik. Terlepas dari perbedaan jumlah aksesi sagu yang dilaporkan, di Papua ditemukan berbagai jenis sagu dengan potensi hasil yang berbeda-beda. Penyebaran pohon sagu terbesar di Papua, baik jenis maupun luasannya, terdapat di Sentani, Kabupaten Jayapura. Hutan sagu umumnya tumbuh secara alami. Namun sebagian petani mulai menyadari pentingnya pelestarian hutan sagu sehingga mereka mulai melakukan kegiatan budi daya. Areal sagu di Provinsi Papua termasuk Papua Barat yang telah dimanfaatkan baru sekitar 14.000 ha, atau 0,34% dari potensi yang ada.
Dengan demikian, pemanfaatan sagu sebagai sumber pangan alternatif bagi penduduk maupun untuk kebutuhan industri sangat menjanjikan. Produksi sagu di Papua jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kebutuhan untuk konsumsi. Salah satu wilayah pusat pertumbuhan sagu alam di Papua terdapat di sekitar Danau Sentani Kabupaten Jayapura, dengan luas 4.000−5.000 ha. Pada wilayah ini ditemukan beberapa aksesi sagu yang memiliki produktivitas tinggi. Miyazaki (2004) melaporkan, beberapa aksesi sagu di Sentani menghasilkan pati cukup tinggi.
Sagu dikonsumsi sebagai menu sehari-hari dalam bentuk papeda basah maupun papeda kering/bungkus. Papeda basah adalah gelatin sagu dan dikonsumsi dengan dicampur kuah ikan dan sayuran. Papeda kering/bungkus adalah gelatin sagu yang dibungkus dengan daun fotofe (nama lokal), yaitu sejenis pisang-pisangan. Pembuatan papeda kering/bungkus biasanya dilakukan apabila penduduk hendak bepergian seperti berburu, karena lebih tahan disimpan dibandingkan dengan papeda basah. Pemanfaatan pangan lokal Papua sebagai sumber pangan alternatif disajikan pada. Pembuatan gelatin sagu dilakukan dengan mencampur tepung sagu dengan air mendidih sambil diaduk. Perbandingan antara tepung sagu dan air mendidih adalah 1 : 2, yaitu 1 kg pati sagu ditambahkan dengan air mendidih 2 liter. Dalam skala industri rumah tangga, terutama di perkotaan, sagu diolah menjadi aneka kue kering.

2.1.7 GEMBILI
Gembili (Dioscorea sp.), berbagai jenis gembili ditemukan di kebun petani di Papua. Spesies yang paling banyak adalah D. alata dan D. esculenta. Gembili biasanya ditanam dalam jumlah terbatas, meskipun penduduk sangat menyukainya. Hal ini disebabkan ketersediaan bibit terbatas dan umur panennya agak lama, yaitu 7−9 bulan. Gembili dikonsumsi dalam bentuk gembili rebus atau bakar, meskipun dapat pula diolah menjadi berbagai kue atau kolak gembili.
(Gambar . Pertumbuhan gembili di Merauke, Papua.)

Gembili belum dikembangkan sebagai industri rumah tangga, karena selain produksinya terbatas, pengetahuan petani dalam penganekaragaman produk gembili masih rendah.
Tanaman gembili tersebar di beberapa wilayah Papua, terutama di Merauke. Suku Kanum di Merauke sebagai salah satu sub suku Marind yang mendiami Taman Nasional Wasur mengonsumsi gembili secara turun-temurun sebagai makanan pokok. Namun saat musim paceklik atau belum memasuki masa panen gembili, penduduk melakukan kegiatan berburu dan sebagai pangan alternatifnya adalah sagu dan pisang. Sistem budi daya gembili sudah menyatu dengan kehidupan masyarakat suku Kanum karena mempunyai nilai budaya yang tinggi, yaitu sebagai mas kawin serta pelengkap pada upacara adat. Tanpa gembili, suku Kanum tidak dapat melaksanakan pernikahan.
Dengan demikian, budi daya gembili bagi suku Kanum merupakan suatu keharusan. Tingginya perhatian masyarakat suku Kanum terhadap gembili merupakan peluang sekaligus tantangan untuk mengembangkan gembili di masa mendatang. Masyarakat suku Kanum membudidayakan berbagai kultivar gembili, menamakan kultivar gembili berdasarkan karakter morfologi umbi. Sistem budi daya bergantung pada jenis gembili yang ditanam. Umumnya gembili dibudidayakan dengan menggunakan tajar dari bambu dengan tinggi 2,50−4 m. Untuk menjamin keberlanjutan konsumsi, gembili yang dipanen disimpan di suatu tempat dalam rumah kecil yang diberi nama keter meng. Rumah kecil tersebut terbuat dari bambu dan beratapkan kulit kayu bus (Melaleuca sp.) agar gembili terhindar dari sinar matahari langsung.

2.1.8 JAWAWUT
Jawawut (Setaria italica sp.) Jawawut merupakan sejenis tanaman serealia yang banyak dijumpai di Biak Numfor, dengan nama lokal pokem atau gandum Papua. Tanaman ini meliputi lima genera, yaitu Panicum, Setaria, Echinochloa, Pennisetum, dan Paspalum, semuanya termasuk dalam famili Paniceae. Jenis jawawut yang ditemukan di Papua termasuk spesies Setaria italica (pokem ekor macan) dan Pennicetum glaucum (pokem ekor kucing).
(Gambar. Pertumbuhan jawawut pada lahan kering di Biak Numfor, Papua.)

Dari spesies tersebut ditemukan berbagai warna. Menurut masyarakat Biak Numfor dalam Rumbrawer (2003), ada lima jenis jawawut yang dijumpai di Biak Numfor, yaitu pokem vesyek (jawawut cokelat), pokem verik (jawawut merah), pokem vepyoper (jawawut putih), pokem vepaisem (jawawut hitam), dan pokem venanyar (jawawut kuning).
Bagi penduduk Biak Numfor, jawawut telah lama dimanfaatkan sebagai bahan makanan pokok dan komoditas adat. Rumbrawer (2003) menyatakan bahwa orang Numfor telah berabad-abad menggantungkan hidupnya pada budi daya jawawut sebagai pangan pokok selain umbi-umbian dan kacang hijau. Selanjutnya dinyatakan bahwa orang Numfor adalah penanam, penghasil, distributor, dan konsumen jawawut maupun kacang hijau sejak dahulu kala. Jawawut atau gandum Papua memiliki keunggulan dibandingkan dengan jenis gandum lainnya. Jawawut mengandung karbohidrat lebih tinggi, yakni 74,16% dibanding gandum (Triticum sp.) yaitu 69%). Ini menunjukkan bahwa jawawut berpotensi sebagai sumber pangan fungsional, terutama sebagai sumber energi.
Jawawut berpotensi untuk dikembangkan dalam rangka memperkuat ketahanan pangan sebagai sumber karbohidrat pengganti beras. Jawawut memiliki keunggulan dibandingkan dengan tanaman sumber karbohidrat lain, seperti dapat tumbuh pada hampir semua jenis tanah termasuk tanah kurang subur, tahan kekeringan, mudah dibudidayakan, umur panen pendek, dan kegunaannya beragam. Petani umumnya menanam jawawut dengan sistem tambur benih secara langsung setelah lahan dibakar. Simanjuntak dan Ondikleuw (2004) melaporkan, hasil jawawut dengan cara tanam tambur benih secara langsung tanpa pemupukan lebih rendah dibandingkan dengan cara tanam pindah atau tambur benih secara larikan.


2.2 BERAS MERUPAKAN SUMBER PROTEIN

Sebagai bahan pangan pokok bagi sekitar 90 persen penduduk Indonesia, beras menyumbang antara 40-80 persen protein. Bagaimana dengan zat gizi lain?
Gabah tersusun dari 15-30 persen kulit luar (sekam), 4-5 persen kulit ari, 12-14 persen katul, 65-67 persen endosperm dan 2-3 persen lembaga. Lapisan katul paling banyak mengandung vitamin B1. Selain itu, katul juga mengandung protein, lemak, vitamin B2 dan niasin. Endosperm merupakan bagian utama butir beras. Komposisi utamanya adalah pati. Selain itu endosperm mengandung protein cukup banyak, serta selulosa, mineral dan vitamin dalam jumlah kecil.
Dalam pengertian sehari-hari yang dimaksud beras adalah gabah yang bagian kulitnya sudah dibuang dengan cara digiling dan disosoh menggunakan alat pengupas dan penggiling (huller) serta penyosoh (polisher). Gabah yang hanya terkupas bagian kulit luarnya (sekam), disebut beras pecah kulit (brown rice). Sedangkan beras pecah kulit yang seluruh atau sebagian dari kulit arinya telah dipisahkan dalam proses penyosohan, disebut beras giling (milled rice). Beras yang biasa dikonsumsi atau dijual di pasar adalah dalam bentuk beras giling.
Tujuan penggilingan dan penyosohan beras adalah untuk: (1). memisahkan sekam, kulit ari, katul dan lembaga dari endosperm beras, (2). meningkatkan derajat putih dan kilap beras, (3). menghilangkan kotoran dan benda asing, serta (4). sedapat mungkin meminimalisir terjadinya beras patah pada produk akhir. Tinggi-rendahnya tingkat penyosohan menentukan tingkat kehilangan zat-zat gizi. Proses penggilingan dan penyosohan yang baik akan menghasilkan butiran beras utuh (beras kepala) yang maksimal dan beras patah yang minimal. Proses penyosohan beras pecah kulit menghasilkan beras giling, dedak dan bekatul. Sebagian protein, lemak, vitamin dan mineral akan terbawa dalam dedak, sehingga kadar komponen-komponen tersebut dalam beras giling menurun.
Beras giling yang diperoleh berwarna putih karena telah terbebas dari bagian dedaknya yang berwarna coklat. Bagian dedak padi sekitar 5-7 persen dari berat beras pecah kulit. Makin tinggi derajat penyosohan dilakukan makin putih warna beras giling yang dihasilkan, namun makin miskin zat-zat gizi.

Komposisi Gizi :
Komposisi kimia beras berbeda-beda tergantung pada varietas dan cara pengolahannya. Selain sebagai sumber energi dan protein, beras juga mengandung berbagai unsur mineral dan vitamin. Sebagian besar karbohidrat beras adalah pati (85-90 persen), sebagian kecil pentosan, selulosa, hemiselulosa dan gula. Dengan demikian sifat fisikokimia beras terutama ditentukan oleh sifat fisikokimia patinya. Protein adalah komponen kedua terbesar beras setelah pati. Sebagian besar (80 persen) protein beras merupakan fraksi tidak larut dalam air, yang disebut protein glutelin. Sebagai bahan makanan pokok di Indonesia, beras dalam menu makanan masyarakat menyumbang sedikitnya 45 perse protein.
Beras pecah kulit rata-rata mengandung 8 persen protein, sedangkan beras giling mengandung 7 persen. Dibanding biji-bijian lainnya, kualitas protein beras lebih baik karena kandungan lisinnya lebih tinggi. Walaupun demikian lisin tetap merupakan asam amino pembatas yang utama (terkecil jumlahnya) dalam beras. Kandungan lemak beras pecah kulit adalah 1,9 persen, sedangkan pada beras giling hanya 0,7 persen. Itu berarti sekitar 80 persen lemak terdapat dalam dedak dan bekatul, yang terpisah dari beras giling saat penyosohan. Ditinjau dari segi keawetan beras, hal ini menguntungkan karena lemak mudah teroksidasi dan mengakibatkan bau tengik. Proses penyosohan juga mengurangi kadar mineral pada beras giling. Sebagian besar mineral terdapat pada bagian dedak dan hanya sekitar 28 persen yang tertinggal pada beras giling. Komposisi mineral bervariasi tergantung dari kondisi tanah dimana padi ditanam. Unsur mineral utama adalah fosfor, kalsium, magnesium dan besi.
Beras pecah kulit mengandung vitamin lebih besar daripada beras giling. Vitamin terkonsentrasi pada lapisan bekatul dan lembaga. Penyosohan menurunkan dengan drastis kadar vitamin B komplek sampai 50 persen atau lebih. Beras mengandung vitamin C dan D dalam jumlah yang sangat kecil ayau tidak sama sekali. Pulen da Pera sebagian besar butir beras terdiri dari karbohidrat jenis pati. Hampir 90 persen berat kering beras adalah pati yang terdapat dalam bentuk granula. Pati beras terbentuk oleh dua jenis molekul polisakarida, yang masing-masing merupakan polimer dari glukosa. Kedua molekul pembentuk pati tersebut adalah amilosa dan amilopektin. Citarasa dan mutu masak beras terutama ditentukan oleh kadar amilosa dan amilopektinnya. Berdasarkan kandungan amilosanya, beras dibagi menjadi empat golongan, yaitu ketan (2-9 persen), beras beramilosa rendah (9-20 persen), beras beramilosa sedang (20-25 persen) dan beras beramilosa tinggi (25-33 persen).


2.3 SUMBER MAKANAN PENGGANTI BERAS
Kebutuhan beras sebagai bahan pangan pokok terus mengalami peningkatan sejalan dengan pertambahan penduduk, disamping disamping ada masyarakat yang semula makanan pokoknya non beras beralih ke beras. Di lain pihak, lahan sawah terus mengalami penurunan sejalan terjadinya alih fungsi lahan ke non pertanian seperti untuk perumahan dan industri.
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras sebagai sumber karbohidrat perlu dicari bahan pangan lain sebagai sumber karbohidrat alternatif. Pisang sebagai salah satu komoditas yang dapat digunakan sebagai sumber karbohidrat alternatif karena memiliki kandungan karbohidrat dan kalori yang cukup tinggi.
2.3.1. PISANG
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras sebagai sumber karbohidrat perlu dicari bahan pangan lain sebagai sumber karbohidrat alternatif. Pisang sebagai salah satu komoditas yang dapat digunakan sebagai sumber karbohidrat alternatif karena memiliki kandungan karbohidrat dan kalori yang cukup tinggi. Kandungan gizi yang terdapat dalam setiap 100 gr buah pisang terdiri dari kalori 115 kalori, protein 1,2 gr, lemak 0,4 gr, karbohidrat 26,8 gr, serat 0,4 gr, kalsium 11 mg, posfor 43 mg, besi 1,2 mg, vitamin B 0,1 mg, vitamin C 2 mg, dan air 70,7 gr. Dengan komposisi tersebut, pisang dapat digunakan sebagai bahan pangan alternatif pengganti beras khususnya di daerah-daerah yang sering mengalami rawan pangan. Di beberapa daerah masyarakat mengkonsumsi pisang sebagai pengganti makanan pokok seperti di Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku.
Disamping itu pisang memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan komoditas lain yaitu :
1. Pisang dapat diusahakan pada berbagai type agroekosistem yang tersebar di seluruh nusantara.
2. Permintaan pasar cukup besar dan produksinya tersedia merata sepanjang tahun.
3. Memiliki bermacam varietas dengan berbagai kecocokan penggunaan.
4. Usahatani pisang mampu memberikan hasil waktu yang relatif singkat (1 – 2 tahun).
Disamping itu juga dapat dimanfaatkan sebagai tanaman penghijauan dan konservasi lahan karena tanaman pisang sangat baik dalam menahan air. Pisang sebagai salah satu komoditas unggulan saat ini masih tetap merupakan kontributor utama (34,5%) terhadap produksi buah nasional. Sejak tahun 2002 – 2006 produksi pisang cenderung mengalami peningkatan dengan rata-rata 4,3% pertahun. Produksi pisang pada tahun 2002 sebesar 4.384.384 ton naik menjadi 5.321.538 ton pada tahun 2006 (angka prognosa) dengan produktivitas dari 58,65 ton/ha menjadi 49,45 ton/ha.
Dengan cakupan sebaran sentar produksi yang sangat luas, maka lahan yang belum dimanfaatkan dan dapat digunakan sebagai areal penumbuhan sentra produksi pisang masih tersedia sangat luas. Tujuannya, yaitu; mengembangkan pisang sebagai sumber karbohidrat alternatif bagi keluarga dalam rangka diversifikasi pangan disamping sebagai sumber vitamin, terutama vitamin A dan C, mineral, kalsium dan zat mikro lainnya yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia.
2.3.2. SUKUN
Sukun (Artocarpus altilis), ditengah kelangkaan pangan dewasa ini, maka buah sukun dapat merupakan alternatif sumber karbohidrat, disamping itu salah satu komoditas buah yang mempunyai nilai ekonomis cukup tinggi karena dapat dijual dalam bentuk segar maupun olahan sebagai alternatif pangan pengganti beras. Pada daerah tertentu umumnya tanaman sukun ditanam pada lahan-lahan pekarangan rumah dengan pemilikan pohon antara 1-5 pohon per keluarga.
Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk Indonesia, maka permintaan terhadap pangan terutama beras, terus meningkat. Padahal sebagaimana dimaklumi upaya peningkatan produksi beras di tanah air tidak mudah untuk dilakukan karena sudah mengalami kejenuhan. Oleh karena itu, perlu adanya terobosan mencari bahan pangan alternatif pengganti beras. Salah satu bahan pangan yang direkomendasikan sebagai subsitusi beras adalah buah sukun karena mempunyai kandungan karbohidrat yang cukup tinggi.
Berdasarkan penelitian diketahui bahwa dari setiap 100 gram buah sukun segar mengandung 27,12 gram karbohidrat, 108 kalori, 17 mg kalsium, 29 mg vitamin-C, dan 490 mg kalium. Sedangkan dari setiap 100 gram sukun tua yang diolah menjadi tepung bisa menghasilkan energi sebanyak 302 kalori dan karbohidrat 78,9 gram. Dari kandungan kalori dan karbohidrat yang dihasilkan mendekati kandungan yang dimiliki beras yaitu 360 kalori dengan karbohidrat 78,9 gram.
. Sentra produksi sukun terbesar adalah Propinsi Jawa Barat sebesar 14.252 ton, Jawa Tengah sebanyak 13.063 ton, , Jawa Timur sebesar 6.400 ton, D.I Yogyakarta sebesar 6.577 ton, Kalimantan Timur sebesar 5.744 ton, Sumatera Selatan 4.321 ton, Lampung sebesar 3.458 ton, Sulawesi Selatan 3.266 ton, Nusa Tenggara Timur sebesar 1.156 ton, dan Jambi sebesar 1.921 ton.
Prospek agribisnis sukun masa mendatang sangat menjanjikan karena tanaman sukun tidak memerlukan pemeliharaan secara khusus dan dapat tumbuh subur pada kondisi ekologi yang beragam. Tanaman sukun dapat tumbuh pada pada dataran rendah sampai ketinggian 600 m dpl, tumbuh baik pada tanah liat berpasir. Tanaman sukun berproduksi setelah berumur 3–5 tahun setelah ditanam, dan dapat dipanen dua kali setahun. Panen pertama disebut dengan panen raya terjadi pada musim hujan yang jatuh pada bulan Januari-Februari, sedangkan panen kedua atau panen susulan pada musim kemarau jatuh pada bulan Juni-Juli.
Sejauh ini sukun lebih banyak dikonsumsi dalam bentuk pangan goreng-gorengan (keripik) namun, melihat potensi dan peluang pengembangan sukun yang demikian besar serta banyaknya manfaat yang dapat diperoleh dari tanaman dan buah sukun, maka sudah saatnya dicanangkan gerakan pemanfaatan buah sukun sebagai pengganti beras. Salah satu upaya yang dapat kita lakukan adalah dengan mengembangkan teknologi pengolahan pangan dari sukun, sehingga dapat menyajikan buah sukun dan hasil olahannya dalam menu makanan sehari – hari.



2.3.3 UBI ALABIO
Ubi Alabio merupakan sumber karbohidrat potensial yang dapat dijadikan bahan pangan alternatif untuk mengurangi konsumsi beras terus meningkat. Di samping sebagai bahan pokok, Ubi Alabio juga berpotensi dijadikan sebagai bahan industri rumah tangga (industri kecil) hingga industri besar. Alabio mungkin lebih dikenal sebagai nama ternak itik. Namun di Kalimantan Selatan, Alabio merupakan nama sejenis ubi lahan rawa. Masyarakat awam mengenalnya dengan sebutan ubi kelapa (Dioscorea alata L). Ubi Alabio, tanaman perdu merambat hingga mencapai 3-10 m, memiliki bentuk bulat dan bercabang, serta berwarna merah, ungu atau putih.
Biasanya masyarakat mengkonsumsi Ubi Alabio dengan cara dikukus atau direbus, dan digoreng. Ada pula yng mengolahnya menjadi sejenis makanan ala pizza, yang disebut "lempeng". Umbi yang berbentuk bulat dan bercabang ini memiliki warna merah, ungu atau putih. Sebagai bahan pangan, ubi alabio komposisinya cukup memadai. Selain sebagai sumber karbohidrat, juga mengandung Pati, protein, serat, bahkan gula.
Disamping dapat dikonsumsi melalui cara direbus dan digoreng, Ubi Alabio dapat diolah menjadi kripik. Tidak jauh berbeda seperti pembuatan kripik lainnya. Pembuatan kripik ini dapat dilakukan dengan sederhana, yaitu dikupas, diiris dan digoreng. Dapat juga setelah diiris dikukus lima menit, kemudian dijemur lalu dikeringanginkan agar tahan disimpan, baru kemudian digoreng. Untuk produk setengah jadi, Ubi Alabio dapat diolah menjadi sawut, berbentuk serpihan kering dengan kadar air sekitar 10%, sehingga tahan disimpan. Penggunaannya mudah. Cukup disiram dengan air panas, diaduk, kemudian dikukus sekitar 15 menit sampai lunak. Sawut dapat dikonsumsi pula dengan sayur dan lauk, atau dicampur dengan larutan gula merah. Sedangkan untuk pembuatan tepung adalah dengan cara menggiling sawut ubi yang berbentuk serpihan kering. Ubi ini juga berpotensi sebagai bahan baku industri seperti pati, roti, dan alkohol. Bahkan ubi alabio merah dapat dibuat sebagai bahan baku es krim.
Ubi Alabio dibudidayakan di lahan lebak dengan pola monokultur atau dapat ditumpangsarikan dengan tanaman jagung, cabe dan terong. Jenis ubi ini menuntut lahan yang gembur dan tidak terendam dengan air. Sehingga sebaiknya penanamannya dilakukan pada guludan atau surjan dan disaat air surut di musim kemarau. Bibit ubi berasal dari ubi yang dipotong-potong dari semua bagian yaitu pangkal, tengah dan ujung. Makin besar potongan, maka makin besar pula hasil ubi. Bibit disemai pada persemaian dan jika telah muncul tunas, baru ditanam di lahan. Umur panen sejak usia tanam adalah 5 bulan, ketika daun dan batang sudah mengering. Biasanya musim tanam antara bulan Mei-Juli dan panen pada bulan Oktober-Desember. Ubi Alabio sampai saat ini masih dibudidayakan secara tradisional sehingga hasilnya masih tergolong rendah yaitu berkisar 12-28 ton/ha. Padahal bila dibudidayakan dengan menerapkan teknologi usahatani, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit yang tepat, potensi hasil dapat mencapai 40-50 ton/ha.
2.3.4 UBI JALAR
Makanan pokok untuk masyarakat idealnya bersumber dari bahan baku lokal, agar biaya transportasinya dapat ditekan. Saat ini, masyarakat Indonesia yang hidup di daerah tropis dimana gandum sulit bisa tumbuh, menjadi pemakan mie dari gandum terbesar setelah RRC. Sebenarnya begitu banyak jenis umbi-umbian lainnya selain gandum yang bisa tumbuh dengan baik di Indonesia. Ubijalar merupakan salah satu dari 20 jenis pangan yang berfungsi sebagai sumber karbohidrat. Ubi jalar bisa menjadi salah satu alternatif untuk pengganti beras sebagai sumber karbohidrat.
Pilihan untuk mensosialisasikan ubi jalar, bukan pilihan tanpa alasan. (1) mempunyai produktivitas yang tinggi, sehingga menguntungkan untuk diusahakan. (2) mengandung zat gizi yang berpengaruh positif pada kesehatan (prebiotik, serat makanan dan antioksidan), serta (3) potensi penggunaannya cukup luas dan cocok untuk sumber alternatif pengganti beras. Produktivitas ubi jalar cukup tinggi dibandingkan dengan beras maupun ubi kayu. Ubi jalar dengan masa panen 4 bulan dapat berproduksi lebih dari 30 ton/ha, tergantung dari bibit, sifat tanah dan pemeliharaannya. Walaupun saat ini rata-rata produktivitas ubi jalar nasional baru mencapai 12 ton/ ha. Tetapi masih lebih besar, jika kita bandingkan dengan produktivitas gabah (+/-4.5 ton/ha) atau ubi kayu (+/-8 ton/ha), padahal masa panen lebih lama dari masa panen ubi jalar.
Penelitian mengenai ubi jalar pun kini semakin banyak dan berkembang, karena mempunyai kandungan gizi yang bermanfaat bagi kesehatan. Karbohidrat yang dikandung ubi jalar masuk dalam klasifikasi Low Glycemix Index (LGI, 54), artinya komoditi ini sangat cocok.
2.3.5 JAGUNG
Jagung (Zea mays) merupakan salah satu serealia yang strategis dan bernilai ekonomis serta mempunyai peluang untuk dikembangkan karena kedudukannya sebagai sumber utama karbohidrat dan protein setelah beras (Purwanto,2006). Senada dengan hal tersebut Zubachtirodin et al (2006) juga menambahkan dalam perekonomian nasional, jagung penyumbang terbesar kedua setelah padi dalam subsektor tanaman pangan. Jagung juga merupakan tanaman yang relatif lebih tahan terhadap kekurangan air daripada padi sehingga penanamannya dapat dilakukan setelah penanaman padi, yaitu pada musim kemarau.
Makanan pokok alternantif warga Madura, Nusa Tenggara bahkan juga warga Amerika Serikat ini juga kaya akan gizi. Tak heran bonggol berambut merah ini juga diminati anak-anak. Kandungan gizi dalam tiap biji jagung adalah: energi 150 kal, protein 1,6 g, lemak 0,6 g, kalsium 11 mg, dan karbohidrat 11,40 g.
Jagung memiliki potensi besar sebagai alternatif makanan pokok selain beras. Hal tersebut dikarenakan keterbatasan sumberdaya terutama lahan irigasi yang menjadi permasalahan pada produksi beras, relatif tidak terjadi pada jagung. Jagung dapat ditanam setelah masa penanaman padi yaitu pada musim kemarau sehingga produksi makanan pokok tetap berlangsung. Selain itu bila dilihat dari kandungan nutrisinya, jagung juga merupakan sumber karbohidrat yang baik.
Diversifikasi makanan pokok dengan jagung sebagai alternatif selain beras, harus diikuti dengan perancangan olahan jagung untuk meningkatkan penerimaan konsumen. Produk olahan yang sekiranya dapat mencakup beberapa aspek diatas adalah beras jagung.
Nasi jagung telah lama dikenal oleh masyarakat namun karena proses preparasi dari bentuk jagung pipil hingga nasi yang lama, meliputi proses penumbukan berulang serta penjemuran, maka penerimaannya sebagai bahan pangan pokok lebih rendah daripada nasi biasa. Rasa nasi jagung, serperti halnya nasi dari beras, dipengaruhi oleh kandungan amilosa. Makin rendah kandungan amilosa, rasa nasi jagung menjadi semakin pulen. Pati jagung normal mengandung 74-76% amilopektin dan 24-26% amilosa. Dengan kadar amilosa tersebut diharapkan nasi yang terbentuk dari beras jagung masih bersifat pulen dan tidak keras saat dingin karena kadar amilosa yang tidak terlalu tinggi.
Pengolahan jagung menjadi beras jagung menciptakan alternatif makanan pokok selain beras dengan sifat organoleptis yang hampir sama, rasa yang netral, dan waktu preparasi yang sama dengan nasi dari beras. Didukung dengan keunggulan kandungan nutrisi serta keinginan masyarakat untuk mencoba mengkonsumsi makanan yang baru, beras jagung memiliki potensi yang baik sebagai alternatif makanan pokok selain beras. Dengan demikian diharapkan beras jagung dapat mensukseskan program diversifikasi pangan pemerintah dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap beras sehingga menciptakan swasembada pangan dan ketahanan pangan dapat terwujud.
2.3.6 KETELA POHON
Nasi Uleng sebagai Makanan Pokok; Gaplek: Pilihan Pengganti Beras yang EkonomisNasi uleng merupakan salah satu bentuk olahan tiwul dan biasa dikonsumsi di Wonogiri. Bahan dasar tiwul adalah gaplek atau ketela pohon yang dikeringkan setelah kulitnya dihilangkan. Nasi uleng harganya relatif murah sehingga membiasakan mengkonsumsi nasi uleng berarti penghematan.
Gaplek adalah makanan pokok pengganti nasi (terutama di daerah Banjarnegara-Jawa Tengah), terbuat dari ketela pohon yang diolah secara tradisional sampai terbentuk butiran-butiran kecil seperti beras, dan disimpan sebagai cadangan paceklik.
2.4 KETERSEDIAAN BERAS DI INDONESIA
Pemerintah berdalih hampir seluruh rakyat Indonesia makanan pokoknya adalah beras, maka dianggap perlu untuk melakukan campur tangan terhadap harga beras dengan menetapkan harga minimum dan sekaligus menentukan patokan harga tertinggi. Adapun tujuan dari intervensi pemerintah tersebut adalah untuk menciptakan stabilitas politik sekaligus juga stabilitas harga beras dengan dalih demi kepentingan rakyat. Tetapi sebenarnya hanya kepentingan sisi kepentingan politik.
Penolakan keras terhadap impor beras yang disampaikan oleh beberapa kalangan, termasuk : petani padi, Gubernur, DPR, HKTI dan pengamat perberasan sejak penghujung tahun 2005 lalu menunjukkan adanya empati kepada petani dan merupakan hal yang amat positif dalam upaya melindungi kekuatan nilai tukar ekonomi petani. Dari segi kualitas, dibandingkan dengan total konsumsi beras yang mencapai hampir 31 juta ton per tahun, impor 110.000 ton sebenarnya merupakan jumlah yang relatif kecil, hanya 0,36% dari total kebutuhan beras nasional. Berkaitan dengan isu impor beras ini, banyak kalangan mempertanyakan tentang program perberasan nasional. Masih perlukah Indonesia mengimpor beras, mengapa tidak memprogramkan untuk mengekspor beras ?. Bukankah padi merupakan tanaman asli wilayah tropis yang dapat diproduksi sepanjang tahun di Indonesia ? Menapa negaranegara tetangga seperti Thailand, Vietnam dan Myanmar mampu mengkespor beras sedangkan Indonesia belum.
Sementara kelemahan pertanian di Indonesia pada umumnya masih terletak pada kelemahan penanganan pascapanen. Misalnya belum adanya teknologi yang merakyat untuk melakukan penyimpanan bahan pangan. Masih langkanya industri pengolahan sehingga beras yang saat ini dapat disimpan secara tradisional dalam jangka waktu yang lama masih dianggap sebagai produk unggulan.
Semakin merosotnya lahan-lahan produktif untuk pertanian padi memang juga menjadi dilema yang serius, sementara rakyat Indonesia yang sudah telanjur enak makan beras semakin bertambah. Kurangnya perhatian pemerintah pusat dan daerah terhadap petani juga turut menjadi pemicu akan alih fungsi lahan pertanian dan pindahnya tenaga kerja ke sektor lain yang dianggap dapat menjanjikan pendapatan yang lebih besar.
Dilema bagi petani, komponen-komponen produksi beras seperti pupuk, obat-obatan, bahan bakar atau suku cadang traktor, kenaikan upah pekerja, juga menjadi rintangan besar untuk meningkatkan kesejahteraannya, ditambah lagi kurangnya subsidi terhadap petani bahkan saat ini hampir tidak ada. Sehingga, kalaupun ada petani ingin melakukan diversifikasi terhadap lahannya terbentur keterbatasan modal, apalagi bunga bank juga tinggi.
Sebenarnya ada sumber daya lain yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan kalau sebagai negara kepulauan, kita punya daerah misalnya untuk menghasilkan jagung, kita punya daerah untuk menghasilkan ubi, komoditi perkebunan dan lain sebagainya, yang semuanya sangat lemah pada penanganan pascapanen dan teknologi pendukungnya.
Data luas lahan potensial untuk pertanian sawah menurut Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat) tersedia 10 juta ha. Potensi lahan tersebut harus dimanfaatkan agar rakyat Indonesia tidak lagi menderita busung lapar dan negara harus disibukkan urusan impor beras, padahal kalau mau sebenarnya Indonesia dapat mengekspor beras. Memproduksi beras bagi kebutuhan pangan untuk 223 juta orang memang tidak cukup hanya dengan perdebatan, tetapi perlu tindakan nyata, termasuk terutama gerakan mencetak sawah baru guna memberikan kesempatan kepada petani padi Indonesia untuk dapat swasembada beras secara berkelanjutan dan untuk mengekspor beras.
Janji-janji seorang politikus yang sekarang sedang berkuasa, yang dulunya semasa kampanye akan melakukan revitalisasi sektor pertanian hanyalah mimpi belaka dan akhirnya rakyat yang sudah telanjur terpesona hanya bisa gigit jari.


BAB III
PENUTUP
3.1 SIMPULAN
1. Dari permasalahan yang penulis angkat dapat disimpulkan:
1. Bahwa di dalam kita membaca buku juga harus mengerti dan memahami tentang sumber-sumber makanan pokok yang ada di alam atau khususnya yang ada di sekitar kita. Macam-macam makanan pokok yang ada di Indonesia, yaitu; Beras, Jagung, Ketela pohon, Ubi jalar, Talas, Sagu, Gembili, Jawawut, dan lain-lain.
2. Beras merupakan sumber protein, karena di dalam beras terkandung berbagai zat yang bisa menghasilkan energi bagi tubuh manusia untuk beraktivitas.
3. Adapun sumber-sumber pengganti beras, yaitu; Pisang, Sukun, Ubi Alabio, Ubi Jalar, Jagung, Ketela Pohon, dan lain-lain. Untuk saat ini ketersediaan beras di Indonesia hampir mencukupi, walaupun Indonesia masih mengimport beras dari luar.
4. Rakyat Indonesia sebagian besar makanan pokoknya beras, yaitu hampir 90%. Semakin merosotnya lahan-lahan produktif untuk pertanian, karena kurangnya perhatian pemerintah terhadap petani, komponen-komponen produksi beras harganya terus naik, kurangnya subsidi pemerintah terhadap petani, ini menjadi pemicu alih fungsi lahan pertanian. Sedangkan kebutuhan beras setiap tahun terus meningkat sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk, maka munculah keinginan untuk mencari sumber-sumber pangan pengganti beras yang harganya lebih terjangkau dari pada harga beras yang terus meroket. Kurangnya teknologi dalam bidang pertanian yang menyebabkan produksi beras merosot, yang mengakibatkan negara Indonesia harus mengimport beras meskipun hanya 0,36% dari total kebutuhan beras nasional.
3.2 SARAN-SARAN

3.2.1 Pembaca dapat menggunakan makalah ini untuk menambah pengetahuan tentang Makanan Pokok..
3.2.2 Sehingga pembaca dapat memperluas pengetahuannya mengenai macam-macam makanan pokok, sumber makanan pokok, pengganti makanan pokak dan ketersediaan makanan pokok di negara Indonesia.














DAFTAR PUSTAKA
Budi, I.M. 2003. Pemanfaatan gandum Papua (pokem) sebagai sumber pangan alternative untuk menunjang ketahanan pangan masyarakat Papua. Aviable at : http://andy.web.id/makanan-pokok.php. accessed Oktober 2009.

Rumawas, F. 2004. Ubi-ubian sebagai salah satu pangan spesifik lokal dan strategi pengembangannya di Provinsi Papua. . Aviable at : http://www.e-dukasi.net/mapok/mp_full.php?id=382&fname=materi03.html accessed Oktober 2009.

Limbongan, J., A. Hanafiah, dan M. Nggobe. 2005. Pengembangan Sagu Papua. Aviable at : http://www.pustaka-deptan.go.id/inovasi/kl08081.pdf. accessed Oktober 2009.

Ondikleuw, M., M.S. Lestari, Sudarsono, dan A.W. Rauf. 2008. Karakterisasi, Identifikasi, dan konservasi gembili di Papua.
Aviable at : http://hersynanda.blog.uns.ac.id/2009/04/19/diversifikasi-makanan-pokok-beras-jagung

. accessed Oktober 2009.

0 komentar on "MORFOLOGI TUMBUHAN"

Poskan Komentar

thanks for ur coming, comment pliiz !

By :
Free Blog Templates